.

STOP Kekerasan dalam keluarga CIPTAKAN SUASANA NYAMAN DALAM KELUARGA

Jumat, 15 April 2011

Contoh Model Pengasuhan Orang Tua Kepada Anak

Nah...Ikut Gaya Cina atau Baratkah Model Pengasuhan Anda?
Amy Chua

Nah...Ikut Gaya Cina atau Baratkah Model Pengasuhan Anda?

Kamis, 14 April 2011 18:13 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Anda pernah membaca buku Battle Hymn of the Tiger Mother? Karya Amy Chua ini merupakan best seller tengah yang menjadi perbincangan warga dunia. Dalam memoarnya, ibu dari Sophia (18 tahun) dan Louisa (14 tahun) itu menceritakan kesuksesan serta kesalahan yang dibuatnya dalam mengasuh anak dengan gaya tradisional Cina.

Orang tua Cina memang terkenal otoriter. Kedisiplinan dan kerja keras demi menggapai sukses mereka pertahankan di manapun berada. “Ini menjadi nilai yang diakui bersama oleh warga Cina,” jelas sosiolog Erna Karim.

Di satu sisi, Amy mendapat acungan jempol atas hasil pengasuhannya. Di usia 14 tahun, jemari si sulung, Sophia, lincah menari-nari di atas tuts piano di Carnegie Hall. Sedangkan, adiknya, Louisa memainkan biola tanpa sedikitpun nada sumbang. Seolah memenuhi tuntutan sang bunda, keduanya juga tampil sebagai jagoan akademik.

Kenyataan itu membuat banyak orang—terutama di Amerika—terusik. Standar kesuksesan anak Amy seolah menjadikan mereka sebagai orang tua yang gagal. Di samping itu, mereka menganggap profesor hukum dari Yale University kejam terhadap anak. Sebab, ibu yang menikah dengan pria Yahudi itu mengekang kedua putrinya dari kehidupan sosial. Mereka tak memiliki pengalaman menginap di rumah teman, pergi pesta, atau ikut pementasan drama.

Amy menuntut Sophia dan Louisa meraih nilai sempurna di semua mata pelajaran, kecuali olah raga dan drama. Masing-masing juga harus rutin berlatih alat musik yang dipilihkan sang bunda. Sebegitu kerasnya terhadap anak, Amy bahkan tidak mengizinkan Louisa istirahat sejenak untuk sekadar ke kamar kecil sampai gesekan biolanya merdu memainkan lagu Little White Donkey.

 Erna mengatakan orang Cina memiliki alasan kuat ketika memberlakukan gaya pengasuhan otoriter pada anaknya. Kedisiplinan dan kegigihan adalah sikap yang mereka perlukan untuk dapat bertahan hidup. “Anak-anak Cina juga terbiasa tidak tergantung pada orang lain dan selalu berusaha meningkatkan kompetensi diri.”

Anak-anak Cina juga sejak kecil telah diperkenalkan pada falsafah hidup. Mereka akan berusaha untuk tidak mempermalukan keluarga. “Dengan didikan seperti itu, generasi muda Cina memang banyak yang sukses namun emosinya datar,” komentar psikolog A Kasandra Putranto.

Sementara itu, gaya pengasuhan ala Amerika juga ada plus-minusnya. Orang Amerika lebih permisif dan sangat memperhatikan faktor psikologis anak. “Pola asuh seperti itu memang membuat anak dapat menjalani hidup sesuai pilihannya namun mengkondisikan mereka menjadi anak yang besar kepala dan seenaknya,” cetus Kasandra yang menjabat sebagai wakil ketua Himpunan Psikologi Indonesia wilayah DKI Jakarta.

Bagaimana dengan Indonesia? Kasandra menyimpulkan orang tua Indonesia berada di antara dua kutub gaya pengasuhan Cina dan Amerika. “Lantaran tiap pola asuh memiliki kelebihan dan kelemahan tersendiri, kita tidak bisa mengatakan mana yang terbaik.”

Sementara itu, Erna memperhatikan masyarakat Indonesia sangat plural. Ragam etnik dan agama mempengaruhi nilai-nilai yang dipergunakan orang tua dalam mendidik anaknya. “Lantas, pola pengasuhan di desa juga berbeda dengan di perkotaan.”

Masyarakat desa, lanjut Erna, lebih permisif. Orang tua cenderung membiarkan anaknya berkembang tanpa pendampingan yang sesuai dengan tuntutan zaman. “Perhatian mereka terkuras untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi.”

Lalu, di perkotaan, orang tua tampak lebih akomodatif. Kebanyakan dari mereka mencoba menyediakan sarana yang memenuhi nilai-nilai moderenisasi. “Fokus mereka pada prestasi akademik dan persaingan masa depan,” papar Erna.

Itu sebabnya, orang tua perkotaan sibuk memasukkan anaknya ke berbagai kursus. Terutama, komputer dan bahasa Inggris. “Lalu, kebutuhan otak kanan yang mencakup bidang kesenian juga diakomodasi,” jelas Erna.
Bahan renungan
Untuk mengantarkan anaknya pada keberhasilan, Amy menentukan kegiatan anaknya. Ia berpendapat hingga berusia pra remaja, anak belum dapat secara objektif menilai. Otomatis, mereka harus mengikuti pilihan orang tua.
Terlepas dari kesuksesannya dalam membesarkan anak, Amy mengaku membuat sejumlah kesalahan sepanjang perjalanan. Ia gampang naik darah, kasar dalam perkataan, dan kurang memberikan keleluasaan memilih pada putrinya. Ia juga tak segan memberi hukuman.
Amy memang mengkritik pola asuh Barat yang cenderung lunak pada anak. Ketika anak kehilangan semangat belajar biola, orang tua Barat dengan cepat menawarkan alternatif alat musik lain yang lebih mudah dikuasai. Sebaliknya, Amy justru memberi dukungan agar putrinya makin giat berlatih supaya mahir.
Tidak semua anak Cina sukses diasuh dengan gaya otoriter. Beberapa anak klien keturunan Cina di biro Psychological Practice pimpinan Kasandra tertekan dengan pola asuh seperti itu. “Mereka memilih kabur dari rumah karena tidak tahan dengan kerasnya didikan orangtua.”
Akankah pencapaian Amy dijadikan barometer oleh sejumlah orang tua? Sosiolog Erna Karim mengatakan pengekor Amy adalah mereka yang tidak mampu mengonstruksi sendiri cara mendisiplinkan anak. “Orang yang terus mengikuti perkembangan zaman namun tak tahu cara pengasuhan lebih terpengaruh dengan buku-buku seperti Tiger Mom ini,” ungkap Erna.

Tantangan Masa Kini
Anak-anak Indonesia masa kini tumbuh dalam fasilitas yang nyaris serba ada. Dengan dukungan ekonomi keluarga yang lebih mapan, mereka mudah mengeksplorasi segala hal. “Dibandingkan dengan lima tahun lalu pun kondisinya sudah berbeda sekali,” ungkap guru Bimbingan Konseling SMP Labschool Kebayoran, Sinthya Bintarti.
Sementara itu, diperkenalkan oleh tayangan TV dan orang dewasa di lingkungan sekitarnya, anak-anak juga mengenal percintaan di usia yang sangat dini. Anak TK bahkan sudah dapat menyatakan kesukaannya pada lawan jenis. “Tentunya dengan presepsi sesuai usianya,” ujar Sinthya.
Dukungan fasilitas serta kondisi lingkungan seperti itu mendatangkan masalah tersendiri bagi anak. Kedekatan mereka dengan gadget dan akses internet membuat mereka teramat tergantung dengan teknologi. “Belum saatnya mereka terlalu mengandalkan gadget,” cetus Sinthya.
Pada usia sekolah, lanjut Sinthya, semestinya anak mencari informasi dari buku bacaan. Mereka harusnya membaca langsung dari sumber primer. Sedangkan, Wikipedia sebetulnya berisi keterangan dari sumber sekunder. ”Kebiasaan mengakses Wiki menurunkan minat baca mereka terhadap buku teks.”
Lantas, anak-anak sekarang juga berani memasuki dunia pergaulan di dunia maya. Padahal, mereka belum sepenuhnya bisa memilah. “Ada bahaya yang mungkin timbul dari pertemanan dengan orang asing di social media,” kata Sinthya.
Selain itu, anak juga terlampau sering terpapar dengan tontonan tidak sehat, seperti sinetron. Tayangan tersebut membuat mereka mudah berkata kasar. “Mereka menganggap berkata kasar merupakan bagian yang biasa dalam pergaulan,” ucap Sinthya.
Di lain sisi, ada komunikasi yang terputus antara orang tua dan anak. Sering kali, ekspektasi anak terhadap orang tuanya gagal tersampaikan secara utuh. “Anak belum selesai mengutarakan harapannya, ayah ibunya sudah keburu memotong,” kata Sinthya.
Ketika nilai ulangan jelek, misalnya, orang tua tidak mendengar sampai tuntas penyebab versi anak. Padahal, anak membutuhkan dukungan ayah bundanya. “Cobalah untuk menurunkan diri sedikit agar bisa merasakan masalah yang dialami anak,” saran Sinthya.
(Reiny Dwinanda, wartawan Republika)
Redaktur: Siwi Tri Puji B

Senin, 28 Maret 2011

Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Sosial Keluarga - Saudara Sejiwa


















Merupakan lembaga layanan Saudara Sejiwa Foundation yang mengkhususkan pada pemberian konsultasi dan pendidikan keluarga khususnya keluarga yang mengalami permasalahan psikososial.
Melalui LK3 ini diharapkan keluarga bisa memanfaatkan media konsultasi keluarga untuk meningkatkan keberfungsian keluarga itu sendiri.
Melalui wadah LK3 dikembangkan pula program-program pengembangan kelompok dukungan sebagai sarana problem solving dan brain storming diantara keluarga.
Pelayanan yang diberikan antara lain :

- Penanganan Korban Tindak Kekerasan (KTK), berupa bimbingan sosial, bimbingan kewirausahaan, Bantuan Usaha Ekonomi Produktif (UEP), Rujukan, dll
- Pelayanan Konsultasi Keluarga, berupa bimbingan dan penyuluhan sosial, rujukan ke lembaga pelayanan kompeten.
- Program Peningkatan Kesejahteraan Keluarga, berupa bimbingan sosial, bimbingan manajemen usaha kesejahteraan sosial, serta bantuan usaha berupa pemberian modal usaha kecil.
- Program pendidikan keluarga seperti Manajemen Keluarga Harmonis, penguatan pola asuh anak, penguatan sikap mental, emosional dan spiritual, dll
- Program Penguatan Kelompok Dukungan
- Sosialisasi dan Advokasi program keluarga seperti : penerbitan buletin warta keluarga, talkshow di beberapa radio swasta Dan RRI Bandung.

364.320 Pekerja Anak Terancam

Kamis, 27 Januari 2011
http://www.klik-galamedia.com/indexnews.php?wartakode=20110127030403&idkolom=beritautama

364.320 Pekerja Anak Terancam

CUCU SUMIATI/GM
PENJAJA koran anak-anak berebut pembeli di pelataran parkir Masjid Agung Kota Cimahi, belum lama ini.

PAJAJARAN,(GM)-
Masalah perlindungan anak dan upaya penghapusan diskriminasi perempuan masih menjadi pekerjaan rumah bagi bangsa Indonesia. Saat ini dari 58,8 juta anak usia 5-17 tahun, 1,76 juta merupakan pekerja anak. Bahkan, 20,7% di antara mereka atau 364.320 pekerja anak berada pada kondisi yang berbahaya.

Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Saudara Sejiwa Foundation, Nandang Noor, R.H. sesuai hasil survei dari International Labour Organization (ILO) dan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2010.

"Kondisi berbahaya tersebut antara lain, anak bekerja lebih dari 40 jam/minggu. Ditambah dengan keterampilan pekerja anak-anak tersebut tidak cukup, dan berpendidikan masih rendah," ungkapnya dalam seminar "Hak Pendidikan Pekerja Rumah Tangga Anak (PKRTA)" di Aula Wiyataguna, Jln. Pajajaran, Rabu (26/1).

Hanya 50% saja dari jumlah pekerja anak tersebut, bekerja sedikitnya 21 jam/minggu. Sementara 25% bekerja sedikitnya 12 jam/minggu. "Rata-rata anak yang bekerja mencapai 25,7 jam/minggu. Sementara mereka yang tergolong pekerja anak bekerja 35,1 jam/minggu," ungkapnya.

Dengan kondisi tersebut, maka berpotensi memperburuk tingkat apresiasi para majikan terhadap pekerja anak. Apalagi anak sebagai sosok yang masih rentan, sangat berisiko terhadap situasi rawan yang mungkin akan dihadapinya di dunia kerja. "Misalnya saja eksploitasi, pelecehan seksual, dan lainnya," ucapnya.

Berdasarkan data BPS dan ILO pula, katanya, dari 58,8 juta anak hanya 81,8% (48,1 juta) yang bersekolah. Sisanya, 11,4% atau 6,7 juta anak, masuk dalam golongan idle yaitu tidak bersekolah dan tidak membantu dan tidak bekerja. Sementara 24,3 juta atau 41,2% dari 48,1 juta anak, terlibat dalam pekerjaan rumah.

Sementara data dari Lembaga Perlindungan Anak Jabar hingga akhir 2009, menurut Manajer Program LPA Jabar, Dianawati, jumlah pekerja anak mencapai 351.189 orang. Dari jumlah itu sebanyak 86.413 anak bermasalah, 330.461 anak telantar, dan 20.826 anak jalan. Sementara untuk data mengenai pekerja rumah tangga anak, hingga saat ini belum ada.

Tingkat pendidikan

Menurut Nandang yang juga menjadi pengurus ikatan alumni Japan National Council of Social Welfare, masih tingginya jumlah pekerja anak, diakibatkan masih rendahnya pendidikan mereka. Begitu pula terkait minimnya ketersediaan lapangan pekerjaan.

"Dengan kondisi tersebut, jumlah pekerja anak setiap tahunnya terus meningkat. Ironisnya, sebagian dari pekerja anak tersebut, menjadi tumpuan ekonomi keluarga. Seharusnya anak berada di sekolah dan orang tua lah yang bertanggung jawab menopang pembiayaan hidup keluarga tersebut," ungkapnya.

Di lain pihak, katanya, masih ditemukan sejumlah tokoh masyarakat dan pemangku kepentingan, yang tidak memahami dengan jelas isu pekerja anak di daerahnya. Bahkan ditemukan ada tokoh dusun, yang berperan sebagai mediator/perantara tenaga kerja wanita (TKW).

Dianawati menambahkan, telah dilakukan upaya untuk menghapus resiko dan bahaya kerja, serta menarik pekerja rumah tangga anak dengan memberikan layanan pendidikan. Misalnya saja di wilayah Bandung Raya untuk medio 2009-2011, yakni dengan sosialisasi dan advokasi.

"Tujuannya antara lain yakni dari 100 pekerja rumah tangga anak (PRTA) usia 15-17 tahun, misalnya ditarik dari kondisi yang membahayakan ke kondisi yang lebih aman. Kemudian pada akhir program ada 100 PRTA ditarik dari pekerjaannya, dan diharapkan dapat menuntaskan Wajar Dikdas 9 Tahun," ucapnya.

Tetapi dalam pengerjaan programnya, lanjut Dianawati, masih terdapat sejumlah kendala. Terutama izin majikan, sebaran pekerja anak yang luas, dan penolakan dari pekerja anak tersebut.

"Karena itu perlu adanya upaya membangun sinergi lintas sektoral, dan terus berusaha mengajak birokrasi agar terus mempermudah dan melakukan secara konsisten akses pelayanan dasar anak-anak di daerah rawan," tambahnya. (B.107)**