.

STOP Kekerasan dalam keluarga CIPTAKAN SUASANA NYAMAN DALAM KELUARGA

Rabu, 05 Desember 2012

Cara Ampuh Mengatasi Persaingan Antar Saudara

Jika Anda punya anak tunggal tentu tidak akan mengalami masalah ini. Tetapi jika Anda punya 2 orang anak atau bahkan lebih, maka ini adalah sesuatu yang bisa membuat kepala Anda pusing, bahkan bisa membuat Anda histeris mungkin. Banyak orang tua sering mengeluhkan, saya nggak abis pikir dia itu bisa mengirikan kakaknya atau bagaimana dia bisa mengirikan adiknya. “Kan saya sudah berlaku adil terhadap mereka” ungkap orang tua pada umumnya. Anda tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan masalah ini? Persaingan antar saudara mau tidak mau pasti terjadi. Ini adalah sebuah masalah untuk menunjukkan jati diri dari masing-masing anak. Setiap manusia bahkan anak-anak ingin dirinya dianggap sebagai sosok individu yang special. Nah,inilah yang terjadi pada anak-anak kita.
Seorang kakak dipuji karena ia pandai menggambar misalkan, pandai berhitung misalkan. Nah, si adik tentunya juga ingin dipuji, tetapi bukan terhadap hal yang sama mungkin. Mungkin ia akan merasa bahwa, “ah.. saya tidak mungkin bersaing disitu karena kakak saya lebih bagus” atau “adik saya lebih bagus”. Maka ia akan mencari bidang yang lain. Jika Anda tidak tanggap terhadap hal ini, inilah yang akan memicu persaingan itu jadi semakin sengit. Seringkali orang tua mengatakan “aduh..hebatnya kamu”. Nah, ketika ia mengatakan ini di depan adik atau kakak maka adik atau kakak tersebut bisa jadi akan merasa tersinggung, “Koq dia yang dipuji, saya koq tidak”.Bagaimana mengatasi hal ini? Inilah caranya:

1. Sederhana sekali, misalkan Anda berhadapan dengan anak nomor 1 dan Anda ingin memuji dia. Anda bisa mengatakan seperti ini, “Wah.. hebat nih, bagus sekali gambar kamu, sama ya seperti juga gambar adik”. Anda memuji anak Anda yang nomor 1, tetapi Anda juga memuji adiknya. Atau sebaliknya Anda berhadapan dengan anak Anda yang nomor 2 dan di dekatnya ada anak nomor 1. Anda mengatakan, “nah.. ini nih baru anak mama hebat sama seperti kakaknya”. Kebanyakan yang di lakukan para orang tua adalah memuji secara personal anak yang bersangkutan. Misalkan seorang adik bisa menyelesaikan sebuah tugas dengan baik, kebanyakan orang tua langsung memujinya “nah.. gitu hebat”. Nah, jika anak yang pertama Anda diam, bukan berarti dia tidak punya perasaan apapun disana. Jika ini sering terjadi dibawah sadarnya dia akan merasa bahwa, “ah.. papa atau mama sayangnya hanya sama adik, sama saya tidak”. Ini bisa terjadi, jadi berhati-hatilah terhadap hal tersebut. Jika Anda memuji anak Anda, pastikan jika ada anak lain disana puji anak tersebut secara tidak langsung. Jika tidak ada anak lainnya Anda boleh sampaikan pujian Anda secara personel pada anak tersebut.

2. Masalah yang lain adalah kurangnya waktu pribadi dengan masing-masing anak. Suatu hari saat selesai sebuah seminar, seorang bapak menghampiri saya dan mengatakan bahwa dia punya permasalahan untuk mengatasi persaingan antara anak-anaknya. Dia punya 2 orang anak dan dia mengatakan bahwa dia sudah bersikap adil pada mereka semua. Bahkan mereka selalu keluar bersama-sama sebagai sebuah keluarga, tetapi mengapa hal ini masih bisa terjadi. Kemudian saya bertanya pada sang bapak ini. “Pak, apakah bapak pernah mengajak salah seorang anak saja untuk pergi keluar bersama bapak sendiri. Atau mungkin bersama bapak dan ibu”. “Itu tak pernah terjadi selama 13 tahun saya menikah dan saya berkeluarga. Kita selalu pergi bersama-sama”. Nah, inilah masalahnya. “Loh.. koq bisa?” kata bapak itu terkejut, mungkin Anda bisa juga mengatakan oh.. bukankah itu juga hal yang bagus? Keluar bersama-sama sebagai sebuah keluarga. Bukankah itu menjalin sebuah kebersamaan. Ya, itu memang menjalin sebuah kebersamaan, tetapi anak Anda juga memerlukan sesuatu yang lain lagi. Dia ingin dianggap sebagai individu yang special. Ketika Anda keluar hanya dengan salah satu anak saja, katakanlah dengan anak nomor 1 saja kali ini, maka dia akan merasa bahwa dirinya special. Ia akan merasa bahwa dirinya adalah yang diperhatikan untuk saat itu. Lain kali Anda keluar dengan anak nomor 2 saja dan dia akan merasa bahwa dia juga diperhatikan. Karena sebagai anak nomor 2, hal yang yang sering terjadi adalah dia akan selau merasa sebagai nomor 2, karena memang itulah kenyataannya. Dia tidak akan pernah merasakan kapan jadi nomer 1. Nah, sampai dia tua pun si kakak pasti jadi nomor 1 dan ia jadi nomor 2, bukankah seperti itu. Karena itu Anda perlu mengantisipasi perasaan ini, dengan cara menjadikannya nomor 1 pada satu waktu tertentu. Ajak dia keluar, istimewakan dia, buat dia merasa bahwa “yes.. sekarang saya nomor 1″. Imbangi dengan sebuah nasehat bahwa kakaknya juga penting. Katakan kepada anak Anda yang nomor 2 misalkan pada saat Anda mungkin mengajaknya makan di restaurant, “hey.. kalau kita belikan kakak makanan kesukaanya bagaimana? nanti kamu yang kasih oke”. Disini Anda membuatnya merasa penting, tetapi Anda juga membuatnya untuk mempunyai rasa perduli pada saudaranya sendiri.

Nah, itu adalah hal-hal yang kecil yang anda perlu lakukan agar persaingan-persaingan seperti ini tidak mencuat jadi sebuah isu yang panas di keluarga Anda. Lakukan hal ini sejak mereka masih kecil. Wah kalau anak saya sudah besar sekarang bagaimana? Anda masih punya waktu untuk melakukannya sekarang. Perbaiki semuanya dan Anda akan melihat hubungan mereka akan jauh lebih baik lagi dan sebagai sebuah keluarga akan sangat kokoh dan sangat kuat.

Salam
Timothy Wibowo
Sumber : http://www.pendidikankarakter.com/cara-ampuh-mengatasi-persaingan-antar-saudara/

Senin, 03 Desember 2012

Perempuan dan Anak Paling Rentan Tertular HIV

Ghiboo.com - Kasus HIV di Indonesia umpama fenomena gunung es. Artinya kasus yang terdeteksi hanya sebagian kecil dari kasus yang sebenarnya di masyarakat.

Menurut Laporan Situasi HIV dan AIDS Kemkes, jumlah kumulatif kasus AIDS di Indonesia meningkat tajam dari 7.195 di tahun 2006 menjadi 76.879 di tahun 2011.

"Rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai HIV/AIDS mendukung semakin tingginya angka penularannya," ungkap Drg. Ida Suselo Wulan, MM dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI (1/12).

Menurutnya, perempuan dan anak paling rentan terkena penularan HIV/AIDS. Penularan HIV melalui seks berisiko masih menjadi penyebab utamanya.

Dalam laporan bulan Januari hingga Maret 2012 Kemkes diketahui presentase penularan dari ibu positif HIV ke anak sebanyak 5,1 persen. Kebanyakan perempuan tertular dari pasangannya, kemudian diwariskan kepada anaknya.

Drg. Ida menyarankan setiap pasutri menjaga kesehatan sistem reproduksi demi mengurangi tingkat penularan HIV/AIDS.

"Perempuan akan memproduksi sumber daya manusia (melahirkan). Jika dia positif, pada akhirnya akan menghasilkan anak yang tidak berkualitas baik bagi keluarga dan bangsanya," tambah drg. Ida.
Sumber : http://id.she.yahoo.com/perempuan-dan-anak-paling-rentan-tertular-hiv-153000038.html

Jumat, 30 November 2012

Kekerasan Perempuan Bisa Berdampak ke Anak

TEMPO.CO, Jakarta -- Kekerasan terhadap perempuan, khususnya ibu rumah tangga, bisa berpengaruh pada anak. Seperti yang menimpa Puspa, bukan nama sebenarnya.
Beberapa tahun lalu, dosen sebuah perguruan tinggi di Semarang, Jawa Tengah, ini nyaris tewas di tangan suaminya sendiri. Kisah pilu perempuan bergelar doktor ini dimulai ketika usia perkawinannya memasuki tahun kelima.
Pada saat itu, suaminya mulai kerap pulang malam. Dan ada bau parfum wanita lain di pakaiannya. Kala mencoba menanyakan, bukan jawaban yang Puspa dapatkan. Si suami malah membenamkan kepala Puspa ke bak mandi.
"Mata saya berdarah membentur keran dan belakang kepala benjol besar," kata Puspa di Koran Tempo, Ahad, 25 November 2012. »Dokter yang mengobati saya sampai menawarkan untuk membuat visum.”

Terus mendapat kekerasan, Puspa bergeming. Ia memilih bertahan demi putri-putrinya. Tapi kekerasan terus menimpanya. Bahkan, tiap usai melakukan kekerasan, si suami meminta maaf dan bersikap manis kepada Puspa, sampai beberapa hari.
"Tapi kemudian diulang lagi,” katanya. "Belakangan, dia selalu berupaya untuk membunuh saya."
Akhirnya, dua tahun lalu, pengadilan agama mengabulkan gugatan perceraian Puspa. Namun, hingga kini, sang suami masih mengincar hartanya.
Meski sudah berpisah dari suaminya, masalah belum juga usai. Gara-gara perlakuan si suami, kempat putri Puspa mengalami trauma.
Ketika dewasa, putri-putrinya kerap menarik diri. Terutama bila ada teman pria mereka yang berusaha mendekat.
Bahkan putri sulung Puspa sengaja menggemukkan badan agar tampil tidak menarik. "Dia ingin, kalau pria mendekatinya, itu benar-benar tulus mencintai," kata Puspa.
Sumber : http://id.berita.yahoo.com/kekerasan-perempuan-bisa-berdampak-ke-anak-064822108.html

Kamis, 22 November 2012

Menumbuhkan Jiwa Volunteer pada Anak-Anak

Membantu sesama manusia, apapun agama dan rasnya, adalah ajaran yang bersifat universal. Akan tetapi, kepekaan untuk mengulurkan tangan saat melihat atau mendengar kesulitan yang dialami oleh orang lain ternyata tidak dengan begitu saja berkembang pada jiwa manusia. Dibutuhkan proses latihan dan sentuhan pendidikan. Dunia pengasuhan anak walau bagaimanapun mewadahi tugas ini.
Mengapa kepekaan membantu menjadi penting dimiliki seorang anak? Alasannya bisa ditarik dari beberapa sudut pandang, mungkin ajaran agama, mungkin humanisme, atau mungkin untuk kebutuhan timbal-balik agar mereka juga diperlakukan baik oleh orang lain.
Apapun motivasinya, jiwa membantu/jiwa relawan atau jiwa volunteer akan memberi anak-anak kualitas diri yang luar biasa. Persoalan kehidupan menjelma di berbagai sudut, tanpa jiwa volunteer, semuanya akan selalu berakhir bak kehidupan rimba, di mana ego meraja, dan kaum tertindas makin terlindas, sehingga keadilan pun makin menjauh dari kehidupan manusia.
Semakin banyak anak yang terdidik dan terasuh dengan nilai-nilai sosial maka akan ada harapan di masa depan, mereka akan menjadi pionir untuk terwujudnya masyarakat yang saling menolong dan bukan saling menguasai demi kepuasan ego.

oleh: Maya A. Pujiati
http://duniaparenting.com/menumbuhkan-jiwa-volunteer-pada-anak-anak/#comment-98

Kamis, 08 November 2012

Anak Patuh pada Orangtua? Ini Caranya

TAK jarang, orangtua menemui kesulitan saat mendidik anak menjadi seseorang yang patuh. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya orangtua yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya.
Karena itu, Anda perlu simak panduan ini agar anak lebih patuh perkataan orangtua, seperti dilansir Boldsky.

- Hal pertama yang harus dilakukan adalah, Anda perlu memahami sikap dan perilaku anak. Anda perlu memerhatikan alasan anak tidak mau mendengarkan perkataan Anda. Alasan anak tidak mau mendengar Anda mungkin mereka tidak menyukai hal yang Anda katakan. Untuk mengatasi hal ini, Anda perlu mengobrol dengan anak untuk mengetahui apa yang mereka inginkan.

- Membuat anak patuh pada orangtua bukanlah perkara mudah. Sebagai orangtua, Anda perlu memberi pengertian kepada anak bahwa patuh pada orangtua merupakan hal yang baik.

- Mengajarkan anak agar patuh pada Anda perlu dilakukan secara pelan dan sabar. Anda tidak perlu marah bila anak tidak taat, namun cukup memberitahunya dengan nada bicara biasa namun tegas. Anda pun tidak perlu memukulnya. Anda hanya perlu memberitahu bahwa hal yang dilakukannya salah.

- Anda perlu memberikan contoh kepada anak mengenai kepatuhan. Contoh tersebut dapat Anda berikan melalui dongeng. Anda bisa menceritakan beberapa dongeng atau memberinya buku bacaan. Melalui cara ini, anak anak belajar nilai-nilai tentang kehidupan.
Sumber : http://lifestyle.okezone.com/read/2012/04/02/196/604009/anak-patuh-pada-orangtua-ini-caranya

Senin, 05 November 2012

Cara Merekatkan Hubungan Ayah - Anak

Ghiboo.com - Inilah bagian dari usaha membuat suami makin dekat dengan "anak-anak" yaitu bermain. Bermain bersama ayah bisa menggunakan konsep klasik, "bermain di luar rumah" tanpa kehadiran ibu, tentunya.

Beberapa pilihannya adalah:
1. Mencuci mobil bersama. Ajarkan cara mencuci mobil yang sederhana, agar mereka merasa diberi tanggung jawab dan kepercayaan

2. Ajak anak Anda camping, cukup satu malam. Kenalkan asyiknya berkegiatan di luar rumah dan menyatu dengan alam.

3. Luangkan waktu saat akhir pekan, ajak anak berenang. Ini adalah waktu eksklusif dengan ayah, biarkan ibu di rumah.

4. Memasak bersama adalah kegiatan menyenangkan sekaligus media untuk belajar karena ada aktivitas membaca, memahami, menyimak, dan berbicara.

5. Lakukan obrolan ringan sambil bersepeda. Buat suasana menjadi nyaman agar buah hati Anda tidak segan berbagi cerita.

6. Bermain bola mengajarkan kerja sama tim dan akselerasi gerakan anggota tubuh. Asah kreatifitasnya, menciptakan permainan lainnya yang menggunakan bola.

(Majalah Goodhousekeeping September 2012) 
 sumber : http://id.she.yahoo.com/cara-merekatkan-hubungan-ayah-anak-113000175.html

Jumat, 02 November 2012

Orang Tua Bercerai, Anak Ikut Siapa?

K eputusannya ditentukan oleh pengadilan. Namun umumnya, perwalian diserahkan kepada ibu.
Ketika sebuah pernikahan harus berakhir di pengadilan, maka hak perwalian anak sering menjadi rebutan. Menurut Nursjahbani Katjasungkana, SH  secara alami hak perwalian anak yang usianya masih di bawah 12 tahun akan jatuh ke pihak ibu. Namun, bukan tak mungkin hak itu jatuh ke tangan ayah apabila di pengadilan suami bisa membuktikan bahwa istrinya bukan ibu yang baik.
Tentu saja proses pembuktian bukanlah perkara mudah. "Pada kasus perselingkuhan seorang istri, misalnya, bisa saja ia terbukti bersalah, tapi pengacara masih dapat membelanya dengan menyatakan ia tetap bisa menjadi ibu yang baik bagi anaknya."
Perbedaan agama suami dan istri juga bisa menjadi penyebab. Jika anak memeluk agama yang sama dengan ayahnya, maka hak perwalian bisa jatuh ke tangan ayah. Juga, jika ibu pergi dari rumah dengan meninggalkan anak-anaknya. Peristiwa itu bisa dijadikan argumen suami untuk merebut hak perwalian anak. Tak peduli jika misalnya kepergian ibu disebabkan kekerasan domestik yang dilakukan suami terhadapnya. Menurut Nursjahbani, kedua penyebab ini sangat patriarkal atau memihak kekuasaan laki-laki.
Terakhir, jika ibu memang merasa tak mampu atau tak ingin menjadi wali anaknya sementara suami menyanggupi. Yang jelas, hak perwalian biasanya diputuskan dengan perjanjian di luar pengadilan supaya proses legalitas perceraian berlangsung cepat.
MENGAPA IBU?
"Sampai usia 12 tahun, seorang anak masih sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang ibu," demikian kata Dra. Hj. Triesna Wacik, Psi  dari Forum Keluarga Visi-21. Inilah yang menjadi alasan mengapa jika perceraian terjadi, hak perwalian anak di bawah usia 12 tahun menjadi milik ibu. Pertimbangan lainnya, apabila hak perwalian jatuh ke tangan suami, mungkin akan timbul masalah yang lebih besar daripada jika anak ikut ibunya. "Bagaimanapun, kalau selama masa pernikahan suami lebih banyak menghabiskan waktu untuk mencari nafkah di luar rumah, maka suami harus 'belajar keras' tentang pola pengasuhan anak. Ia harus bisa menjadi ayah sekaligus ibu bagi anaknya."
Menurutnya, dalam banyak kasus, anak balita yang berada dalam pengasuhan ayah akan mengalami masalah emosional di kemudian hari. Bersama ayah, anak cenderung merasa kesepian dan berkurang rasa amannya pada diri sendiri. Bukan tak mungkin kalau akhirnya nanti ia akan mencari pelarian di luar rumah.
Triesna menambahkan, di Indonesia umum terjadi, pasangan yang bercerai kemudian menitipkan anak pada nenek atau saudara lain karena satu dan lain hal. Selama nenek atau saudara ini memang bijaksana dalam mendidik anak, dan bisa menempatkan posisinya dengan benar, bisa jadi malah lebih baik bagi perkembangan emosional anak. "Yang harus diperhatikan, jangan sampai anak merasa 'dibuang' oleh kedua orang tuanya,'' tekan Triesna.
Kalaupun tidak sampai dititipkan, campur tangan keluarga besar tetaplah baik, asalkan tujuannya memang untuk kebaikan anak. Sering terjadi, hak perwalian anak diperebutkan justru untuk kepentingan keluarga besar, sehingga anak jadi bingung. "Hindari hal seperti itu karena bagaimanapun juga anak telah menjadi korban perceraian kedua orang tuanya,'' pesan Triesna. "Jangan sampai ia dikorbankan lagi demi kepentingan keluarga besar salah satu orang tuanya."
HAK-HAK WANITA DAN ANAK
Soal hak perwalian di tangan ibu menurut Nursjahbani diperkuat oleh pasal 41 UU Perkawinan. Di dalamnya tertera bahwa hak-hak wanita pada kasus perceraian adalah menjadi wali bagi anaknya yang belum dewasa (di bawah 12 tahun), mendapat nafkah dari mantan suami selama 3 bulan 10 hari, dan mendapat harta gono-gini  sebanyak setengah dari seluruh harta yang dikumpulkan selama masa pernikahan.
Katanya, jika terjadi sengketa maka beberapa hal bisa dibuatkan perjanjian di luar pengadilan. Misalnya bila istri tidak mempunyai penghasilan tetap, maka bisa dibuat perjanjian bahwa mantan suaminya tetap memberi tunjangan hidup bagi anak dan dirinya tanpa kehilangan hak perwalian.
Nursjahbani kemudian menambahkan, "Dalam pasal 41 UU Perkawinan juga disebutkan, suami maupun istri tetap bertanggung jawab atas pendidikan anak. Mantan suami tetap berkewajiban untuk memberi tunjangan pendidikan anak, kecuali bila suami tidak mampu, maka istri bisa membantu."
"Dalam kompilasi hukum Islam juga ada ketentuan akan mut'ah atau uang penghiburan (moral support ), dan mas'ah atau menyediakan tempat tinggal tetap bagi mantan istri," lanjutnya. "Dalam PP No 10, pemberian nafkah itu diatur sampai si wanita ini menikah lagi. Secara terperinci malah disebutkan bahwa sepertiga gaji suami untuk anak, sepertiga untuk mantan istri, dan sepertiga untuk dirinya sendiri."

Sumber : http://www.tabloidnova.com/Nova/Keluarga/Pasangan/Orang-Tua-Bercerai-Anak-Ikut-Siapa