Ramadan,
masa berpuasa sebulan penuh bagi umat Islam, dikenal sebagai bulan
penuh berkah. Orang tua pun penuh harap agar anaknya mulai belajar
menjalankan ibadah tersebut, kendati belum ada kewajiban. Tentu tak
mudah mewujudkannya.
Dosen Psikologi Sosial di Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran,
Bandung, Sri Rahayu Astuti mengakui, mengajarkan anak berpuasa semakin
dini semakin baik. Namun pola pengajarannya harus dilakukan bertahap.
Pada dasarnya kebutuhan makan anak juga harus dipenuhi. "Orang tua
tidak boleh memaksa anak menuntaskan puasanya, sementara anak tersebut
sudah sangat haus dan lapar. Hal ini dapat mengakibatkan dehidrasi dan
sakit fisik pada anak," ujar Rahayu saat dihubungi
Plasadana.com untuk
Yahoo Indonesia, Kamis, (19/06).
Bagi anak yang susah makan, boleh jadi puasa membuatnya lebih nyaman.
Tetapi untuk anak yang senang makan, bakal sedikit mengalami kesulitan
karena harus menahan hasratnya untuk makan dan minum selama beberapa
jam.
Bayangkan, anak-anak yang biasa makan tiga kali sehari, kemudian
menjadi dua kali. Selain itu, waktunya pun berbeda. Sarapan yang
biasanya pukul tujuh pagi berubah menjadi pukul empat atau saat sahur.
Begitu pun dengan makan siangnya. Tentu hal ini menjadi persoalan
baginya.
Karena itulah, sebaiknya anak-anak juga diberikan pemahaman yang baik
tentang puasa. "Pada tahap belajar ini," dia menuturkan, "Anak harus
diberikan pujian jika mengalami kemajuan dalam berpuasa." Sebagai
contoh, dua hari pertama puasa dua jam, tiga hari berikutnya tiga jam,
begitu seterusnya. Berikan pujian bahwa yang dilakukan adalah hal baik.
Rahayu mengingatkan bahwa contoh dari orang tua sangat penting. Saat
ibu sedang tidak berpuasa lantaran menyusui atau haid, tidak boleh makan
atau minum di depan anak yang sedang berpuasa karena bisa dicontoh
anak. "Ibu harus juga menghormati orang lain yang sedang menjalankan
ibadah puasa," ujarnya.
Bahkan tak salah juga seandainya kemajuan anak dalam belajar berpuasa
diberikan imbalan berupa hadiah yang berjenjang. Misalnya, jika mampu
meningkatkan puasa dari dua menjadi tiga jam dapat uang untuk ditabung
sebesar Rp2 ribu rupiah dan seterusnya.
Tentang usia ideal berpuasa, Rahayu mengatakan sebaiknya di usia
tujuh tahun, walaupun sebagai latihan awal, bisa juga di usia lima
tahun. Awalnya bisa dua jam, kemudian menjadi tiga jam berpuasa. Setelah
itu boleh makan. "Tahun berikutnya ada peningkatan," ujarnya.
Dia mengingatkan bahwa proses belajar akan melekat pada memori anak
jika ia belajar dengan senang hati. Namun jika dipaksakan, termasuk soal
puasa, hanya akan mengajarkan anak menjadi tidak jujur. Di depan orang
tua mengaku berpuasa, tetapi saat tidak ada, ia bisa saja minum dan
makan.
"Jika anak diajarkan tentang apa untungnya puasa dan bagaimana
bagusnya puasa dia akan berpuasa dengan penuh kesadaran," ujar dia.
Rahayu juga mengungkapkan, tantangan berat saat mengajarkan anak
berpuasa adalah ketika bepergian. Banyak orang yang masih makan dan
minum di tempat yang tidak selayaknya.
Dalam kondisi seperti ini, orang dewasa (orang tua maupun saudara)
yang bersama anak perlu memberikan pemahaman dan penjelasan, mengapa
orang makan dan minum saat puasa agar anak tidak bingung. "Misalnya ibu
itu makan dan minum saat puasa karena dia sedang menyusui atau haid,"
tegasnya.
Sumber : https://id.berita.yahoo.com/mengajar-anak-berpuasa--berikanlah-contoh-080810471.html