JAKARTA - Tahun ini, Kemenakertrans menargetkan
penarikan 11.000 pekerja anak, yang tersebar di seluruh Indonesia.
Program tersebut tersebar di 21 Provinsi dan 89 kabupaten/kota di
seluruh Indonesia, dengan mengerahkan 503 orang pendamping di 366 rumah
singgah (shelter).
“Sesungguhnya program penarikan pekerja anak
ini dilaksanakan agar anak-anak Indonesia dapat mengembangkan kesempatan
belajar di sekolah dan terbebaskan dari berbagai bentuk pekerjaan
terburuk," kata Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar,
di Jakarta, Kamis (23/5/2013).
Kegiatan ini diarahkan dengan
sasaran utama anak bekerja dan putus sekolah yang berasal Rumah Tangga
Sangat Miskin (RTSM) dan berusia 7- 15 tahun. Kemnakertrans menggelar
Rencana Aksi Nasional Penghapusan Bentuk Pekerjaan Terburuk Anak
(RAN-PBPTA) sebagai amanat dari Keputusan Presiden No. 59 Tahun 2002,
yang pada tahun ini memasuki Tahap ke 3 (Tahun 2013 – 2022).
Khusus
Provinsi Jawa Timur, PPA-PKH menargetkan penarikan sebanyak 2.280
pekerja anak di 17 Kabupaten/Kota. Untuk lebih memotivasi pekerja anak
kembali ke sekolah, diberikan paket peralatan sekolah bagi setiap
pekerja anak.
“Prioritas program ini diarahkan untuk dapat
mempercepat proses penarikan para pekerja anak terutama dari
pekerjaan-pekerjaan terburuk dan berbahaya seperti perbudakan,
pelacuran, pornografi dan perjudian, pelibatan pada narkoba, dan
pekerjaan berbahaya lainnya," terangnya.
Para pekerja anak
tersebut bakal ditarik dari tempat mereka bekerja dan di tempatkan
sementara di rumah singgah (shelter) untuk menjalani program
pendampingan khusus selama satu bulan. Setelah itu mereka akan di
kembalikan ke sekolah untuk belajar di pendidikan formal SD/SMP/SMA,
madrasah dan pesantren ataupun kelompok belajat paket A, B dan C.
Muhaimin
mengaku telah melakukan pendekatan khusus untuk melarang anak usia
sekolah untuk bekerja. Para pengusaha dan orang tua, tidak boleh
memaksakan anaknya untuk bekerja apalagi untuk dengan
pekerjaan-pekerjaan berbahaya.
“Para pengusaha dan Orangtua harus
tahu bahwa dalam UU Perlindungan Anak mempekerjakan anak di bawah umur
adalah dilarang, Pemerintah lakukan pendekatan khusus berupa persuasif
hingga penindakan hukum. Bagi orangtua yang tetap memaksakan anaknya
untuk bekerja, perlu mendapat tindakan tegas dan dilaporkan kepada pihak
yang berwajib, “bebernya.
Agar manfaat program penarikan pekerja
anak ini tetap optimal, pemerintah bermaksud mereview kembali, apa saja
yang perlu dilakukan untuk memperkuat Komite Aksi Penghapusan
Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak (PBPTA).
“Kita terus
melakukan, monitoring dan evaluasi terhadap anak-anak yang telah ditarik
dan dikembalikan ke satuan pendidikan. Apa saja kendala mereka, apakah
mereka masih tetap berada di unit pendidikan, atau apakah mereka
kembali lagi ke pekerjaan semula karena tuntutan ekonomi keluarga.
Diperlukan upaya-upaya untuk menganalisa dampak jangka panjang dari
program tersebut," bebernya.
Untuk itu harus ditingkatkan
sinergitas antar sektor, karena tanpa kerjasama dari para stakeholder,
baik aparatur pusat maupun daerah, pihak pengusaha, elemen masyarakat
maupun media, Program Penanggulangan Pekerja Anak tidak dapat terwujud.
Program
penarikan pekerja anak ini dilaksanakan secara terkoordinasi antar
berbagai instansi/lembaga terkait di Provinsi dan Kabupaten/Kota. Antara
lain : Pendidikan, Sosial, Kesehatan, Kementerian Agama, Serikat
Pekerja / Serikat Buruh, Asosiasi Pengusaha, serta Lembaga Swadaya
Masyarakat Pemerhati anak.
“Peran serta masyarakat, pemerintah
pusat dan daerah serta instansi terkait dibutuhkan untuk meningkatkan
sinergitas guna mengurangi jumlah pekerja anak dan mengembalikannnya ke
dunia pendidikan , terangnya.
Guna mempercepat penarikan pekerja
anak, Muhaimin berjanji akan mengerahkan pengawas ketenagakerjaan di
pusat dan daerah. Menurut data Kemnakertrans, saat ini jumlah pengawas
ketenagakerjaan tercatat sebanyak 2.384 orang, untuk menangani sekitar
216.547 perusahaan. Para pengawas ketenagakerjaan yang saat ini tengah
bertugas terdiri dari Pengawas umum, 1.460 orang, Pengawas spesialis
361 orang, Penyidik Pegawai Negeri Sipil 563 orang.
Pemerintah
Indonesia mempunyai komitmen untuk menghapus pekerja anak. Komitmen ini
terlihat dengan diratifikasinya kedua Konvensi ILO Nomor 138 mengenai
usia minimum, untuk diperbolehkan bekerja dan Nomor 182 mengenai
pelarangan dan tindakan segera penghapusan bentuk-bentuk pekerjaan
terburuk untuk anak.
“Komitmen ini terlihat dengan
diratifikasinya kedua Konvensi ILO tersebut dengan Undang-Undang Nomor
20 Tahun 1999 dan Undang -Undang Nomor 1 Tahun 2000. Selain itu isi
substansi tehnis kedua Konvensi ILO terdapat padaUndang-Undang Nomor 13
Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan," pungkasnya.
Sejak tahun 2008
sampai saat ini, Kemnakertrans melakukan penarikan pekerja anak dari
tempat kerja sebanyak 32.663 orang dan dikembalikan ke satuan
pendidikan. (ydh)
http://news.okezone.com/read/2013/05/23/337/811653/kemnakertrans-targetkan-tarik-11-ribu-pekerja-anak
Kamis, 13 Juni 2013
Selasa, 11 Juni 2013
Mucikari SMP dan para 'ayamnya' berasal keluarga broken home
MERDEKA.COM. Siswi SMP Swasta yang menjadi
mucikari di Surabaya, Jawa Timur, ternyata berasal dari keluarga broken
home. Pun begitu dengan para ABG atau 'ayam-ayam' yang dijualnya ke
lelaki hidung belang, semuanya dari keluarga kacau.
Karena faktor keluarga broken inilah, NA terjun ke dunia hitam. Siswi 15 tahun inipun tak canggung ketika menjual kakak kandungnya sendiri kepada 'penggila' gadis ingusan.
Sekitar tujuh ABG yang dijualnya pun disinyalir dari keluarga berantakan. Sehingga, untuk melepas beban di pikirannya, mereka lari ke dunia seks bebas plus bonus uang ratusan ribu rupiah dari 'penggunanya.'
Hal ini diungkap JT, salah satu siswa di sekolah tempat NA mengenyam pendidikan, yaitu di salah satu sekolah SMP Swasta di kawasan Jalan Gubeng, Surabaya. "Yang saya dengar, dia (NA) itu dari keluarga broken. Tapi duitnya banyak, BB-nya saja sering ganti-ganti," kata JT, Senin (10/6).
Hal senada juga diungkap Kasubbag Humas Polrestabes Surabaya, Kompol Suparti. Polwan dengan satu melati di pundak ini mengatakan, ada banyak faktor yang menyebabkan para gadis ingusan itu menjalani praktik prostitusi.
"Kenapa mereka melakukan ini, ada banyak faktor. Di antara mereka (pelaku dan korban) ada yang karena sudah pernah melakukan dengan pacarnya, ada yang karena broken home, ada juga yang karena gaya hidup. Yang jelas tindakan mereka ini sangat memprihatinkan, karena rata-rata mereka masih anak-anak tapi sudah melakukan hubungan yang belum waktunya," papar mantan Kapolsek Asemrowo itu.
Suparti juga mengungkap, uang hasil menjajakan diri para gadis ingusan ini, juga digunakan untuk bersenang-senang. "Kalau masalah ekonomi, saya rasa tidak ya. Wong mereka ituloh ngaku, uang hasilnya buat senang-senang saja. Bukan untuk mencukupi kebutuhan pokok mereka. Dan bisa jadi, perilaku ini karena lingkungan, wong orang tuanya juga tenang-tenang saja saat dikabari anaknya ditangkap," kata Kasubbag Humas Kompol Suparti menganalisa hasil penyelidikan sementara penyidik.
Diberitakan sebelumnya, pihak Polrestabes Surabaya mengungkap kasus mucikari di Hotel Fortuna Jalan Darmokali Surabaya. Yang mencengangkan publik, sang mucikari adalah siswi SMP yang masih berusia 15 tahun. Terlebih lagi, dia juga tak canggung menawarkan kakak perempuannya sendiri ke pria hidung belang.
Meski tak menahannya, hanya dikenakan wajib lapor, polisi masih terus melakukan pemeriksaan intensif terhadap pelaku dan korban, dan siang tadi, mereka kembali dipanggil untuk menjalani pemeriksaan penyidik
Sumber: Merdeka.comKarena faktor keluarga broken inilah, NA terjun ke dunia hitam. Siswi 15 tahun inipun tak canggung ketika menjual kakak kandungnya sendiri kepada 'penggila' gadis ingusan.
Sekitar tujuh ABG yang dijualnya pun disinyalir dari keluarga berantakan. Sehingga, untuk melepas beban di pikirannya, mereka lari ke dunia seks bebas plus bonus uang ratusan ribu rupiah dari 'penggunanya.'
Hal ini diungkap JT, salah satu siswa di sekolah tempat NA mengenyam pendidikan, yaitu di salah satu sekolah SMP Swasta di kawasan Jalan Gubeng, Surabaya. "Yang saya dengar, dia (NA) itu dari keluarga broken. Tapi duitnya banyak, BB-nya saja sering ganti-ganti," kata JT, Senin (10/6).
Hal senada juga diungkap Kasubbag Humas Polrestabes Surabaya, Kompol Suparti. Polwan dengan satu melati di pundak ini mengatakan, ada banyak faktor yang menyebabkan para gadis ingusan itu menjalani praktik prostitusi.
"Kenapa mereka melakukan ini, ada banyak faktor. Di antara mereka (pelaku dan korban) ada yang karena sudah pernah melakukan dengan pacarnya, ada yang karena broken home, ada juga yang karena gaya hidup. Yang jelas tindakan mereka ini sangat memprihatinkan, karena rata-rata mereka masih anak-anak tapi sudah melakukan hubungan yang belum waktunya," papar mantan Kapolsek Asemrowo itu.
Suparti juga mengungkap, uang hasil menjajakan diri para gadis ingusan ini, juga digunakan untuk bersenang-senang. "Kalau masalah ekonomi, saya rasa tidak ya. Wong mereka ituloh ngaku, uang hasilnya buat senang-senang saja. Bukan untuk mencukupi kebutuhan pokok mereka. Dan bisa jadi, perilaku ini karena lingkungan, wong orang tuanya juga tenang-tenang saja saat dikabari anaknya ditangkap," kata Kasubbag Humas Kompol Suparti menganalisa hasil penyelidikan sementara penyidik.
Diberitakan sebelumnya, pihak Polrestabes Surabaya mengungkap kasus mucikari di Hotel Fortuna Jalan Darmokali Surabaya. Yang mencengangkan publik, sang mucikari adalah siswi SMP yang masih berusia 15 tahun. Terlebih lagi, dia juga tak canggung menawarkan kakak perempuannya sendiri ke pria hidung belang.
Meski tak menahannya, hanya dikenakan wajib lapor, polisi masih terus melakukan pemeriksaan intensif terhadap pelaku dan korban, dan siang tadi, mereka kembali dipanggil untuk menjalani pemeriksaan penyidik
http://id.berita.yahoo.com/mucikari-smp-dan-para-ayamnya-berasal-keluarga-broken-170300173.html
Senin, 08 April 2013
Supaya Anak Dekat dengan Ayah
Ghiboo.com - Anda memiliki putra yang sangat manja kepada ibunya. Akibatnya, ia tidak dekat dengan ayahnya.
Dia selalu rewel bila harus saya tinggalkan berdua dengan ayahnya. Bahkan bila ibu tidak ada, dia lebih memilih tidur dengan asisten rumah tangga, daripada ayahnya. Bagaimana cara untuk mendekatkan putra Anda itu dengan ayahnya?
Menurut Zae Hanan, Dream Planner & Motivator dari ZAEnterprise Jakarta, masalah ini harus dikomunikasikan kepada kedua belah pihak, yaitu suami dan anak Anda.
Galilah informasi dari anak Anda mengapa ia enggan mendekat kepada ayahnya dan figur ayah seperti apa yang didambakannya. Sampaikan hal ini kepada suami dan ajak ia membicarakan apa saja yang sebaiknya ia lakukan untuk mendekatkan diri kepada si kecil.
Misalnya, jika selama ini Anda yang antar-jemput ke sekolah, mintalah suami menggantikan Anda. Memberi mereka kesempatan pergi berdua ke toko buku atau membeli sepatu, adalah cara yang bisa dicoba.
Anda tentu tahu hal-hal apa yang disukai oleh anak Anda, termasuk cara pendekatan yang efektif terhadap dirinya. Di lain pihak, bagaimana sifat dan gaya suami dalam mendidik anak? Bagaimana hubungan suami dengan ayahnya dulu? Mungkin ada contoh (jika hubungan mereka harmonis) atau pelajaran (jika hubungan mereka kurang harmonis.
Jajaki pula apakah ada hobi yang bisa mempersatukan mereka berdua, misalnya olahraga atau otomotif. Bisa juga Anda merancang acara keluarga di akhir pekan untuk mendekatkan si kecil dengan ayahnya. Minta anak untuk mengusulkan acara atau kegiatan yang ingin ia lakukan, lalu sarankan suami Anda untuk mendukung usulnya.
Sebaiknya Anda juga melakukan introspeksi: mengapa selama ini anak sangat dekat dengan ibu? Apakah selama ini Anda dan suami sudah berbagi peran dan tugas dalam mengasuh anak?
Suami adalah mitra ibu dalam membesarkan anak. Jadi, libatkanlah suami dalam proses pengasuhan dan pendidikan si kecil secara lebih intens. Sebab si kecil juga memerlukan figur ayah dalam proses pertumbuhannya. (ins)
Sumber : http://id.she.yahoo.com/supaya-anak-dekat-dengan-ayah-071648876.html
Sabtu, 23 Maret 2013
Hindari Bahasa Pembangkit Amarah
Ghiboo.com - Ketidaksepahaman orangtua dan anak kerap terjadi. Akhirnya, pertengkaran tidak bisa dihindari.
Fayanisa Dwityarani, M.Psi, Psikolog permasalahan remaja dari
Kassandra & Associate Jakarta, menyarankan agar para orangtua
menghindari kata-kata yang menyalahkan. Fokuslah pada apa yang ingin Anda sampaikan. Berikut beberapa bahasa yang sebaiknya tidak Anda gunakan saat bertengkar.
Hindari menggunakan kata 'selalu' atau 'kebiasaan'. Misalnya, "Kamu selalu saja membuat orang menunggu terlalu lama."
Jangan membandingkan satu anak dengan lainnya. Misalnya, "Kakak kamu bisa nilai rapornya selalu bagus, kenapa kamu tidak bisa seperti dia sih?"
Ketika bertengkar, sebaiknya Anda tidak menggunakan pengalaman Anda sebagai tolok ukur. Hindari kata-kata, "Zaman dulu Mama nggak pernah naik mobil ke sekolah..." atau "Ketika Mama seumur kamu...."
Hindari juga perkataan diktator seperti, "Ya karena mama bilang tidak boleh ya tidak boleh, titik!" (ins)
(Good Housekeeping Indonesia edisi November 2012)
Sumber : http://id.she.yahoo.com/hindari-bahasa-pembangkit-amarah-052006267.html
Rabu, 20 Maret 2013
'Pemerkosa itu harus dianggap pembunuh'
MERDEKA.COM. Psikolog menyebut seringnya terjadi
tindak pemerkosaan saat ini sebagai wabah penyakit psikososial. Wabah
mengerikan terus menjakiti masyarakat Indonesia akibat lemahnya
punishment atau hukuman yang diberikan pada pelaku perkosaan.
"Pemerkosa tidak dianggap sebagai penjahat tapi dianggap sebagai orang berpenyakit padahal di dunia barat dianggap murder. Kejahatan ini kejahatan tingkat utama. Di sini seolah-olah bisa ditolerir," ungkap psikolog Tika Bisono dalam perbincangannya di telepon dengan merdeka.com, Selasa (19/3).
Selain itu, kecenderungan meniru dan latar belakang juga menyebabkan menjamurnya pelaku kejahatan seksual berusia di bawah umur.
"Memang ada kelainan mengidap penyimpangan biasanya disebabkan oleh pengalaman hidup yang bersangkutan masa lalu, kemudian memang kencengnya meniru perilaku tersebut penyebabnya," lanjut Tika.
Urgensinya masalah tersebut membuat psikolog ini mengingatkan agar mengawasi buah hati dan keluarga dengan cermat. Dengan begitu, pencegahan bisa dilakukan.
"Para orang tua jangan cuek dan terus meningkatkan pengawasan. Sekolah juga melakukan pengawasan. Usahakan anak tidak pulang sendiri ke sekolah," tutupnya.
Dalam sepekan terakhir kasus-kasus perkosaan anak di bawah umur terus terjadi.
Pertama seorang siswi berinisial NR (15) Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) swasta di Jakarta Timur mengalami kekerasan seksual yang dilakukan oleh belasan pemuda di sebuah lahan kosong di kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur.
Peristiwa kedua, kasus pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur kembali terjadi di wilayah Jakarta Timur. Seorang bocah berinisial MAS usia tiga tahun menjadi korban sodomi oleh seorang pemuda berinisial AG (17) di daerah Cipinang Muara Jakarta Timur .
Kejahatan seksual lainnya, RH (43) tega mencabuli anak kandungnya, DR (16). Kelakuan bejat warga Jalan Rambutan, Jagakarsa, Jakarta Selatan, itu telah berlangsung selama 10 tahun. Akibatnya, DR kini hamil lima bulan.
Sumber: Merdeka.com"Pemerkosa tidak dianggap sebagai penjahat tapi dianggap sebagai orang berpenyakit padahal di dunia barat dianggap murder. Kejahatan ini kejahatan tingkat utama. Di sini seolah-olah bisa ditolerir," ungkap psikolog Tika Bisono dalam perbincangannya di telepon dengan merdeka.com, Selasa (19/3).
Selain itu, kecenderungan meniru dan latar belakang juga menyebabkan menjamurnya pelaku kejahatan seksual berusia di bawah umur.
"Memang ada kelainan mengidap penyimpangan biasanya disebabkan oleh pengalaman hidup yang bersangkutan masa lalu, kemudian memang kencengnya meniru perilaku tersebut penyebabnya," lanjut Tika.
Urgensinya masalah tersebut membuat psikolog ini mengingatkan agar mengawasi buah hati dan keluarga dengan cermat. Dengan begitu, pencegahan bisa dilakukan.
"Para orang tua jangan cuek dan terus meningkatkan pengawasan. Sekolah juga melakukan pengawasan. Usahakan anak tidak pulang sendiri ke sekolah," tutupnya.
Dalam sepekan terakhir kasus-kasus perkosaan anak di bawah umur terus terjadi.
Pertama seorang siswi berinisial NR (15) Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) swasta di Jakarta Timur mengalami kekerasan seksual yang dilakukan oleh belasan pemuda di sebuah lahan kosong di kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur.
Peristiwa kedua, kasus pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur kembali terjadi di wilayah Jakarta Timur. Seorang bocah berinisial MAS usia tiga tahun menjadi korban sodomi oleh seorang pemuda berinisial AG (17) di daerah Cipinang Muara Jakarta Timur .
Kejahatan seksual lainnya, RH (43) tega mencabuli anak kandungnya, DR (16). Kelakuan bejat warga Jalan Rambutan, Jagakarsa, Jakarta Selatan, itu telah berlangsung selama 10 tahun. Akibatnya, DR kini hamil lima bulan.
http://id.berita.yahoo.com/pemerkosa-itu-harus-dianggap-pembunuh-200600317.html
Sabtu, 09 Februari 2013
Pukulan di Pantat Dapat Sebabkan Penyakit Mental
Suka menghukum anak Anda dengan memukul mereka di pantat? Sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan di jurnal ilmu kesehatan anak mungkin bisa menjadi pertimbangan Anda sebelum memberikan hukuman fisik kepada anak.
Para peneliti memeriksa data lebih dari 34 ribu orang dewasa dan menemukan, pukulan di pantat bisa meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental secara signifikan saat dewasa.
Menurut hasil penelitian mereka, hukuman fisik berhubungan dengan gangguan suasana hati (mood), termasuk depresi dan kegelisahan, serta gangguan kepribadian, kecanduan pada alkohol dan narkotik. Mereka memperkirakan sekitar tujuh persen penyakit mental orang dewasa mungkin disebabkan oleh hukuman fisik sewaktu masa anak-anak, termasuk tamparan, dorongan, cengkraman, dan pukulan.
Penelitian menunjukkan, tamparan menyebabkan risiko depresi sebesar 41 persen, ketergantungan pada alkohol dan narkoba 59 persen, gangguan jiwa 93 persen, di antara temuan yang lainnya.
"Kita tidak hanya membicarakan pukulan di pantat," menurut Tracie Afifi, PhD dari University of Manitoba di Winipeg. "Kita melihat orang menggunakan hukuman fisik sebagai cara umum yang dipakai untuk mendisiplinkan anak mereka."Namun, penelitian itu mengesampingkan individu-individu yang melakukan penganiayaan berat seperti kekerasan fisik, pelecehan seksual, pengabaian fisik dan emosi, atau kekerasan terhadap pasangan.
"Hal tersebut jelas menunjukkan bahwa hukuman fisik tidak seharusnya dilakukan kepada anak-anak pada usia berapapun," kata Afifi. Para peneliti menyimpulkan, "penting bagi pediatris dan penyedia layanan kesehatan lainnya yang bekerja bersama anak-anak dan orang tua untuk menyadari keterkaitan antara hukuman fisik dengan gangguan mental."
Hukuman fisik kepada anak-anak adalah suatu hal yang legal di Amerika Serikat, meskipun dilarang di sedikitnya 24 negara lainnya. Perlu dicatat juga bahwa 19 negara bagian di Amerika Serikat mengizinkan hukuman fisik di lingkup sekolah. Penelitian awal menunjukkan pukulan pada balita akan meningkatkan kecenderungan agresivitas ketika sudah menginjak masa anak-anak.
Sumber : http://id.she.yahoo.com/pukulan-di-pantat-dapat-sebabkan-penyakit-mental.html
Rabu, 16 Januari 2013
Sulit Mengakui Kesalahan Sendiri
Sulit mengaku salah apalagi kalah. Ini
penyakit alami manusia. Mau mengaku menang, mau menang terus. Tak mau
kalah apalagi mengakui kesalahan. Jika ini bisa sembuh, manusia akan
bebas. Bebas untuk mengatakan, saya bersalah, saya mohon maaf. Dengan
demikian perkara selesai. Tak ada debat panjang mencari siapa yang
salah. Tetapi semudah itu kah perkara ini?
Tunggu dulu. Manusia biasanya sulit
mengakui kesalahan. Memang ada segelintir yang mau mengakui. Untuk
menjadi seperti segelintir ini butuh perjuangan keras. Perjuangan
melawan kecenderungan alami manusia. Siapa yang mau kalah? Apalagi siapa
yang mau disalahkan? Sebagian besar tidak mau. Tetapi mau bilang apa
jika memang ada kesalahan. Pasti ada penyebabnya.
Kalau mau maju, beranilah mengakui
kesalahan dan mengaku salah. Mudah sebenarnya tetapi sulit mengakuinya.
Salah itu biasa, kata orang. Mengakui kesalahan itu baru luar biasa.
Sebab banyak yang ingin menyembunyikan kesalahannya. Maunya tampil
sempurna, perfectionis. Padahal jika mengakui kesalahan dia
akan menjadi sempurna juga. Sempurna karena ada kesalahan dan ada
pengakuan akan kesalahan itu. Sempurna karena dia memang pernah berbuat
baik dan banyak berbuat baik tetapi pernah berbuat salah juga. Jadi dia
mengakui tutur langkah yang benar dan salah.
Sumber : http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2012/09/17/sulit-mengakui-kesalahan-sendiri-493712.html
Langganan:
Komentar (Atom)
