.

STOP Kekerasan dalam keluarga CIPTAKAN SUASANA NYAMAN DALAM KELUARGA

Kamis, 18 Februari 2016

Penggunaan Gadget Pada Anak Ada Aturannya, Ini Dia

Bayi & Balita » Tumbuh Kembang  •   Vera Erwaty Ismainy
Perkembangan teknologi yang pesat saat ini, sedikit banyak memberi pengaruh pada berbagai aspek kehidupan kita, Moms. Salah satunya pada pola dan cara pengasuhan anak (parenting) yang dilakukan orang.


Dengan alasan anak takut ketinggalan perkembangan teknologi, orang tua saat ini cenderung mendekatkan anak dengan gadget. Alasan lainnya adalah agar anak belajar selama masa tumbuh kembangnya. Tapi apakah hal ini sudah tepat?

Psikolog Roslina Verauli mengatakan, mengenalkan gadget pada anak memang boleh-boleh saja. Tapi tentunya hal ini ada peraturan dan tata caranya. Hal ini dikarenakan, pengarug gadget dalam masa tumbuh kembang anak tidak terlalu signifikan.
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara ini menjelaskan, belajar dari televisi, gadget dan video games kurang optimal, karena hanya bersifat satu arah. Sedangkan tumbuh kembang anak yang optimal membutuhkan interaksi dua arah antara si kecil dan ibunya.
"Sebuah rekomendasi dari Amerika Serikat mengatakan, waktu 1-2 jam sudah maksimal digunakan sebagai batas waktu penggunaan gadget pada anak," terangnya dalam sebuah diskusi pada Rabu (2/9).
Penting nih Moms untuk diingat. Soalnya terkadang kita suka lupa karena anak kita menjadi anteng saat kita berikan gadget. Padahal anak tetap butuh panduan dan dukungan dari ayah maupun ibunya untuk dapat bertumbuh dan berkembang dengan optimal dan maksimal.
"Bukan berarti menggunakan gadget itu buruk. Asal ada aturannya, gadget dapat menjadi positif," kata Psikolog yang akrab disapa Vera ini.
Interaksi antara orang tua dan anak sangat penting dilakukan selama masa tumbuh kembang anak. Pada usia 0-6 tahun, anak mengalami perkembangan pesat pada otaknya dan siap mengeksplorasi banyak hal agar sel otaknya berkembang.
Sumber : http://family.fimela.com/bayi-balita/tumbuh-kembang/penggunaan-gadget-pada-anak-ada-aturannya-ini-dia-150903m.html

Senin, 10 Agustus 2015

Ini Pesan Dokter Anak untuk Orang Tua

REPUBLIKA.CO.ID, Anak-anak, dalam usianya yang masih sangat muda dianjurkan untuk tidak melakukan hal berat. Meskipun itu untuk kebaikan dirinya di kemudian hari.
Para orang tua, atau Anda adalah orang tua muda, penting untuk memerhatikan apa yang anak butuhkan saat ini.

Dokter spesialis anak dan magister sains psikologi perkembangan, Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI RSCM, Soedjatmiko, memberikan pesan untuk orang tua. Orang tua dianjurkan untuk tidak melakukan perbuatan kasar, tidak memaksakan kehendak dan berikan contoh perilaku yang baik.

"Hai para orangtua. Anak adalah makhluk titipan Allah. Mereka masih lemah butuh lindungan dan bimbingan. Berilah mereka kasih sayang, pujian, penghargaan, ASI, makanan, pakaian, mainan, imunisasi dan stimulasi," ujarnya dalam broadcast via bbm yang diterima ROL, belum lama ini.

Ia mengingatkan orang tua untuk tidak mencela, memaki, mencubit, memukul dan menyakiti hati nurani dan tubuh mereka.

"Berilah mereka kekebasan, kegembiraan berekspresi, imaginasi, berkreasi. Insya Allah kelak mereka menjadi anak yang sehat, ceria, cerdas, kreatif, inovatif, produktif," ujarnya.

Soedjatmiko menambahkan mereka akan menirukan atas semua yang telah orang tua lakukan pada mereka. Mereka akan membalas apa yang orang tua berikan pada mereka.

"Berikanlah yang terbaik dengan hati ikhlas dan gembira, mereka akan menyebarkan keihlasan dan kegembiraan pula kemana-mana," tambahnya.

Anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia berharap semoga anak-anak kita menjadi anak yang sehat, ceria, cerdas, kreatif dan berperilaku baik.
sumber :  http://gayahidup.republika.co.id/berita/gaya-hidup/parenting/15/08/09/nsrwvj359-ini-pesan-dokter-anak-untuk-orang-tua?ref=yfp

Kamis, 30 Juli 2015

Berhasil Pegang Pensil Pertanda Anak Siap Sekolah

APAKAH anak Anda siap masuk taman kanak-kanak? Pada kenyataannya, tidak ada ciri-ciri spesifik yang dapat menentukan seorang anak siap memasuki dunia sekolah.
 
Namun, ada beberapa cara untuk melihat kalau anak sudah matang dan siap memasuki lingkungan baru secara fisik, sosial, dan kognitif.
 
Umumnya, usia menjadi patokan anak untuk masuk TK, yakni usia lima tahun pada pertengahan Juli saat dimulainya tahun ajaran baru. Tetapi penelitian menunjukkan bahwa usia bukan cara terbaik untuk memutuskan apakah anak siap masuk sekolah dan sukses sebagai siswa.
Beberapa tahun terakhir, sekolah lebih fokus membangun kesiapan fisik, sosial, dan kognitif seorang anak masuk TK. Berikut beberapa cara untuk melihat kesiapan anak masuk TK bukan dari sisi usia.
1) Dapatkah anak mendengarkan instruksi dan kemudian mengikutinya? Anak-anak perlu keterampilan ini di dalam kelas, untuk mendengar instruksi guru dan bersaing dengan teman-temannya.
2) Apakah dia bisa memakai jaket sendiri atau pergi ke kamar mandi sendiri? Anak-anak perlu agak mandiri ketika masuk usia sekolah.
3) Bisakah dia membaca alfabet dan menghitung? Kebanyakan guru TK menganggap bahwa anak-anak memiliki setidaknya keakraban dasar dengan huruf ‘ABC’ dan angka meskipun mata pelajaran ini akan dibahas sebagai bagian dari kurikulum TK.
4) Bisakah dia memegang pensil? Memotong dengan gunting? Anak butuh keterampilan motorik halus untuk mulai bekerja menulis alfabet, guna bersaing di dalam kelas.
5) Apakah ia menunjukkan minat pada buku? Apakah ia mencoba untuk "membaca" buku dengan menceritakan sebuah cerita berdasarkan gambar? Ini adalah tanda bahwa perkembangan bahasanya sudah setara dengan anak TK lain dan ini menunjukkan bahwa dia siap untuk mulai belajar seperti bagaimana ia membaca.
6) Apakah dia penasaran dan suka belajar hal-hal baru? Jika rasa ingin tahu anak lebih kuat dari rasa takutnya dengan sesuatu yang asing, dia akan melakukannya dengan baik di sekolah.
7) Apakah dia bergaul baik dengan anak-anak lain? Apakah dia mau berbagi dan tahu bagaimana bergiliran? Dia akan berinteraksi dengan anak-anak lain sepanjang hari, sehingga keterampilan sosial anak sangat penting untuk keberhasilannya di sekolah.
8) Bisakah dia bekerja sama dengan orang lain sebagai bagian dari kelompok? Menomorduakan kepentingannya sendiri, kompromi dan bergabung dalam konsensus dengan anak-anak lainnya, juga merupakan bagian dari kompetensi emosional.
Jika sebagian besar pertanyaan-pertanyaan di atas dapat dilakukan anak Anda dan "kadang-kadang" untuk sebagian, maka anak Anda siap masuk TK. Jika tidak, orangtua perlu memasuki anak ke prasekolah atau PAUD lebih dulu. Demikian dilansir Babycenter, Selasa (28/7/2015).
Sumber  : http://lifestyle.okezone.com/read/2015/07/27/196/1186189/berhasil-pegang-pensil-pertanda-anak-siap-sekolah

Rabu, 29 Juli 2015

Cara Cerdas Atasi Anak Berwatak Keras

KARAKTER anak sudah mulai terbaca sejak kecil. Orangtua yang memberi perhatian penuh kepada anak pasti mengetahui anak akan tumbuh dengan karakter seperti apa. Lantas, bagaimana bila anak memliki watak keras?
 
Sejak anak baru belajar berjalan akan terlihat apakah ia akan tumbuh menjadi pribadi yang keras atau lunak. Misalnya, dari bagaimana si anak ingin berlari, menjangkau atau meraih sesuatu. Anak berwatak keras sulit dilarang dengan kata-kata untuk tidak mendekati kabel listrik di belakang televisi. Meski orangtua sudah menutupi, menarik tangannya, dan menghalangi.
Anak berwatak keras belum tentu buruk. Orangtua bisa mengambil keuntungan ini bila dapat mendidik dengan cara yang benar. Anak berwatak keras berarti memiliki kemauan kuat untuk sukses di masa depan. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan orangtua untuk mendidik anak berwatak keras agar tumbuh di jalur terarah.
Membatasi keinginan anak
Anak berwatak keras sulit dilarang bila menginginkan sesuatu dan punya banyak kemauan. Ketika dihadapkan pada berbagai pilihan dia pasti ingin mendapat semuanya. Termasuk pakaian, makanan, dan mainan. Bila orangtua dihadapkan pada situasi ini, solusinya adalah beri dia pilihan satu di antara dua. Hal ini dimaksud agar anak dapat menentukan pilihan dan lebih fokus bila mengerjakan sesuatu. Jangan menyerah bila anak merengek.
Tegas dengan aturan dan kata-kata
Apabila anak menentang atau tidak setuju dengan kata-kata Anda, jangan pernah menyerah untuk menunjukkan bahwa sikap buruk dan keras tidak akan memenangkan keinginannya. Hal itu mengajarkan anak menghargai aturan orang lain. Setelah itu dia akan berupaya belajar untuk tidak mempertahankan watak kerasnya.
Fokus mengarahkan ke kegiatan positif
Bidang akademis, seni, dan persahabatan memfasilitasi anak berkemauan keras ini untuk menjadi unggul dalam suatu bidang. Ketika mereka menemukan masalah sulit, dia akan semakin gigih. Demikian dilansir Familyshare, Rabu (29/7/2015).(vin)
sumber : http://lifestyle.okezone.com/read/2015/07/28/196/1186772/cara-cerdas-atasi-anak-berwatak-keras?ref=yfp

Senin, 27 Juli 2015

Dua Cara Agar Anak Mau Dengarkan Orang Tua

REPUBLIKA.CO.ID, Emosi orang tu tersulut biasanya karena anak tidak mau makan, tidak mau mandi, mengotorkan rumah dan lainnya. Anda sudah mengingatkan anak, tapi mereka tak mau mendengar. Bagaimana caranya agar anak mau mendengarkan Anda?

Bicara perlahan, dengan jeda
Dikutip dari Popsugar, Senin (27/7), ketika kata-kata atau permintaan orang tua yang disampaikan dengan intensitas paling cepat anak akan mundur secara tidak sadar di belakang. Mereka tidak akan mendengarkan Anda. Berusahalah untuk sadar dan tidak membebani orang lain atau anak secara emosional. Pastikan bahwa Anda memberi mereka suatu atau dua momen untuk mencerna apa yang Anda katakan sebelum melangkah ke tahapan berikutnya.

Lihat dan sesuaikan bahasa tubuh
Perhatikan bahasa tubuh anak Anda adalah satu cara yang baik untuk melihat apakah yang sudah Anda katakan pada mereka. Jika Anda tidak akan dapat melewatinya, jangan salahkan mereka atau buat mereka sadar diri dengan menyebutkan perhatian mereka pada apa yang tubuh mereka lakukan. Bukan menyesuaikan apa yang Anda lakukan.

Buatlah kontak mata, jangkau mereka dan berikan sentuhan lembut di atas bahu untuk mengubah sebuah koneksi, sejajarkan mata Anda dengan mata anak, bukan pada wajahnya. Modulasi suara Anda karena kata-kata hangat akan lebih diterima dari pada kata-kata dingin yang menuduh.

Ingat bagaimana perkataan Anda mengubah satu tempat Anda dalam hubungan dengan mereka dan menambah kemungkinan mendengarkan, apakah Anda berbicara kepada orang dewasa dan anak anak.

sumber : http://gayahidup.republika.co.id/berita/gaya-hidup/parenting/15/07/27/ns4bl5328-dua-cara-agar-anak-mau-dengarkan-orang-tua?ref=yfp

Rabu, 03 Juni 2015

Kesalahan Memberi Imbalan pada Anak

PERDEBATAN besar terjadi antara para pemerhati anak dan pakar keuangan tentang kepantasan memberi imbalan untuk anak. Ada yang membenarkan ada juga yang mengatakan itu salah.
 
Sering ditemukan orangtua yang memberi anak imbalan berupa uang atau barang setelah anak menyelesaikan tugas-tugasnya. Alasan mereka beragam. Ada orangtua yang ingin anak termotivasi untuk belajar lebih baik lagi setelah mendapat imbalan, ada pula yang ingin mengajarkan anak tentang arti dari usaha.
 
Misalnya, anak membantu orangtua mengerjakan pekerjaan rumah, seperti membereskan kamar akan mendapat uang saku tambahan. Cara ini diberlakukan orangtua pada anak agar anak-anak paham tentang arti bekerja. Agar anak juga mengerti tujuan orangtuanya bekerja dan turut merasakan. Sedini mungkin anak sudah dilatih bekerja. Jadi, semua yang dilakukan anak ada reward sebagai bentuk apresiasi.
 
Akan tetapi, cara ini dipersalahkan dan menjadi perdebatan. Orangtua dianggap tidak mengajarkan tentang ketulusan dan telah mempekerjakan anak kecil. Bekerja adalah tugas orang dewasa dan tidak seharusnya diberlakukan pada anak-anak.
 
Sebab, jika anak sudah mengerti bekerja dan uang sejak kecil, mereka akan terus meminta imbalan dan pikiran mereka hanya diisi dengan uang. Seharusnya orangtua yang meminta anak bekerja di rumah untuk membantu tugas-tugas mereka dengan menanamkan nilai tanggung jawab dan kasih sayang. Anak harus terlibat urusan rumah karena mereka adalah bagian dari keluarga. Demikian dilansir dari Familyshare, Rabu, (3/6/2015).(vin)
(pad)
Sumber  http://lifestyle.okezone.com/read/2015/06/02/196/1159091/kesalahan-memberi-imbalan-pada-anak?ref=yfp 

Senin, 30 Maret 2015

3 Tips Penting Pilih Sekolah untuk Anak

3 Tips penting pilih sekolah untuk anak – Pendidikan merupakan wahana untuk mewujudkan masa depan anak yang lebih baik. Melalui pendidikan juga akan ditentukan bagaimana generasi muda untuk sekian tahun yang akan datang. Namun demikian, kualitas pendidikan yang dilalui anak lebih menentukan warna dan corak generasi muda yang akan datang.
Setiap lembaga sekolah pasti akan menawarkan produk layanan yang eksklusif kepada orang tua. Berbagai media digunakan untuk mempromosikan sekolah dengan tujuan untuk memperoleh peserta didik baru sesuai target mereka. Embel-embelnya adalah pendidikan yang berkualitas untuk masa depan anak.
Orang tua maupun anak bisa kebingungan memilih salah satu sekolah tempat belajar anak. Habis, semuanya baik dan berkualitas. Lalu bagaimana cara memilih sekolah yang baik untuk anak? 
Memilih sekolah perlu mempertimbangkan banyak hal. Salah satunya tepat bagi anak maupun orang tua. Ketepatan memilih sekolah untuk anak akan mendorong tercapainya prestasi belajar yang memuaskan. Anak merasa suka dan nyaman untuk belajar sehingga berpeluang memperoleh hasil belajar yang diinginkan.
1.Kemauan dan kemampuan anak.
Mempertimbangkan kemauan dan kemampuan anak sangatlah penting dilakukan oleh orang tua. Orang tua perlu mengetahui kemauan anak yang sesungguhnya sehingga tidak terkesan memaksakan kemauan orang tua untuk memilih sekolah. Begitu pula apakah anak mampu untuk bersekolah di tempat yang dipilihkan atau tidak. Memilihkan sekolah anak berdasar kehendak orang tua beresiko tidak baik kepada anak.
2.Kondisi ekonomi.
Seorang anak mungkin saja mempunyai kemauan dan kemampuan untuk memilih sekolah tertentu namun perlu disesuaikan dengan keadaan ekonomi. Sekolah kategori mahal justru akan membuat orang tua kewalahan untuk membiayai anak. Yang perlu dipertimbangkan orang tua adalah biaya pendidikan yang menyangkut seragam sekolah, buku pelajaran, akomodasi, transportasi atau biaya tempat kost anak jika jauh dari rumah.
3.Pelayanan pendidikan di sekolah.
Poin ketiga ini sesungguhnya amat penting untuk dipertimbangkan oleh orang tua. Bimbing anak untuk memilih sekolah yang mengutamakan pengembangan sikap dan karakter baik untuk kepentingan masa depan anak. Sekolah yang mengedepankan aspek pendidikan moral, budi perti luhur, di samping aspek intelektual dan psikomotorik anak.
Indikasi sekolah dengan layanan pendidikan karakter, sikap dan budi perkerti luhur akan terlihat dari bagaimana proses belajar anak, penerapan disiplin sekolah dan disiplin belajar, tradisi dan kebiasaan baik yang dilakukan setiap hari di sekolah. 
sumber: http://log.viva.co.id/frame/read/aHR0cDovL3d3dy5tYXRyYXBlbmRpZGlrYW4uY29tLzIwMTUvMDMvMy10aXBzLXBlbnRpbmctcGlsaWgtc2Vrb2xhaC11bnR1ay1hbmFrLmh0bWw=