.

STOP Kekerasan dalam keluarga CIPTAKAN SUASANA NYAMAN DALAM KELUARGA

Rabu, 03 Juni 2015

Kesalahan Memberi Imbalan pada Anak

PERDEBATAN besar terjadi antara para pemerhati anak dan pakar keuangan tentang kepantasan memberi imbalan untuk anak. Ada yang membenarkan ada juga yang mengatakan itu salah.
 
Sering ditemukan orangtua yang memberi anak imbalan berupa uang atau barang setelah anak menyelesaikan tugas-tugasnya. Alasan mereka beragam. Ada orangtua yang ingin anak termotivasi untuk belajar lebih baik lagi setelah mendapat imbalan, ada pula yang ingin mengajarkan anak tentang arti dari usaha.
 
Misalnya, anak membantu orangtua mengerjakan pekerjaan rumah, seperti membereskan kamar akan mendapat uang saku tambahan. Cara ini diberlakukan orangtua pada anak agar anak-anak paham tentang arti bekerja. Agar anak juga mengerti tujuan orangtuanya bekerja dan turut merasakan. Sedini mungkin anak sudah dilatih bekerja. Jadi, semua yang dilakukan anak ada reward sebagai bentuk apresiasi.
 
Akan tetapi, cara ini dipersalahkan dan menjadi perdebatan. Orangtua dianggap tidak mengajarkan tentang ketulusan dan telah mempekerjakan anak kecil. Bekerja adalah tugas orang dewasa dan tidak seharusnya diberlakukan pada anak-anak.
 
Sebab, jika anak sudah mengerti bekerja dan uang sejak kecil, mereka akan terus meminta imbalan dan pikiran mereka hanya diisi dengan uang. Seharusnya orangtua yang meminta anak bekerja di rumah untuk membantu tugas-tugas mereka dengan menanamkan nilai tanggung jawab dan kasih sayang. Anak harus terlibat urusan rumah karena mereka adalah bagian dari keluarga. Demikian dilansir dari Familyshare, Rabu, (3/6/2015).(vin)
(pad)
Sumber  http://lifestyle.okezone.com/read/2015/06/02/196/1159091/kesalahan-memberi-imbalan-pada-anak?ref=yfp 

Senin, 30 Maret 2015

3 Tips Penting Pilih Sekolah untuk Anak

3 Tips penting pilih sekolah untuk anak – Pendidikan merupakan wahana untuk mewujudkan masa depan anak yang lebih baik. Melalui pendidikan juga akan ditentukan bagaimana generasi muda untuk sekian tahun yang akan datang. Namun demikian, kualitas pendidikan yang dilalui anak lebih menentukan warna dan corak generasi muda yang akan datang.
Setiap lembaga sekolah pasti akan menawarkan produk layanan yang eksklusif kepada orang tua. Berbagai media digunakan untuk mempromosikan sekolah dengan tujuan untuk memperoleh peserta didik baru sesuai target mereka. Embel-embelnya adalah pendidikan yang berkualitas untuk masa depan anak.
Orang tua maupun anak bisa kebingungan memilih salah satu sekolah tempat belajar anak. Habis, semuanya baik dan berkualitas. Lalu bagaimana cara memilih sekolah yang baik untuk anak? 
Memilih sekolah perlu mempertimbangkan banyak hal. Salah satunya tepat bagi anak maupun orang tua. Ketepatan memilih sekolah untuk anak akan mendorong tercapainya prestasi belajar yang memuaskan. Anak merasa suka dan nyaman untuk belajar sehingga berpeluang memperoleh hasil belajar yang diinginkan.
1.Kemauan dan kemampuan anak.
Mempertimbangkan kemauan dan kemampuan anak sangatlah penting dilakukan oleh orang tua. Orang tua perlu mengetahui kemauan anak yang sesungguhnya sehingga tidak terkesan memaksakan kemauan orang tua untuk memilih sekolah. Begitu pula apakah anak mampu untuk bersekolah di tempat yang dipilihkan atau tidak. Memilihkan sekolah anak berdasar kehendak orang tua beresiko tidak baik kepada anak.
2.Kondisi ekonomi.
Seorang anak mungkin saja mempunyai kemauan dan kemampuan untuk memilih sekolah tertentu namun perlu disesuaikan dengan keadaan ekonomi. Sekolah kategori mahal justru akan membuat orang tua kewalahan untuk membiayai anak. Yang perlu dipertimbangkan orang tua adalah biaya pendidikan yang menyangkut seragam sekolah, buku pelajaran, akomodasi, transportasi atau biaya tempat kost anak jika jauh dari rumah.
3.Pelayanan pendidikan di sekolah.
Poin ketiga ini sesungguhnya amat penting untuk dipertimbangkan oleh orang tua. Bimbing anak untuk memilih sekolah yang mengutamakan pengembangan sikap dan karakter baik untuk kepentingan masa depan anak. Sekolah yang mengedepankan aspek pendidikan moral, budi perti luhur, di samping aspek intelektual dan psikomotorik anak.
Indikasi sekolah dengan layanan pendidikan karakter, sikap dan budi perkerti luhur akan terlihat dari bagaimana proses belajar anak, penerapan disiplin sekolah dan disiplin belajar, tradisi dan kebiasaan baik yang dilakukan setiap hari di sekolah. 
sumber: http://log.viva.co.id/frame/read/aHR0cDovL3d3dy5tYXRyYXBlbmRpZGlrYW4uY29tLzIwMTUvMDMvMy10aXBzLXBlbnRpbmctcGlsaWgtc2Vrb2xhaC11bnR1ay1hbmFrLmh0bWw=

Jumat, 27 Maret 2015

Usia Berapa Anak Siap untuk Sekolah?

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Para orang tua biasanya berharap bisa menyekolahkan anaknya sedini mungkin untuk mempercepat proses perkembangan kognitifnya. Karena itu, tak jarang kita menemukan anak-anak usia dini (3-5 tahun) yang sudah cukup mahir membaca dan berhitung. Namun, usia berapa sebaiknya anak-anak kita siap untuk disekolahkan?

Menurut psikolog Universitas Pancasila, Aully Grashinta, usia bukanlah faktor utama dalam memutuskan untuk menyekolahkan anak di usia dini. Sebab, usia 3-5 tahun merupakan masa bermain anak, di mana mereka sebenarnya berada dalam tahap perkembangan psikomotorik kasar yang melatih keseimbangan, konsentrasi, serta koordinasi tubuhnya.

Selain itu, pola pikir anak usia dini belum dalam tahapan menginginkan sekolah. “Mungkin anak-anak usia dini akan berkata, ‘Ma, aku ingin sekolah’, tapi sebenarnya mereka hanya sekadar mengatakan dan belum memahami apa itu sekolah,” ujar Shinta, Kamis (26/3).

Karena itu, Shinta mengatakan bahwa tidak ada ciri-ciri yang pasti untuk melihat bahwa anak kita sudah perlu untuk disekolahkan. “Bukan tergantung usia anak, tapi tergantung kita sebagai orang tua ingin mempersiapkan anak kita seperti apa,” lanjutnya.

Menurut Shinta, bisa jadi ayah dan ibu menyekolahkan anak di usia dini karena ingin melatih kedisiplinannya untuk bangun pagi atau melatihnya bersosialisasi dengan teman sebaya, sebelum ia cukup usia untuk masuk TK. “Kembali lagi, tergantung tujuan orang tua,” jelasnya.
Sumber  http://gayahidup.republika.co.id/berita/gaya-hidup/parenting/15/03/26/nlsvyi-usia-berapa-anak-siap-untuk-sekolah

Rabu, 11 Maret 2015

Empat Langkah Mendidik Anak Berjiwa Sportif

TRIBUNNEWS.COM -Si kecil begitu aktif mengikuti banyak pertandingan olahraga di sekolah termasuk kompetisi kecerdasan.
Dalam suatu kompetisi, pasti ada kemenangan dan kekalahan. Untuk sebagian anak-anak, banyak belum bisa menerima kekalahan dengan cara yang bijak dan lapang dada. Tak sedikit yang merespon kekalahan dengan tangisan, mengamuk, dan sebagainya.
Di sinilah tugas orangtua untuk mengajarkan dan memberikan pengertian soal jiwa sportifitas pada sang buah hati. Seperti uraian berikut ini:
Berikan contoh yang baik
Ketika menonton sebuah pertandingan, jangan pernah menghina tim lawan. Cara ini mengajarkan anak bahwa menghina dan menyudutkan orang lain adalah hal yang lumrah. Sebaliknya, berikan tanggapan positif tentang tim lawan di depan anak Anda.
Berikan aturan dasar sportivitas
Orang yang paling bertanggung jawab untuk mengajarkan anak tentang sportivitas dan berjiwa lapang dada adalah orangtua.
Biarkan anak Anda tahu ekspektasi Anda mengenai cara memperlakukan lawan. Yakinkan anak Anda untuk tidak mengikuti teman-temannya yang mengejek tim lawan yang kalah.
Fokus pada pertandingan, bukan pada hasil
Ajarkan anak untuk fokus kepada pertandingan yang adil dan kerjasama tim. Jangan ajarkan anak untuk terobsesi dengan kemenangan semata.
Sebab, jika Anda mengajarkan anak untuk fokus pada hasil, maka saat dewasa dia akan memakai segala cara untuk memperoleh apapun yang mereka mau, tanpa mempertimbangkan dampak buruk dan baik.
Berikan anak pengertian kalah
Ketika anak kalah, jangan kelihatan bersedih, kecewa atau marah. Berikan dia dukungan dan semangat serta pengertian tentang kalah yang terhormat.
Ajarkan anak untuk memberikan selamat dan menghargai perjuangan tim lawan. Kemudian, bantu anak mengevaluasi pertandingan dengan mempelajari kesalahannya dan kekurangan si kecil.
Tularkan pengertian pada anak bahwa kalah adalah sebuah kondisi wajar dalam kehidupan. Sebab, berangkat dari kesalahan seseorang akan termotivasi dan menghargai sebuah kemenangan.
sumber  http://www.tribunnews.com/lifestyle/2015/03/11/empat-langkah-mendidik-anak-berjiwa-sportif?page=2

Jumat, 30 Januari 2015

Cegah Anak Menggunakan Kata Kasar dengan Cara Ini

Thursday, 29 January 2015, 17:30 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Balita cepat sekali belajar. Semua tindakan dan kebiasaan yang mereka lakukan bisa jadi karena terpengaruh dari lingkungan sekitarnya.
Jika anak bicara menggunakan kata yang kasar atau jorok, jangan dulu dimarahi. Tugas Anda sebagai orang tua adalah mengarahkannya kepada hal yang benar. Seperti dikutip dari www.parentsindonesia.com, nilah cara mencegah anak menggunakan kata kasar.

Berhenti menggunakan kata-kata kasar
Jangan gunakan kata-kata kasar atau jorok di depan balita. Ingat balita menganggap Anda sebagai panutan mereka. Mereka akan mengamati, mendengarkan, dan melakukan semua tingkah laku Anda.

Jika ingin balita Anda berhenti menggunakan kata-kata kasar, Anda harus menjadi contoh yang sempurna bagi mereka.

Perhatikan apa yang mereka tonton
Batasi anak Anda saat acara TV atau program lain yang menggunakan bahasa kasar. Balita percaya semua yang mereka lihat dan dengar.

Media visual memunyai dampak yang parah. Anak Anda mungkin belajar menggunakan kata-kata kasar dari televisi.

Kenali teman-teman mereka. Anda harus mengenal teman-teman anak Anda dan cara mereka berbicara. Jika teman anak Anda  menggunakan kata-kata kasar, dia akan berpikir bahwa kata-kata kasar teman mereka bisa diterima siapa saja. Ajarkan anak Anda untuk mengikuti apa yang benar.

Biarkan anak tahu mengapa kata itu 'buruk'
Cobalah untuk menjelaskan pada anak Anda bahwa kata yang biasa dia gunakan tidak baik, dan tidak boleh digunakan. Jelaskan kepada anak Anda mengapa menggunakan kata yang kasar tidak dapat diterima di rumah dan di masyarakat.

Biarkan mereka memahami dengan jelas bahwa berbicara dengan benar akan membuat mereka diterima di mana saja.

Gunakan kata-kata yang tepat
Karena bahasa adalah hal baru untuk anak, mereka mungkin bingung antara kata yang baik dan yang buruk. Saat di rumah sebaiknya hanya menggunakan kata-kata yang tepat, sehingga anak Anda akan mengerti mana yang harus diikuti.
sumber : http://gayahidup.republika.co.id/berita/gaya-hidup/parenting/15/01/29/nixp6m-cegah-anak-menggunakan-kata-kasar-dengan-cara-ini

Rabu, 14 Januari 2015

10 Pola Asuh Untuk Anak Cerdas

Kecerdasan anak hingga besar nanti dipengaruhi faktor lingkungan dan pola asuh yang diterimanya. Harus bagaimana agar ia tumbuh cerdas? Perhatikan 10 hal ini.
  1. Bebaskan anak mengeksplorasi lingkungan. Lingkungan menjadi sarana luas bagi anak untuk belajar tentang berbagai macam hal. Eksplorasi di alam memicu anak aktif bergerak juga meningkatkan rasa ingin tahu anak terhadap berbagai aspek kehidupan. Dorong anak mengeksplorasi lingkungan yang baru dikenalnya –misalnya sambil menyusuri sungai, ia belajar tentang sifat air yang mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah.  
  2. Ikuti minat anak. Untuk menggali potensi luar biasa di dalam diri anak, beri dukungan penuh pada bidang-bidang yang disukai anak, kalau perlu ikut berlatih dan menjadi teman berlatih yang menyenangkan untuknya.
  3. Tuturkan pengetahuan tentang dunia dan isinya. Berikan anak fasilitas dan kesempatan untuk mengenal dunia beserta seluruh aspek kehidupan. Ini membuat anak berpandangan terbuka terhadap berbagai berbagai hal ‘baru’ sesuai perkembangan ilmu pengetahuan.
  4. Bacakan aneka buku pengetahuan secara rutin dengan suara yang keras dan intonasi yang benar. Selain menumbuhkan minat membaca anak, anak juga akan menyerap pengetahuan dari buku untuk menunjang minatnya. Kebiasaan membaca buku juga menanamkan ikatan batin antara Anda dan si kecil.
  5. Jadilah model yang baik. Anak akan meniru orang tuanya. Maka, orangtua wajib menjadi role model atau panutan terbaik bagi anak –dalam seluruh aspek kehidupan sehari-hari. Tunjukkan minat Anda untuk selalu belajar dan menemukan hal-hal baru yang menarik dan kreatif bersama anak. Tunjukkan dan terapkan pola hidup sehat. Tunjukkan pula sikap menghargai serta empati kepada setiap anggota keluarga, orang lain, serta mahkluk hidup lain.
  6. Seringlah bertanya kepada anak. Ajukan beberapa pertanyaan kepada anak yang akan memancingnya untuk memberi jawaban berupa penjelasan yang juga merangsangnya untuk adu argumentasi. Atau ajak dia berdiskusi. Anda dapat memulainya dengan menanyakan secara rinci seputar hal-hal yang ia minati atau yang sedang dilakukannya. Selanjutnya, kembangkan untuk menggali jawaban dan pendapat anak terhadap berbagai hal.   
  7. Beri kesempatan mengambil keputusan. Membiasakan anak untuk mengambil keputusan akan melatih anak untuk belajar sebab-akibat serta tanggung jawab. Melatih anak untuk mengambil keputusan juga akan memicu anak untuk belajar berpikir analitis dengan merangkaikan hal-hal yang sudah dipelajari dan dipahaminya.
  8. Tingkatkan kesempatan bersosialisasi. Semua pengalaman emosional yang diperoleh anak akan mempengaruhi pembentukan jalinan antar sel-sel saraf pada otaknya. Anak butuh kesempatan bersosialisasi seluas-luasnya karena akan memperkaya pengalaman emosional anak, serta sarana untuk belajar mengekspresikan perasaannya. Semakin baik kecerdasan emosional anak, semakin baik pula penyampaian rangsang antar sel-sel saraf pada otaknya.
  9. Cukupi kebutuhan gizinya. Nutrisi untuk otak, terutama DHA, terbukti berperan dalam perkembangan otak anak pada “periode emas”. Berikan konsumsi jenis makanan kelompok brain food, misalnya makanan sumber protein, untuk meningkatkan kemampuan berkonsentrasi, berpikir dan kewaspadaan.
  10. Jaga kesehatan anak. Olahraga atau latihan fisik tidak hanya membuat tubuh anak sehat, tapi juga membuat dia cerdas! Sebab, selain sirkulasi oksigen, gula dan zat gizi menjadi lancar ke seluruh tubuh dan otak, juga akan memicu produksi hormon untuk sel saraf (nerve growth factor). Dengan tubuh sehat, anak memiliki kesempatan luas untuk belajar berbagai hal, serta mengeksplorasi potensi kecerdasan dalam dirinya dengan optimal. Sumber dari : http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/balita/psikologi/10.pola.asuh.untuk.anak.cerdas/001/007/1080/1/1 

Rabu, 13 Agustus 2014

Kesadaran Masyarakat Laporkan Kasus Kekerasan Anak Masih Rendah

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sampai saat ini kesadaran masyarakat maupun petugas kesehatan melaporkan kejadian kekerasan terhadap anak masih rendah. Padahal Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan Permenkes nomor 68/2013 tentang kewajiban pemberi layanan kesehatan untuk memberikan informasi apabila ada dugaan kekerasan terhadap anak.
"Semua pihak berperan dalam mencegah, melaporkan kejadian untuk cegah terjadinya kekerasan yang berkelanjutan," kata Dirjen Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kementerian Kesehatan RI, Anung Sugihantono saat seminar Dampak Kekerasan terhadap Tumbuh Kembang Anak di Jakarta, Selasa (12/8/2014).
Kekerasan terhadap anak akan berdampak pada fisik, psikologis, sosial dan fungsi kognitif yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangannya.
"Gangguan pada salah satu proses tahapan tumbuh kembang anak akan mempengaruhi proses tumbuh kembang anak selanjutnya, bahkan menurunkan kualitas hidup anak," katanya.
Laporan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) triwulan keempat yang dilaporkan ke Presiden menyebutkan tahun 2013 terdapat  1050 anak yang jadi korban kekerasan dan 436 mengalami kekerasan seksual.
Tahun 2013, terdapat 15 anak per bulan sebagai pelaku kekerasan sensual yang harus berhadapan dengan hukum.
Sumber : https://id.she.yahoo.com/kesadaran-masyarakat-laporkan-kasus-kekerasan-anak-masih-rendah-062421086.html