.

STOP Kekerasan dalam keluarga CIPTAKAN SUASANA NYAMAN DALAM KELUARGA

Rabu, 11 Maret 2015

Empat Langkah Mendidik Anak Berjiwa Sportif

TRIBUNNEWS.COM -Si kecil begitu aktif mengikuti banyak pertandingan olahraga di sekolah termasuk kompetisi kecerdasan.
Dalam suatu kompetisi, pasti ada kemenangan dan kekalahan. Untuk sebagian anak-anak, banyak belum bisa menerima kekalahan dengan cara yang bijak dan lapang dada. Tak sedikit yang merespon kekalahan dengan tangisan, mengamuk, dan sebagainya.
Di sinilah tugas orangtua untuk mengajarkan dan memberikan pengertian soal jiwa sportifitas pada sang buah hati. Seperti uraian berikut ini:
Berikan contoh yang baik
Ketika menonton sebuah pertandingan, jangan pernah menghina tim lawan. Cara ini mengajarkan anak bahwa menghina dan menyudutkan orang lain adalah hal yang lumrah. Sebaliknya, berikan tanggapan positif tentang tim lawan di depan anak Anda.
Berikan aturan dasar sportivitas
Orang yang paling bertanggung jawab untuk mengajarkan anak tentang sportivitas dan berjiwa lapang dada adalah orangtua.
Biarkan anak Anda tahu ekspektasi Anda mengenai cara memperlakukan lawan. Yakinkan anak Anda untuk tidak mengikuti teman-temannya yang mengejek tim lawan yang kalah.
Fokus pada pertandingan, bukan pada hasil
Ajarkan anak untuk fokus kepada pertandingan yang adil dan kerjasama tim. Jangan ajarkan anak untuk terobsesi dengan kemenangan semata.
Sebab, jika Anda mengajarkan anak untuk fokus pada hasil, maka saat dewasa dia akan memakai segala cara untuk memperoleh apapun yang mereka mau, tanpa mempertimbangkan dampak buruk dan baik.
Berikan anak pengertian kalah
Ketika anak kalah, jangan kelihatan bersedih, kecewa atau marah. Berikan dia dukungan dan semangat serta pengertian tentang kalah yang terhormat.
Ajarkan anak untuk memberikan selamat dan menghargai perjuangan tim lawan. Kemudian, bantu anak mengevaluasi pertandingan dengan mempelajari kesalahannya dan kekurangan si kecil.
Tularkan pengertian pada anak bahwa kalah adalah sebuah kondisi wajar dalam kehidupan. Sebab, berangkat dari kesalahan seseorang akan termotivasi dan menghargai sebuah kemenangan.
sumber  http://www.tribunnews.com/lifestyle/2015/03/11/empat-langkah-mendidik-anak-berjiwa-sportif?page=2

Jumat, 30 Januari 2015

Cegah Anak Menggunakan Kata Kasar dengan Cara Ini

Thursday, 29 January 2015, 17:30 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Balita cepat sekali belajar. Semua tindakan dan kebiasaan yang mereka lakukan bisa jadi karena terpengaruh dari lingkungan sekitarnya.
Jika anak bicara menggunakan kata yang kasar atau jorok, jangan dulu dimarahi. Tugas Anda sebagai orang tua adalah mengarahkannya kepada hal yang benar. Seperti dikutip dari www.parentsindonesia.com, nilah cara mencegah anak menggunakan kata kasar.

Berhenti menggunakan kata-kata kasar
Jangan gunakan kata-kata kasar atau jorok di depan balita. Ingat balita menganggap Anda sebagai panutan mereka. Mereka akan mengamati, mendengarkan, dan melakukan semua tingkah laku Anda.

Jika ingin balita Anda berhenti menggunakan kata-kata kasar, Anda harus menjadi contoh yang sempurna bagi mereka.

Perhatikan apa yang mereka tonton
Batasi anak Anda saat acara TV atau program lain yang menggunakan bahasa kasar. Balita percaya semua yang mereka lihat dan dengar.

Media visual memunyai dampak yang parah. Anak Anda mungkin belajar menggunakan kata-kata kasar dari televisi.

Kenali teman-teman mereka. Anda harus mengenal teman-teman anak Anda dan cara mereka berbicara. Jika teman anak Anda  menggunakan kata-kata kasar, dia akan berpikir bahwa kata-kata kasar teman mereka bisa diterima siapa saja. Ajarkan anak Anda untuk mengikuti apa yang benar.

Biarkan anak tahu mengapa kata itu 'buruk'
Cobalah untuk menjelaskan pada anak Anda bahwa kata yang biasa dia gunakan tidak baik, dan tidak boleh digunakan. Jelaskan kepada anak Anda mengapa menggunakan kata yang kasar tidak dapat diterima di rumah dan di masyarakat.

Biarkan mereka memahami dengan jelas bahwa berbicara dengan benar akan membuat mereka diterima di mana saja.

Gunakan kata-kata yang tepat
Karena bahasa adalah hal baru untuk anak, mereka mungkin bingung antara kata yang baik dan yang buruk. Saat di rumah sebaiknya hanya menggunakan kata-kata yang tepat, sehingga anak Anda akan mengerti mana yang harus diikuti.
sumber : http://gayahidup.republika.co.id/berita/gaya-hidup/parenting/15/01/29/nixp6m-cegah-anak-menggunakan-kata-kasar-dengan-cara-ini

Rabu, 14 Januari 2015

10 Pola Asuh Untuk Anak Cerdas

Kecerdasan anak hingga besar nanti dipengaruhi faktor lingkungan dan pola asuh yang diterimanya. Harus bagaimana agar ia tumbuh cerdas? Perhatikan 10 hal ini.
  1. Bebaskan anak mengeksplorasi lingkungan. Lingkungan menjadi sarana luas bagi anak untuk belajar tentang berbagai macam hal. Eksplorasi di alam memicu anak aktif bergerak juga meningkatkan rasa ingin tahu anak terhadap berbagai aspek kehidupan. Dorong anak mengeksplorasi lingkungan yang baru dikenalnya –misalnya sambil menyusuri sungai, ia belajar tentang sifat air yang mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah.  
  2. Ikuti minat anak. Untuk menggali potensi luar biasa di dalam diri anak, beri dukungan penuh pada bidang-bidang yang disukai anak, kalau perlu ikut berlatih dan menjadi teman berlatih yang menyenangkan untuknya.
  3. Tuturkan pengetahuan tentang dunia dan isinya. Berikan anak fasilitas dan kesempatan untuk mengenal dunia beserta seluruh aspek kehidupan. Ini membuat anak berpandangan terbuka terhadap berbagai berbagai hal ‘baru’ sesuai perkembangan ilmu pengetahuan.
  4. Bacakan aneka buku pengetahuan secara rutin dengan suara yang keras dan intonasi yang benar. Selain menumbuhkan minat membaca anak, anak juga akan menyerap pengetahuan dari buku untuk menunjang minatnya. Kebiasaan membaca buku juga menanamkan ikatan batin antara Anda dan si kecil.
  5. Jadilah model yang baik. Anak akan meniru orang tuanya. Maka, orangtua wajib menjadi role model atau panutan terbaik bagi anak –dalam seluruh aspek kehidupan sehari-hari. Tunjukkan minat Anda untuk selalu belajar dan menemukan hal-hal baru yang menarik dan kreatif bersama anak. Tunjukkan dan terapkan pola hidup sehat. Tunjukkan pula sikap menghargai serta empati kepada setiap anggota keluarga, orang lain, serta mahkluk hidup lain.
  6. Seringlah bertanya kepada anak. Ajukan beberapa pertanyaan kepada anak yang akan memancingnya untuk memberi jawaban berupa penjelasan yang juga merangsangnya untuk adu argumentasi. Atau ajak dia berdiskusi. Anda dapat memulainya dengan menanyakan secara rinci seputar hal-hal yang ia minati atau yang sedang dilakukannya. Selanjutnya, kembangkan untuk menggali jawaban dan pendapat anak terhadap berbagai hal.   
  7. Beri kesempatan mengambil keputusan. Membiasakan anak untuk mengambil keputusan akan melatih anak untuk belajar sebab-akibat serta tanggung jawab. Melatih anak untuk mengambil keputusan juga akan memicu anak untuk belajar berpikir analitis dengan merangkaikan hal-hal yang sudah dipelajari dan dipahaminya.
  8. Tingkatkan kesempatan bersosialisasi. Semua pengalaman emosional yang diperoleh anak akan mempengaruhi pembentukan jalinan antar sel-sel saraf pada otaknya. Anak butuh kesempatan bersosialisasi seluas-luasnya karena akan memperkaya pengalaman emosional anak, serta sarana untuk belajar mengekspresikan perasaannya. Semakin baik kecerdasan emosional anak, semakin baik pula penyampaian rangsang antar sel-sel saraf pada otaknya.
  9. Cukupi kebutuhan gizinya. Nutrisi untuk otak, terutama DHA, terbukti berperan dalam perkembangan otak anak pada “periode emas”. Berikan konsumsi jenis makanan kelompok brain food, misalnya makanan sumber protein, untuk meningkatkan kemampuan berkonsentrasi, berpikir dan kewaspadaan.
  10. Jaga kesehatan anak. Olahraga atau latihan fisik tidak hanya membuat tubuh anak sehat, tapi juga membuat dia cerdas! Sebab, selain sirkulasi oksigen, gula dan zat gizi menjadi lancar ke seluruh tubuh dan otak, juga akan memicu produksi hormon untuk sel saraf (nerve growth factor). Dengan tubuh sehat, anak memiliki kesempatan luas untuk belajar berbagai hal, serta mengeksplorasi potensi kecerdasan dalam dirinya dengan optimal. Sumber dari : http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/balita/psikologi/10.pola.asuh.untuk.anak.cerdas/001/007/1080/1/1 

Rabu, 13 Agustus 2014

Kesadaran Masyarakat Laporkan Kasus Kekerasan Anak Masih Rendah

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sampai saat ini kesadaran masyarakat maupun petugas kesehatan melaporkan kejadian kekerasan terhadap anak masih rendah. Padahal Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan Permenkes nomor 68/2013 tentang kewajiban pemberi layanan kesehatan untuk memberikan informasi apabila ada dugaan kekerasan terhadap anak.
"Semua pihak berperan dalam mencegah, melaporkan kejadian untuk cegah terjadinya kekerasan yang berkelanjutan," kata Dirjen Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kementerian Kesehatan RI, Anung Sugihantono saat seminar Dampak Kekerasan terhadap Tumbuh Kembang Anak di Jakarta, Selasa (12/8/2014).
Kekerasan terhadap anak akan berdampak pada fisik, psikologis, sosial dan fungsi kognitif yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangannya.
"Gangguan pada salah satu proses tahapan tumbuh kembang anak akan mempengaruhi proses tumbuh kembang anak selanjutnya, bahkan menurunkan kualitas hidup anak," katanya.
Laporan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) triwulan keempat yang dilaporkan ke Presiden menyebutkan tahun 2013 terdapat  1050 anak yang jadi korban kekerasan dan 436 mengalami kekerasan seksual.
Tahun 2013, terdapat 15 anak per bulan sebagai pelaku kekerasan sensual yang harus berhadapan dengan hukum.
Sumber : https://id.she.yahoo.com/kesadaran-masyarakat-laporkan-kasus-kekerasan-anak-masih-rendah-062421086.html

Selasa, 12 Agustus 2014

Peran Bunda Pada Tumbuh Kembang Anak


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Bunda tidak hanya berperan dalam menjaga, memperhatikan tumbuh kembang anak, tapi juga mampu mempengaruhi perilaku suami.
"Salah satunya, Ibu mampu mempengaruhi perilaku suami. Seperti meminta suami berhenti  merokok, uangnya  untuk tumbuh kembang anak," kata Dirjen Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak dr Anung Sugihantono saat pembukaan seminar Peran Keluarga dalam Optimalisasi Tumbuh Kembang Anak di Jakarta, Selasa (12/8/2014).
Untuk optimalisasi tumbuh kembang, Kementerian Kesehatan akan terus mengupayakan pencapaiannya. Salah satunya UU Kesehatan pasal 128 menyatakan, tiap bayi berhak mendapatkan air susu ibu eksklusif.
Pihak keluarga, pemerintah pusat, pemerintah daerah dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilutas khusus.
Meningkatkan tumbuh kembang anak tidak hanya menjadi tanggungjawab lembaga pemerintah, namun juga lembaga non pemerintah seperti lembaga pendidikan atau  akademisi.
"Ini bertujuan meningkatkan pemahaman tumbuh kembang anak di lingkungan  rumah tangga," katanya.
Anung mengingatkan orangtua jangan beranggapan anak adalah  akibat dari perkawinan, tapi tujuan dari perkawinan.
"Dengan demikian, tumbuh kembangnya sejak semasa kehamilan sampai kelahiran harus mendapatkan perhatian," katanya.
Sumber : https://id.she.yahoo.com/peran-bunda-pada-tumbuh-kembang-anak-050700873.html

Kamis, 26 Juni 2014

Mengajar Anak Berpuasa, Berikanlah Contoh





Ramadan, masa berpuasa sebulan penuh bagi umat Islam, dikenal sebagai bulan penuh berkah. Orang tua pun penuh harap agar anaknya mulai belajar menjalankan ibadah tersebut, kendati belum ada kewajiban. Tentu tak mudah mewujudkannya.
Dosen Psikologi Sosial di Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran, Bandung, Sri Rahayu Astuti mengakui, mengajarkan anak berpuasa semakin dini semakin baik. Namun pola pengajarannya harus dilakukan bertahap.
Pada dasarnya kebutuhan makan anak juga harus dipenuhi. "Orang tua tidak boleh memaksa anak menuntaskan puasanya, sementara anak tersebut sudah sangat haus dan lapar. Hal ini dapat mengakibatkan dehidrasi dan sakit fisik pada anak," ujar Rahayu saat dihubungi Plasadana.com untuk Yahoo Indonesia, Kamis, (19/06).
Bagi anak yang susah makan, boleh jadi puasa membuatnya lebih nyaman. Tetapi untuk anak yang senang makan, bakal sedikit mengalami kesulitan karena harus menahan hasratnya untuk makan dan minum selama beberapa jam.
Bayangkan, anak-anak yang biasa makan tiga kali sehari, kemudian menjadi dua kali. Selain itu, waktunya pun berbeda. Sarapan yang biasanya pukul tujuh pagi berubah menjadi pukul empat atau saat sahur. Begitu pun dengan makan siangnya. Tentu hal ini menjadi persoalan baginya.
Karena itulah, sebaiknya anak-anak juga diberikan pemahaman yang baik tentang puasa. "Pada tahap belajar ini," dia menuturkan, "Anak harus diberikan pujian jika mengalami kemajuan dalam berpuasa." Sebagai contoh, dua hari pertama puasa dua jam, tiga hari berikutnya tiga jam, begitu seterusnya. Berikan pujian bahwa yang dilakukan adalah hal baik.
Rahayu mengingatkan bahwa contoh dari orang tua sangat penting. Saat ibu sedang tidak berpuasa lantaran menyusui atau haid, tidak boleh makan atau minum di depan anak yang sedang berpuasa karena bisa dicontoh anak. "Ibu harus juga menghormati orang lain yang sedang menjalankan ibadah puasa," ujarnya.
Bahkan tak salah juga seandainya kemajuan anak dalam belajar berpuasa diberikan imbalan berupa hadiah yang berjenjang. Misalnya, jika mampu meningkatkan puasa dari dua menjadi tiga jam dapat uang untuk ditabung sebesar Rp2 ribu rupiah dan seterusnya.
Tentang usia ideal berpuasa, Rahayu mengatakan sebaiknya di usia tujuh tahun, walaupun sebagai latihan awal, bisa juga di usia lima tahun. Awalnya bisa dua jam, kemudian menjadi tiga jam berpuasa. Setelah itu boleh makan. "Tahun berikutnya ada peningkatan," ujarnya.
Dia mengingatkan bahwa proses belajar akan melekat pada memori anak jika ia belajar dengan senang hati. Namun jika dipaksakan, termasuk soal puasa, hanya akan mengajarkan anak menjadi tidak jujur. Di depan orang tua mengaku berpuasa, tetapi saat tidak ada, ia bisa saja minum dan makan.
"Jika anak diajarkan tentang apa untungnya puasa dan bagaimana bagusnya puasa dia akan berpuasa dengan penuh kesadaran," ujar dia.
Rahayu juga mengungkapkan, tantangan berat saat mengajarkan anak berpuasa adalah ketika bepergian. Banyak orang yang masih makan dan minum di tempat yang tidak selayaknya.
Dalam kondisi seperti ini, orang dewasa (orang tua maupun saudara) yang bersama anak perlu memberikan pemahaman dan penjelasan, mengapa orang makan dan minum saat puasa agar anak tidak bingung. "Misalnya ibu itu makan dan minum saat puasa karena dia sedang menyusui atau haid," tegasnya.
Sumber : https://id.berita.yahoo.com/mengajar-anak-berpuasa--berikanlah-contoh-080810471.html

Rabu, 25 Juni 2014

Jangan Pernah Ajarkan Anak Berpuasa dengan Paksaan

MENGAJAK anak puasa Ramadan memang baik, tapi itu sejauh mereka senang menjalaninya. Apa sebab?

Hal ini karena anak masih membutuhkan banyak nutrisi untuk tumbuh kembangnya. Untuk itu, para  harus bisa memberikan banyak nutrisi saat berbuka dan sahur guna tubuh anak bisa beradaptasi dalam menjalani puasa.

"Rasa lemas saat anak menjalani puasa ialah keluhan yang umum muncul pada anak, hal ini karena tubuh mereka masih beradaptasi. Dari nutrisi yang seharusnya banyak masuk, menjadi tertahan terlebih dahulu untuk beberapa jam karena puasa. Inilah mengapa seorang anak itu belum diwajibkan untuk menjalani puasa," ucap Dr. Piprim B. Yanuarso SpA(K) seorang dokter spesialis anak RS. Cipto Mangunkusumo kepada Okezone

Selain itu, kata dia,  harus bisa mengajarkan puasa dengan cara yang baik dan menyenangkan, agar saat tiba masanya menjalani puasa ia mudah beradaptasi dan lancar menjalani puasa. Menurutnya, ada sejumlah  yang mengajak anak berpuasa tetapi dengan cara yang kurang tepat dan lantas membenci puasa. Sehingga saat masanya tiba menjalani puasa, itu menjadi beban tersendiri untuk mereka.

Sementara untuk memudahkan anak bisa menjalani puasa, Anda bisa memberikan hadiah untuk memacu agar ia belajar menjalani puasa dengan baik, tambah Dr.Piprim. Tak kalah penting, harus juga bisa mengajarkan arti puasa secara perlahan untuk si anak, agar ia bisa menjalani puasa tanpa adanya paksaan.

"Untuk anak bisa menjalani puasa dengan fun, para  harus bisa menjelaskan manfaat puasa bagi si anak itu sendiri. Misalnya Anda selaku  menjelaskan bahwa hasil dari menjalani puasa ini bisa membuat ia masuk surga. Anda harus bisa menjelaskan perumpamaan arti surga,  misalnya " Surga itu nak, lebih indah dari Dufan, masuknya juga gratis lho dan kamu bisa bermain kapanpun kamu mau'. Pasti itu akan menggugah pikiran dan motivasinya untuk menjalani puasa dengan lebih senang," tutupnya.
sumber : http://health.okezone.com/read/2013/08/02/486/846930/jangan-pernah-ajarkan-anak-berpuasa-dengan-paksaan