.

STOP Kekerasan dalam keluarga CIPTAKAN SUASANA NYAMAN DALAM KELUARGA

Jumat, 28 September 2012

Ini Alasan Remaja Mudah Emosi & Terlibat Tawuran

SEPERTINYA pergaulan anak zaman sekarang makin tidak dapat dikendalikan. Emosi yang mudah terpancing menguasai diri mereka hingga dapat menimbulkan efek yang negatif. Salah satunya tawuran yang terjadi belakang ini. Mereka melakukannya tanpa ada alasan yang kuat. Lalu, apa penyebab remaja melakukan hal tersebut?

Menanggapi hal tersebut, Psikolog dan Dosen Muda Universitas Padjadjaran Bandung Fredrick Dermawan Purba mengatakan, ada banyak alasan hal itu dilakukan oleh para remaja. Hal itu karena mereka memasuki tahap peralihan dari anak ke masa dewasa, sehingga semua itu dapat berubah-ubah. Mulai dari perubahan fisik, biologis hormonal, perubahan kognitif, emosional, juga perubahan bagaimana relasinya di lingkungan sosial.

"Di satu sisi, tekanan dari lingkungan luar, seperti sekolah, teman, dan masyarakat itu sendiri yang mengambang di tengah-tengah diri mereka," tutur pria yang akrab disapa Bang Jeki ini saat dihubungi Okezone melalui BlackBerry Messenger, Kamis (27/9/2012).

Menurutnya, terlibat dalam tawuran itu dapat terjadi karena beberapa faktor. Yang pertama adalah faktor mengenai kematangan otak. Di bagian otak ada yang disebut amygdala, di mana merupakan bagian otak yang terlibat atau merupakan pusat dari proses informasi terkait dengan emosi. Jadi, ketika para remaja terstimulasi oleh emosi, amygdala yang bereaksi mengontrol diri mereka.

"Nah, selain amygdala, ada bagian otak di depan yang letaknya tepat di dahi kita, disebut prefontal korteks. Otak inilah yang tingkat kemampuan berpikirnya tinggi," tambahnya.

Lalu, apa hubungannya itu semua dengan perihal tawuran? Pria berkacamata dan ramah ini menuturkan bahwa amygdala itu matang terlebih dahulu dibandingkan pre-frontal cortex, yang artinya saat masuk dalam masa remaja secara biologis, pikiran mereka lebih mudah terstimulasi. Itulah alasannya jika terjadi sesuatu mereka langsung cepat bereaksi dan bertindak tanpa berpikir panjang. Hal ini karena pre-frontal cortex mereka yang belum matang.

"Itu salah satu penyebab remaja rentan melakukan tindakan-tindakan berisiko. Karena emosional mereka yang ditantang oleh lingkungan sekitarnya, hal itu yang membuat mereka bertindak tanpa memikirkan akibat dari tindakan mereka nantinya," tutupnya. (ina)
Sumber : http://lifestyle.okezone.com/read/2012/09/27/196/696051/ini-alasan-remaja-mudah-emosi-terlibat-tawuran

Selasa, 25 September 2012

Jika Anak Terlibat Konflik

Anak-anak sering berulah dengan alasan dasar yang kurang rasional. Terkadang, masalah kecil pun berubah menjadi pertempuran besar hingga membuat emosi orang tua memuncak. Berikut beberapa alasan pertempuran antar saudara kandung dan cara mengatasinya.
PENYEBAB
Perhatian .
Anak-anak selalu bersaing untuk mendapatkan perhatian orang tua. Para orangtua yang selalu sibuk, memicu tuntutan yang kian tinggi akan pemenuhan kebutuhan perhatian.
Seperti ketika orang tua memiliki bayi, banyak hal berubah akibat kedatangan anggota keluarga baru. Perubahan ini sulit diterima anak-anak dimana dirinya adalah pusat perhatian sebelumnya.
Begitu pula ketika fokus orang tua berpindah pada anak lain yang sakit atau berkebutuhan khusus. Apapun alasannya, anak-anak tak suka diabaikan. Mereka dapat bertindak diluar aturan dan berbuat nakal demi mendapatkan perhatian yang mereka inginkan.
Perhatian tersendiri
Anak-anak kerap membenci satu dengan lainnya karena merasa tidak mendapat cukup perhatian Anda. Apalagi jika Anda tak mampu mengalokasikan waktu khusus bagi mereka masing-masing.
Dan peluang pertengakaran kian terbuka lebar ketika anak mengetahui Anda pergi dengan saudaranya ke bioskop berdua saja. Jangan sepelekan, 10 hingga 15 menit perhatian yang Anda berikan pada yang lain, ini sama artinya Anda mengistimewakan anak yang lain.
Harus  Berbagi
Keluarga tak selalu memiliki kemampuan ekonomi dan sumber daya yang berlimpah. Mau tak mau, anak-anak harus belajar berbagi harta benda. Beberapa mainan atau barang favorit membuat anak bersikap keras terhadap yang lain.
Kepribadian unik
Anak sulung Anda mungkin adalah anak yang keras kepala, sedangkan si bungsu lebih tenang dan tertutup. Perbedaan temperamen juga berpeluang menyebabkan bentrokan. Begitu pula perbedaan gender.
Isu Keadilan
Anak-anak ibaratnya pengacara-pengacara kecil. Mereka selalu menuntut keadilan, kesetaraan dan berjuang atas keadilan menurut mereka.
Seorang adik dapat saja tidak terima dan melempar tantrum pada orang tua karena kakaknya mendapatkan sebuah hadiah. Seorang kakak bisa saja tidak terima harus mengalah dan selalu mengasuh adiknya. Merasa diperlakukan tak adil dan kecemburuan saudara dapat menyebabkan kebencian antar saudara.
MENANGANI
Apa yang harus Anda lakukan ketika anak-anak bertengkar? Bahkan teriakannya membuat Anda gila. Asalkan tak ada anak-anak yang terluka, jangan mencoba untuk berada di tengah argumen. Cobalah untuk membiarkan anak-anak Anda menyelesaikan masalah mereka sendiri. Turut campur tidak akan mengajarkan anak-anak menangani konflik, dan bisa membuat seolah-olah Anda mendukung satu anak yang lain (terutama jika Anda selalu menghukum anak yang sama).

Beberapa perbedaan perkelahian mudah dihadapo daripada yang lain. Ketika perkelahian antar saudara mencapai titik, di mana Anda tidak bisa lagi ikut campur, berikut adalah tips untuk menyelesaikan konflik:
Terpisah
Bawa anak-anak keluar dari perkelahian dan biarkan mereka mendingin di kamar. Terkadang yang dibutuhkan adalah sedikit ruang dan waktu untuk berjauhan satu sama lain.

Ajarkan negosiasi dan kompromi
Ajarkan anak-anak bagaimana menyelesaikan perselisihan dengan negosiasi. Pertama, minta mereka untuk berhenti berteriak dan mulai berkomunikasi. Berikan setiap anak berkesempatan menyuarakan keinginannya. Dengarkan, tapi jangan menghakimi. Cobalah untuk mengklarifikasi masalah, misal dengan mengatakan "Kedengarannya kakak benar-benar marah sama David yang sudah mengambil video game favoritmu". Lalu mintalah anak-anak menemukan solusi bagi semua orang.
Jika mereka tidak bisa memberi ide menyelesaikan masalah ini, perkenalkan solusi. Misalnya, jika anak-anak berebut mainan baru, Anda bisa memberi solusi jadwal untuk menetapkan kapan dan durasi bermain games.

Tegakkan Aturan
Pastikan semua anak-anak mematuhi aturan yang sama, seperti, tak boleh memukul, memanggil dengan julukan yang jelek, atau merusak properti masing-masing. Biarkan anak-anak mengatakan bagaimana aturan ditetapkan dan ditegakkan. Misal, mereka memutuskan hukuman memukul adalah kehilangan hak TV mereka semalam.
Biarkan anak-anak memainkan peran dalam proses pengambilan keputusan dan buat mereka merasa seperti memiliki sedikit kontrol atas kehidupan mereka. Ketika anak-anak mengikuti aturan, puji mereka untuk itu.

Jangan bermain favorit
Bahkan jika salah satu anak terus mendapatkan masalah sementara yang lainnya bak malaikat, jangan memihak atau membandingkan anak-anak Anda. Ini hanya akan membuat anak-anak saling membenci satu sama lain.
Memberikan perlakuan istimewa pada salah satu anak dapat melukai hubungan antara Anda dan anak.

Jangan membuat semuanya sama
Tidak kesetaraan sempurna dalam keluarga. Anak yang lebih tua pasti diizinkan melakukan beberapa hal yang adik-adiknya tidak bisa. Alih-alih memperlakukan anak secara sama, perlakukan anak sebagai individu yang unik dan khusus.

Beri anak-anak hak atas prifasinya
Berbagi adalah penting, tetapi anak-anak juga tidak boleh dipaksa berbagi segalanya. Semua anak punya sesuatu yang istimewa dan itu adalah miliknya sendiri.

Pertemuan keluarga
Adakan acara bersama seluruh anggota keluarga sekali seminggu. Beri setiap anggota keluarga kesempatan untuk mengungkapkan keluhan, dan jangan lupa sertakan acara mencari solusi bersama.

Berikan anak perhatian tersendiri
Hal ini dapat menghabiskan waktu bagi masing-masing anak, apalagi jika Anda memiliki keluarga besar. Namun salah satu alasan mengapa saudara saling membenci satu sama lain karena mereka merasa tidak mendapatkan cukup perhatian Anda.
Biarkan anak-anak tahu, Anda cukup menghargai setiap orang dengan memberi satu-satu waktu untuk setiap anak. Berikan hari-hari khusus, seperti, mengajak anak perempuanmu berbelanja atau anak lelakimu ke bioskop (hanya berdua). Atau sisihkan 10 sampai 15 menit waktu Anda setiap hari untuk mereka, ini juga bisa membuat anak merasa istimewa.

Ketika Telah Diluar Kendali
Normal bagi saudara untuk berkelahi dari waktu ke waktu. Namun ketika perkelahian mencapai titik dimana salah satu anak menjadi korban (fisik maupun emosional), semua perlu dihentikan. Memukul, menggigit, atau perilaku mengganggu lainnya adalah bentuk-bentuk kekerasan dalam persaudaraan. Anda perlu melangkah masuk di dalam perkelahian anak-anak.
Saat tak mampu menghentikan perkelahian, bicarakan dengan psikolog anak atau psikolog kesehatan mental untuk mendapatkan bantuan segera.
Sumber : http://www.tabloidnova.com/Nova/Keluarga/Anak/Jika-Anak-Terlibat-Konflik

Senin, 24 September 2012

Salah Ucap di Depan Anak

Hati-hati, jangan asal bicara dan bertindak di hadapan anak.
Anak adalah cerminan orangtua. Artinya, segala tingkah laku orangtua, apakah itu baik atau tidak, tanpa disadari bisa memengaruhi perkembangan dan membentuk perilaku anak di masa depan. Lantas, seperti apa kesalahan-kesalahan yang kerap dilakukan orangtua terhadap anaknya? Simak penjelasan Psikolog Anak dari Rumah Sakit Royal Progress , Fika Frahesti Yunita  berikut ini.
Berbohong
Banyak orangtua sengaja berbohong di hadapan anaknya dengan dalih “demi kebaikan” atau sekadar menghindari sesuatu. Misalnya, “Nanti kalau Ibu Ine datang, bilang Mama enggak ada di rumah, ya.” Tanpa disadari orangtua, hal ini bisa memberikan dampak negatif pada anak. Buah hati juga akan menganggap berbohong adalah hal yang wajar dan terbiasa berbohong untuk lepas dari tanggung jawab. “Toh, Mama juga melakukan itu, kok.”
Marah Tak Terkendali
Anak pertama kali belajar ekspresi senang, marah, atau sedih dari orangtuanya. Oleh karena itu, jangan menunjukkan atau mengekspresikan kemarahan secara berlebihan di hadapan anak.
“Takutnya, hal itu ditiru anak. Jadi sebisa mungkin, ketika Anda ingin marah, usahakan untuk mengendalikan ekspresi kemarahan saat berada di depan anak,” ujar Fika.
Orangtua juga harus mengajari anak mencari solusi untuk masalah tersebut. Misalnya, “Mama sedang kesal dengan Si Anu. Sepertinya Mama harus mencari cara agar dia tidak mengulangi kesalahannya lagi.” Begitu pula ketika Anda sedang sedih. Ekspresikan kesedihan sewajarnya saja. Anda tidak ingin, kan, Si Kecil mudah depresi karena terbiasa melihat orangtua yang bergelung dalam kesedihan saat menghadapi masalah?
Menjelekkan Pasangan
 “Ibu sebal sama Bapak. Lama sekali kalau dimintai tolong!” Hati-hati, ah! Kalimat negatif tentang ayah atau ibu dari anak-anak seperti ini bisa diserap oleh anak, lho. Anak juga bisa tumbuh tidak menghargai orangtuanya.
Mengumpat atau Berperilaku Kasar
Terbiasa berkata-kata kasar atau kotor, meski Anda sedang tak marah, secara tidak langsung akan mengajarkan anak untuk berperilaku agresif terhadap orang di sekitarnya.
Menyepelekan Sesuatu
Saat Anda sedang berbincang mengenai sebuah urusan dengan pasangan dan kebetulan anak Anda ada di tempat yang sama, tanpa sengaja Anda berkata, “Kamu kasih uang saja ke orang itu supaya urusannya cepat selesai.”
Tahukah Anda? Tanpa sadar Anda sedang mengajarkan anak menjadi pribadi yang menggampangkan segala sesuatu. Ucapan ini juga akan membuat anak selalu mencari jalan pintas untuk keluar dari masalah yang ia hadapi.
Mengambil Alih Tugas
Mungkin Anda sedang tidak sabar atau ingin urusan cepat selesai, maka Anda mengambil alih tugas anak atau menyuruh orang lain menyelesaikannya. “Ya sudah, biar Si Mbok nanti yang merapikan mainanmu. Sekarang kamu mandi saja sana.” Percayalah, nantinya anak Anda bakal melepas tanggung jawabnya dengan sesuka hati. Ia juga akan terus berharap atau menyuruh orang lain mengambil alih tugasnya.
Menyombongkan Diri
“Saya pernah menemukan anak yang sering mengatakan ini, ‘Kalau bukan karena aku, tugasnya enggak bakal selesai!’“ ujar Fika. Setelah diselidiki, menurut Fika, ternyata orangtua Si Anak terbiasa menggunakan kata-kata seperti itu di rumah. Selain dianggap sombong, mungkin saja Si Anak kurang disenangi di lingkungannya.
Ingkar Janji
“Ayah, kan, sudah janji kalau hari Sabtu ini mau antar aku beli buku,” kata anak Anda sambil merengek setelah Anda membatalkan janji untuk kesekian kalinya. Ingkar dari janji, hanya sekali atau berkali-kali, bisa menghilangkan rasa percaya anak kepada Anda sebagai orangtua. Anda juga akan dicap sebagai orang yang tak bisa diandalkan.
Tidak Menegur Anak Ketika Berlaku Salah
“Ini termasuk kasus yang sering saya temui. Ketika anak berperilaku tidak baik, orangtua biasanya langsung bereaksi marah. Tetapi, ketika anak berbuat baik, orangtuanya tak memberi respons. Atau, ada juga orangtua yang tidak pernah menegur anaknya ketika jelas-jelas berbuat salah,” papar Fika. Dampaknya pada anak, ia sulit membedakan mana yang salah atau benar, serta terbiasa berbuat sesuka hatinya karena merasa tidak akan diawasi oleh orangtua.
Tidak Meminta Maaf
Meminta maaf jika melakukan kesalahan biasanya menjadi salah satu pelajaran yang sering diajarkan orangtua kepada anak. Tetapi, kadang ketika orangtua melaku­kan kesalahan, mere­ka lupa dan enggan­ meminta maaf. Atau, bahkan malah membela diri dan menyalahkan anak. Jika Anda tetap berperilaku seperti ini, jangan heran kalau nanti anak Anda akan tum­buh menjadi anak yang sulit mengakui kesalahan dan melempar kesalahannya kepada orang lain.
Asal Anak Senang
Dengan alibi malas mendengar keluhan dan rengekan anak, Anda cenderung menuruti setiap kemauannya. Padahal apa yang diminta anak belum tentu baik baginya.
Segera perbaiki perilaku ini. Jika tidak, anak akan menjadikan rengekan sebagai senjata dan menganggap kalau ia bisa mendapatkan apa pun yang ia inginkan hanya dengan merengek. Kebiasaan mengabulkan setiap permintaan anak juga akan membuat anak tidak patuh. Padahal, sejatinya, anak-anak harus belajar patuh kepada orangtua yang berperan sebagai nakhoda dalam rumah tangga.

Ester Sondang
Sumber : http://www.tabloidnova.com/Nova/Keluarga/Anak/Salah-Ucap-di-Depan-Anak 

Jumat, 21 September 2012

Manfaat Pelukan Orangtua Bagi Perkembangan Psikologis Anak

Pada dasarnya orang tua mengetahui akan pentingnya hubungan dan kedekatan antara anak-anak dengan mereka. Banyak penelitian menunjukkan bahwa, pada dasarnya sebagian besar orang tua menyatakan bahwa menghabiskan waktu dan demi kedekatan dengan anak bisa menjadi hal yang lebih penting di banding hal lainnya. Pada intinya bahwa antara orang tua dan anak saling membutuhkan rasa cinta dan kasih sayang satu samai lainnya, dan hal itu tidak dapat dipungkiri adanya. Banyak orang tua dan anak merasakan bila rasa cinta dan kasih sayang tidak di dapat dari satu sama lainnya, maka keharmonisan keluarga serasa tidak lengkap.
Namun dilain sisi, banyak hubungan antara orang tua dan anak menjadi terbengkalai, dan hal ini memicu ketidak harmonisan dalam keluarga, bahkan akan menjadi sesuatu yang tidak baik bagi perkembangan psikologis anak. Banyak hal yang menyebabkan hal tersebut terjadi, salah satunya adalah karena tuntutan ekonomi dan pekerjaan lah yang membuat orang tua kehilangan waktu untuk dapat bersama dengan anak. Kadang dikarenakan kesibukan, orang tua harus pergi pagi-pagi secara terburu-buru karena pekerjaannya dan pulang ke rumah tatkala anak-anak sudah tertidur. Jika kondisi memang demikian, salah satu cara yang bisa dilakukan orang tua untuk dapat mendekatkan hubungan dengan anak meski memiliki waktu sedikit adalah dengan cara memeluk anak.
Pelukan orang tua kepada anak dapat menimbulkan ikatan batin dan kasih sayang yang kuat antara anak dan orang tua. Mendapat pelukan berarti mendapat dukungan, dan bagi yang memeluknya berarti akan menimbulkan rasa percaya diri. Kehadiran hormon endomorfin yang muncul saat berpelukan dapat mengurangi ketegangan saraf dan serta tekanan darah. Bahkan penelitian di university of Itali menunjukkan data, bahwa anak yang sering mendapat pelukan dari orang tuanya akan lebih efektif sembuh dari depresi, dan akan timbul rasa percaya dirinya untuk menyelesaikan berbagai permasalahan. Bahkan pelukan saat inisiasi dini, sesaat bayi terlahir ke dunia, akan mentransfer sejenis mikroorganisme yang membuat daya tahan tubuh bayi akan semakin kuat. Dan ketika pelukan dengan rasa sayang ini di teruskan hingga masa kanak-kanak dapat menjadikan pribadi anak yang tidak gampang stress (Penelitian Journal of Epidemiology and Community Health). Jangan percaya pada mitos yang mengatakan bahwa anak yang sering mendapat pelukan akan menjadi cengeng, bahkan sebaliknya, secara psikologi, anak yang sering mendapat belaian, sentuhan dan pelukan kasih sayang dari orang tuanya akan tumbuh menjadi anak yang penyayang, pertumbuhannya sehat, akan merasa nyaman dan memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi.
Peluklah anak anda sebelum anda berangkat kerja, toh memeluk anak tidak akan membutuhkan waktu yang begitu banyak. Peluklah yang tulus, jangan tergesa-gesa, curahkan segala rasa sayang dan cinta anda saat  anda memeluk anak anda. Saat anda pulang kerja, meskipun anak sudah tertidur pulas, peluklah dia meskipun sedang tidur. Sesekali sisakan waktu untuk tidur bersamanya dan memeluknya. Meskipun berada di alam bawah sadar, pelukan orang tua saat tidur tetap dapat memerkuat bonding antara orang tua dan anak, karena saat mereka tidur, anak-anak masih berada dalam gelombang alpha, dimana masih bisa untuk menerima rangsangan dan getaran dari perasaan cinta dan kasih sayang orang tuanya.

Kamis, 20 September 2012

Bermain Di Luar Stimulasi Pertumbuhan Anak

Tahukah Anda apa yang menjadi ‘tugas’ anak-anak? Bermain. Dan ‘tugas’ yang menyenangkan ini ternyata juga dapat menstimulasi kecerdasan anak.
Banyak hal yang terjadi ketika anak-anak bermain. Mereka akan belajar mengenal lingkungannya, belajar berinteraksi, belajar bertoleransi, serta berani mengeksplorasi diri sehingga menjadi lebih kreatif.
Bahkan menurut pengamatan yang dilakukan BBC melalui proyek Child of Our Time, bermain membuat anak lebih sering tertawa. Apa manfaat yang dirasakan anak ketika mereka banyak tertawa? Tak hanya membuat mereka merasa lebih bahagia tetapi juga membuat otot jantung serta paru-paru mereka bekerja lebih aktif. Ini kemudian membuat sistem imunitas mereka bekerja lebih optimal.
Dan tahukah Anda, permainan apa yang bisa bisa menstimulasi mereka lebih sering tertawa? Ternyata permainan di luar rumah atau outdoor memberikan anak-anak ‘hak istimewa’ untuk tertawa lebih lepas. Permainan di ruang terbuka biasanya lebih aktif sehingga menuntut mereka untuk berinteraksi.
Ketika mereka diajak untuk berinteraksi, tanpa disadari mereka sudah distimulasi untuk berpikir kreatif  dalam menghasilkan permainan-permainan yang dapat membuat dirinya dan teman-temannya terhibur. Bahkan tidak jarang interaksi yang terjadi ketika anak-anak bermain di ruang terbuka menuntut tubuh mereka untuk bergerak aktif, ini sudah pasti membuat pertumbuhan tulang serta otot mereka lebih kuat.
Contoh permainan sederhana di ruang terbuka yang bisa mencakup semua manfaat itu adalah bermain bola. Permainan ini adalah permainan aktif yang melibatkan beberapa orang. Dan kita orang tua, sangat disarankan untuk ikut bermain bersama mereka karena akan mencairkan hubungan orang tua dengan anak. Ini akan membuat anak-anak merasa dekat dan percaya dengan orang tuanya. Kepercayaan inilah yang nantinya membuat anak lebih mendengarkan apa yang dikatakan orang tuanya ketimbang yang dibicarakan teman-temannya.
Aktivitas melempar, menangkap, dan menendang bola akan melatih mereka untuk menjaga keseimbangan dan koordinasi dengan anggota tubuh lain. Di sinilah motorik kasar mereka akan terstimulus dengan sempurna. Bonusnya, anak-anak kita akan menjadi lebih sehat dan bugar karena bermain bola termasuk olahraga kardiovaskuler.
Bonus lainnya, daya kreativitas anak juga bisa dilatih dengan mengajak anak memberikan variasi dalam permainan bola. Tak hanya melempar, menangkap, dan menendang bola, anak-anak dapat menggunakan daya imajinasinya untuk menciptakan kegembiraan dengan mencari cara lain untuk bermain bola. Misalnya, tantang dia untuk memainkan bola dengan alat permainan lain yang dia miliki. Alhasil, anak tak hanya menjadi kreatif tapi juga berani menciptakan solusi dari setiap tantangan yang diberikan.
Begitu banyak manfaat yang bisa kita berikan kepada anak hanya dengan membiarkan mereka bermain bola di luar rumah. Jadi mulai hari ini, mari kita stimulasi anak untuk menjadi lebih aktif dan kreatif dengan cara yang menyenangkan yaitu dengan memberikan kebebasan bagi mereka untuk bermain di luar.
Semoga bermanfaat,,,^_^

Sumber : http://www.tabloidnova.com/Nova/Keluarga/Anak/Bermain-Di-Luar-Stimulasi-Pertumbuhan-Anak

Rabu, 19 September 2012

Menakertrans Minta Kesempatan Kerja Penyandang Cacat Diperluas

Solo (ANTARA) - Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar meminta perusahaan-perusahaan milik negara maupun swasta agar memberikan kesempatan kerja yang lebih luas bagi para penyandang cacat (disabilitas).
"Pemerintah mendorong perusahaan-perusahaan agar memberikan kesempatan kerja lebih luas kepada penyandang cacat," kata Muhaimin Iskandar saat membuka bursa kerja (job fair) Penyandang Cacat di Solo, Rabu.
Bursa kerja khusus penyandang disabilitas selama dua hari yang merupakan bagian dari Gerakan Penanggulangan Pengangguran ini dihadiri sedikitnya 18 perusahaan yang bersedia mempekerjakan penyandang disabilitas dengan ratusan lowongan kerja yang tersedia.
Jenis lowongan yang tersedia di antaranya adalah juru masak, desain grafis, operator, sewing, guru, tenaga medis, administrasi, tenaga pemasaran, penjahit, dealer produksi, agen kerajinan tangan, manager koperasi, dan staf koperasi.
Muhaimin mengatakan Pemerintah terus melakukan usaha-usaha untuk memberikan kesempatan kesempatan kerja yang lebih luas lagi kepada para penyandang disabelitas, sesuai dengan ketentuan perundangan dan regulasi pendukung lainnya.
"Penyelenggaraan job fair khusus ini merupakan salah satu upaya Pemerintah untuk memfasilitasi pertemuan antara pencari kerja penyandang disabilitas dengan para perusahaan pengguna," katanya.
Ia mengatakan dengan diadakannya job fair bagi penyandang disabilitas ini dapat dijadikan wadah yang mempertemukan pencari kerja dan pengguna tenaga kerja dan meningkatkan penyerapan tenaga kerja disabalitas secara lebih optimal.
"Ke depan Kemenakertrans akan lebih menggiatkan penyelenggaraan job fair semacam ini. Bursa kerja khusus bagi penyandang disabilitas yang merupakan bagian dari gerakan penanggulangan pengangguran di daerah memberi kesempatan untuk memperbaiki tingkat kesejahteraan mereka," Kata Muhaimin.
Dikatakan Kemenakertrans terus menggiatkan program sosialisasi kepada publik, khususnya dunia usaha, mengenai aturan dan regulasi yang memberikan mandat kepada perusahaan untuk mempekerjakan penyandang disabilitas.
Sesuai dengan UU No. 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat dan Peraturan Pemerintah No.43 tahun 1998 tentang Upaya Peningkatan Kesejahteraan Sosial bagi Penyandang Cacat telah ditegaskan bahwa penyandang cacat berhak untuk memperoleh pekerjaan dan penghidupan yang layak sesuai dengan jenis dan derajat kecacatan, pendidikan, dan kemampuannya, kata Muhaimin.
Namun, jumlah perusahaan di Indonesia yang mempekerjakan penyandang cacat dapat dikatakan masih minim. Padahal Jumlah idealnya, tambah Muhaimin, setiap perusahaan harus mempekerjakan sekurang-kurangnya satu orang penyandang cacat yang memenuhi persyaratan jabatan dan kualifikasi pekerjaan sebagai pekerja pada perusahaannya untuk setiap 100 orang pekerja perusahaannya.
Data Kementerian Sosial pada 2010 menyebutkan jumlah penyandang disabilitas mencapai 11.580.117 orang. Namun, peluang kerja bagi para penyandang disabelitas sangat terbatas, terutama penyandang disabilitas yang bekerja secara formal.
Kemenakertrans, selaku kementerian yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjan, telah mengeluarkan aturan atau regulasi terkait dengan pelatihan kerja dan penempatan tenaga kerja penyandang disabilitas, yaitu melalui Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI Nomor KEP-205/MEN/1999 tentang Pelatihan Kerja dan Penempatan Tenaga Kerja Penyandang Cacat, serta mengeluarkan Surat Edaran Menteri No.01.KP.01.15.2002 tentang Penempatan Tenaga Kerja Penyandang Cacat di Perusahaan.
Kemenakertrans juga akan terus dan meningkatkan penyelenggaraan pelatihan bagi para tenaga kerja penyandang disabilitas guna meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka, baik dari sisi keahlian teknis maupun manajemen/administrasi keuangan, melalui pemanfaatan BLK-BLK yang ada, baik BLK milik Pemerintah Pusat maupun daerah.
"Melalui pelatihan ini, para peserta didik juga ditumbuhkembangkan rasa dan minat untuk berwirausaha. Dengan demikian, diharapkan nantinya setelah mereka diikutkan kegiatan ini, mereka dapat membuka usahanya sendiri atau bahkan secara berkelompok, sehingga kehidupannya tidak lagi bergantung atau menjadi beban keluarganya," kata Muhaimin. (tp)

Duh, Perceraian Orang Tua Picu Stroke

Ghiboo.com - Perceraian orang tua ternyata berdampak pada kesehatan jantung.

Penelitian baru dari University of Toronto menunjukkan, pria yang orang tuanya bercerai ketika usianya belum mencapai 18 tahun, tiga kali lipat lebih mungkin terkena stroke.

Namun sebaliknya. Perceraian orang tua tidak meningkatkan risiko stroke pada wanita.

Peneliti Esme Fuller-Thomson dari University of Toronto menjelaskan belum mengetahui secara pasti mengapa hal terjadi, namun perceraian memicu produksi hormon stres kortisol secara berlebihan.

"Ada kemungkinan bahwa paparan stres akibat perceraian orang tua mengubah cara anak bereaksi terhadap stres selama sisa hidupnya," jelas Fuller-Thomson, dilansir melalui Dailymail (18/9).

Selain itu, peristiwa tak mengenakkan semasa kecil tersebut juga dapat mengubah sumbu hipotalamus-hipofisis-adrenal (HPA), melalui tingkat kortisol yang diproduksi.

"Peristiwa tak mengenakan semasa kecil dapat mempengaruhi kesehatan di seluruh sisa hidupnya dengan cara mempengaruhi perkembangan sumbu HPA. Paparan stres dapat menyebabkan sumbu HPA bergeser dan meningkatkan sensitivitas stres saat dewasa," jelasnya.

Fuller-Thomson juga menduga meningkatnya risiko stroke pada pria bisa pula disebabkan hilangnya sosok panutan seorang ayah.

"Kehadiran sosok ayah ternyata berdampak baik bagi kesehatan Anda dalam jangka panjang," tambahnya.

Sumber : http://id.she.yahoo.com/duh-perceraian-orang-tua-picu-stroke-133000188.html