REPUBLIKA.CO.ID, Emosi orang tu tersulut biasanya karena anak tidak mau
makan, tidak mau mandi, mengotorkan rumah dan lainnya. Anda sudah
mengingatkan anak, tapi mereka tak mau mendengar. Bagaimana caranya agar
anak mau mendengarkan Anda?
Bicara perlahan, dengan jeda
Dikutip dari Popsugar,
Senin (27/7), ketika kata-kata atau permintaan orang tua yang
disampaikan dengan intensitas paling cepat anak akan mundur secara tidak
sadar di belakang. Mereka tidak akan mendengarkan Anda. Berusahalah
untuk sadar dan tidak membebani orang lain atau anak secara emosional.
Pastikan bahwa Anda memberi mereka suatu atau dua momen untuk mencerna
apa yang Anda katakan sebelum melangkah ke tahapan berikutnya.
Lihat dan sesuaikan bahasa tubuh
Perhatikan
bahasa tubuh anak Anda adalah satu cara yang baik untuk melihat apakah
yang sudah Anda katakan pada mereka. Jika Anda tidak akan dapat
melewatinya, jangan salahkan mereka atau buat mereka sadar diri dengan
menyebutkan perhatian mereka pada apa yang tubuh mereka lakukan. Bukan
menyesuaikan apa yang Anda lakukan.
Buatlah kontak mata, jangkau
mereka dan berikan sentuhan lembut di atas bahu untuk mengubah sebuah
koneksi, sejajarkan mata Anda dengan mata anak, bukan pada wajahnya.
Modulasi suara Anda karena kata-kata hangat akan lebih diterima dari
pada kata-kata dingin yang menuduh.
Ingat bagaimana perkataan
Anda mengubah satu tempat Anda dalam hubungan dengan mereka dan menambah
kemungkinan mendengarkan, apakah Anda berbicara kepada orang dewasa dan
anak anak.
sumber : http://gayahidup.republika.co.id/berita/gaya-hidup/parenting/15/07/27/ns4bl5328-dua-cara-agar-anak-mau-dengarkan-orang-tua?ref=yfp
Senin, 27 Juli 2015
Rabu, 03 Juni 2015
Kesalahan Memberi Imbalan pada Anak
PERDEBATAN besar terjadi antara para
pemerhati anak dan pakar keuangan tentang kepantasan memberi imbalan
untuk anak. Ada yang membenarkan ada juga yang mengatakan itu salah.
(pad)
Sering ditemukan orangtua yang memberi anak imbalan berupa uang
atau barang setelah anak menyelesaikan tugas-tugasnya. Alasan mereka
beragam. Ada orangtua yang ingin anak termotivasi untuk belajar lebih
baik lagi setelah mendapat imbalan, ada pula yang ingin mengajarkan anak
tentang arti dari usaha.
Misalnya, anak membantu orangtua mengerjakan pekerjaan rumah,
seperti membereskan kamar akan mendapat uang saku tambahan. Cara ini
diberlakukan orangtua pada anak agar anak-anak paham tentang arti
bekerja. Agar anak juga mengerti tujuan orangtuanya bekerja dan turut
merasakan. Sedini mungkin anak sudah dilatih bekerja. Jadi, semua yang
dilakukan anak ada reward sebagai bentuk apresiasi.
Akan tetapi, cara ini dipersalahkan dan menjadi perdebatan.
Orangtua dianggap tidak mengajarkan tentang ketulusan dan telah
mempekerjakan anak kecil. Bekerja adalah tugas orang dewasa dan tidak
seharusnya diberlakukan pada anak-anak.
Sebab, jika anak sudah mengerti bekerja dan uang sejak kecil,
mereka akan terus meminta imbalan dan pikiran mereka hanya diisi dengan
uang. Seharusnya orangtua yang meminta anak bekerja di rumah untuk
membantu tugas-tugas mereka dengan menanamkan nilai tanggung jawab dan
kasih sayang. Anak harus terlibat urusan rumah karena mereka adalah
bagian dari keluarga. Demikian dilansir dari Familyshare, Rabu, (3/6/2015).(vin)
Sumber http://lifestyle.okezone.com/read/2015/06/02/196/1159091/kesalahan-memberi-imbalan-pada-anak?ref=yfp
Senin, 30 Maret 2015
3 Tips Penting Pilih Sekolah untuk Anak
3 Tips penting pilih sekolah
untuk anak – Pendidikan merupakan wahana untuk mewujudkan
masa depan anak yang lebih baik. Melalui pendidikan juga akan ditentukan
bagaimana generasi muda untuk sekian tahun yang akan datang. Namun demikian,
kualitas pendidikan yang dilalui anak lebih menentukan warna dan corak generasi
muda yang akan datang.
Setiap
lembaga sekolah pasti akan menawarkan produk layanan yang eksklusif kepada
orang tua. Berbagai media digunakan untuk mempromosikan sekolah dengan tujuan
untuk memperoleh peserta didik baru sesuai target mereka. Embel-embelnya adalah
pendidikan yang berkualitas untuk masa depan anak.
Memilih
sekolah perlu mempertimbangkan banyak hal. Salah satunya tepat bagi anak maupun
orang tua. Ketepatan memilih sekolah untuk anak akan mendorong tercapainya
prestasi belajar yang memuaskan. Anak merasa suka dan nyaman untuk belajar
sehingga berpeluang memperoleh hasil belajar yang diinginkan.
1.Kemauan dan kemampuan anak.
Mempertimbangkan
kemauan dan kemampuan anak sangatlah penting dilakukan oleh orang tua. Orang
tua perlu mengetahui kemauan anak yang sesungguhnya sehingga tidak terkesan
memaksakan kemauan orang tua untuk memilih sekolah. Begitu pula apakah anak
mampu untuk bersekolah di tempat yang dipilihkan atau tidak. Memilihkan sekolah
anak berdasar kehendak orang tua beresiko tidak baik kepada anak.
2.Kondisi ekonomi.
Seorang
anak mungkin saja mempunyai kemauan dan kemampuan untuk memilih sekolah
tertentu namun perlu disesuaikan dengan keadaan ekonomi. Sekolah kategori mahal
justru akan membuat orang tua kewalahan untuk membiayai anak. Yang perlu
dipertimbangkan orang tua adalah biaya pendidikan yang menyangkut seragam sekolah,
buku pelajaran, akomodasi, transportasi atau biaya tempat kost anak jika jauh
dari rumah.
3.Pelayanan pendidikan di sekolah.
Poin
ketiga ini sesungguhnya amat penting untuk dipertimbangkan oleh orang tua.
Bimbing anak untuk memilih sekolah yang mengutamakan pengembangan sikap dan karakter baik untuk kepentingan masa depan anak.
Sekolah yang mengedepankan aspek pendidikan moral, budi perti luhur, di samping
aspek intelektual dan psikomotorik anak.
Indikasi
sekolah dengan layanan pendidikan karakter, sikap dan budi perkerti luhur akan
terlihat dari bagaimana proses belajar anak, penerapan disiplin sekolah dan
disiplin belajar, tradisi dan kebiasaan baik yang dilakukan setiap hari di
sekolah.
sumber: http://log.viva.co.id/frame/read/aHR0cDovL3d3dy5tYXRyYXBlbmRpZGlrYW4uY29tLzIwMTUvMDMvMy10aXBzLXBlbnRpbmctcGlsaWgtc2Vrb2xhaC11bnR1ay1hbmFrLmh0bWw=
Jumat, 27 Maret 2015
Usia Berapa Anak Siap untuk Sekolah?
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Para orang tua biasanya berharap bisa
menyekolahkan anaknya sedini mungkin untuk mempercepat proses
perkembangan kognitifnya. Karena itu, tak jarang kita menemukan
anak-anak usia dini (3-5 tahun) yang sudah cukup mahir membaca dan
berhitung. Namun, usia berapa sebaiknya anak-anak kita siap untuk
disekolahkan?
Menurut psikolog Universitas Pancasila, Aully Grashinta, usia bukanlah faktor utama dalam memutuskan untuk menyekolahkan anak di usia dini. Sebab, usia 3-5 tahun merupakan masa bermain anak, di mana mereka sebenarnya berada dalam tahap perkembangan psikomotorik kasar yang melatih keseimbangan, konsentrasi, serta koordinasi tubuhnya.
Selain itu, pola pikir anak usia dini belum dalam tahapan menginginkan sekolah. “Mungkin anak-anak usia dini akan berkata, ‘Ma, aku ingin sekolah’, tapi sebenarnya mereka hanya sekadar mengatakan dan belum memahami apa itu sekolah,” ujar Shinta, Kamis (26/3).
Karena itu, Shinta mengatakan bahwa tidak ada ciri-ciri yang pasti untuk melihat bahwa anak kita sudah perlu untuk disekolahkan. “Bukan tergantung usia anak, tapi tergantung kita sebagai orang tua ingin mempersiapkan anak kita seperti apa,” lanjutnya.
Menurut Shinta, bisa jadi ayah dan ibu menyekolahkan anak di usia dini karena ingin melatih kedisiplinannya untuk bangun pagi atau melatihnya bersosialisasi dengan teman sebaya, sebelum ia cukup usia untuk masuk TK. “Kembali lagi, tergantung tujuan orang tua,” jelasnya.
Sumber http://gayahidup.republika.co.id/berita/gaya-hidup/parenting/15/03/26/nlsvyi-usia-berapa-anak-siap-untuk-sekolah
Menurut psikolog Universitas Pancasila, Aully Grashinta, usia bukanlah faktor utama dalam memutuskan untuk menyekolahkan anak di usia dini. Sebab, usia 3-5 tahun merupakan masa bermain anak, di mana mereka sebenarnya berada dalam tahap perkembangan psikomotorik kasar yang melatih keseimbangan, konsentrasi, serta koordinasi tubuhnya.
Selain itu, pola pikir anak usia dini belum dalam tahapan menginginkan sekolah. “Mungkin anak-anak usia dini akan berkata, ‘Ma, aku ingin sekolah’, tapi sebenarnya mereka hanya sekadar mengatakan dan belum memahami apa itu sekolah,” ujar Shinta, Kamis (26/3).
Karena itu, Shinta mengatakan bahwa tidak ada ciri-ciri yang pasti untuk melihat bahwa anak kita sudah perlu untuk disekolahkan. “Bukan tergantung usia anak, tapi tergantung kita sebagai orang tua ingin mempersiapkan anak kita seperti apa,” lanjutnya.
Menurut Shinta, bisa jadi ayah dan ibu menyekolahkan anak di usia dini karena ingin melatih kedisiplinannya untuk bangun pagi atau melatihnya bersosialisasi dengan teman sebaya, sebelum ia cukup usia untuk masuk TK. “Kembali lagi, tergantung tujuan orang tua,” jelasnya.
Sumber http://gayahidup.republika.co.id/berita/gaya-hidup/parenting/15/03/26/nlsvyi-usia-berapa-anak-siap-untuk-sekolah
Rabu, 11 Maret 2015
Empat Langkah Mendidik Anak Berjiwa Sportif
TRIBUNNEWS.COM -Si kecil begitu aktif mengikuti banyak pertandingan olahraga di sekolah termasuk kompetisi kecerdasan.
Dalam suatu kompetisi, pasti ada kemenangan dan kekalahan. Untuk sebagian anak-anak, banyak belum bisa menerima kekalahan dengan cara yang bijak dan lapang dada. Tak sedikit yang merespon kekalahan dengan tangisan, mengamuk, dan sebagainya.
Di sinilah tugas orangtua untuk mengajarkan dan memberikan pengertian soal jiwa sportifitas pada sang buah hati. Seperti uraian berikut ini:
Berikan contoh yang baik
Ketika menonton sebuah pertandingan, jangan pernah menghina tim lawan. Cara ini mengajarkan anak bahwa menghina dan menyudutkan orang lain adalah hal yang lumrah. Sebaliknya, berikan tanggapan positif tentang tim lawan di depan anak Anda.
Berikan aturan dasar sportivitas
Orang yang paling bertanggung jawab untuk mengajarkan anak tentang sportivitas dan berjiwa lapang dada adalah orangtua.
Biarkan anak Anda tahu ekspektasi Anda mengenai cara memperlakukan lawan. Yakinkan anak Anda untuk tidak mengikuti teman-temannya yang mengejek tim lawan yang kalah.
Fokus pada pertandingan, bukan pada hasil
Ajarkan anak untuk fokus kepada pertandingan yang adil dan kerjasama tim. Jangan ajarkan anak untuk terobsesi dengan kemenangan semata.
Sebab, jika Anda mengajarkan anak untuk fokus pada hasil, maka saat dewasa dia akan memakai segala cara untuk memperoleh apapun yang mereka mau, tanpa mempertimbangkan dampak buruk dan baik.
Berikan anak pengertian kalah
Ketika anak kalah, jangan kelihatan bersedih, kecewa atau marah. Berikan dia dukungan dan semangat serta pengertian tentang kalah yang terhormat.
Ajarkan anak untuk memberikan selamat dan menghargai perjuangan tim lawan. Kemudian, bantu anak mengevaluasi pertandingan dengan mempelajari kesalahannya dan kekurangan si kecil.
Tularkan pengertian pada anak bahwa kalah adalah sebuah kondisi wajar dalam kehidupan. Sebab, berangkat dari kesalahan seseorang akan termotivasi dan menghargai sebuah kemenangan.
sumber http://www.tribunnews.com/lifestyle/2015/03/11/empat-langkah-mendidik-anak-berjiwa-sportif?page=2
Dalam suatu kompetisi, pasti ada kemenangan dan kekalahan. Untuk sebagian anak-anak, banyak belum bisa menerima kekalahan dengan cara yang bijak dan lapang dada. Tak sedikit yang merespon kekalahan dengan tangisan, mengamuk, dan sebagainya.
Di sinilah tugas orangtua untuk mengajarkan dan memberikan pengertian soal jiwa sportifitas pada sang buah hati. Seperti uraian berikut ini:
Berikan contoh yang baik
Ketika menonton sebuah pertandingan, jangan pernah menghina tim lawan. Cara ini mengajarkan anak bahwa menghina dan menyudutkan orang lain adalah hal yang lumrah. Sebaliknya, berikan tanggapan positif tentang tim lawan di depan anak Anda.
Berikan aturan dasar sportivitas
Orang yang paling bertanggung jawab untuk mengajarkan anak tentang sportivitas dan berjiwa lapang dada adalah orangtua.
Biarkan anak Anda tahu ekspektasi Anda mengenai cara memperlakukan lawan. Yakinkan anak Anda untuk tidak mengikuti teman-temannya yang mengejek tim lawan yang kalah.
Fokus pada pertandingan, bukan pada hasil
Ajarkan anak untuk fokus kepada pertandingan yang adil dan kerjasama tim. Jangan ajarkan anak untuk terobsesi dengan kemenangan semata.
Sebab, jika Anda mengajarkan anak untuk fokus pada hasil, maka saat dewasa dia akan memakai segala cara untuk memperoleh apapun yang mereka mau, tanpa mempertimbangkan dampak buruk dan baik.
Berikan anak pengertian kalah
Ketika anak kalah, jangan kelihatan bersedih, kecewa atau marah. Berikan dia dukungan dan semangat serta pengertian tentang kalah yang terhormat.
Ajarkan anak untuk memberikan selamat dan menghargai perjuangan tim lawan. Kemudian, bantu anak mengevaluasi pertandingan dengan mempelajari kesalahannya dan kekurangan si kecil.
Tularkan pengertian pada anak bahwa kalah adalah sebuah kondisi wajar dalam kehidupan. Sebab, berangkat dari kesalahan seseorang akan termotivasi dan menghargai sebuah kemenangan.
sumber http://www.tribunnews.com/lifestyle/2015/03/11/empat-langkah-mendidik-anak-berjiwa-sportif?page=2
Jumat, 30 Januari 2015
Cegah Anak Menggunakan Kata Kasar dengan Cara Ini
Thursday, 29 January 2015, 17:30 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Balita cepat sekali belajar. Semua tindakan dan kebiasaan yang mereka lakukan bisa jadi karena terpengaruh dari lingkungan sekitarnya.
Berhenti menggunakan kata-kata kasar
Jangan gunakan kata-kata kasar atau jorok di depan balita. Ingat balita menganggap Anda sebagai panutan mereka. Mereka akan mengamati, mendengarkan, dan melakukan semua tingkah laku Anda.
Jika ingin balita Anda berhenti menggunakan kata-kata kasar, Anda harus menjadi contoh yang sempurna bagi mereka.
Perhatikan apa yang mereka tonton
Batasi anak Anda saat acara TV atau program lain yang menggunakan bahasa kasar. Balita percaya semua yang mereka lihat dan dengar.
Media visual memunyai dampak yang parah. Anak Anda mungkin belajar menggunakan kata-kata kasar dari televisi.
Kenali teman-teman mereka. Anda harus mengenal teman-teman anak Anda dan cara mereka berbicara. Jika teman anak Anda menggunakan kata-kata kasar, dia akan berpikir bahwa kata-kata kasar teman mereka bisa diterima siapa saja. Ajarkan anak Anda untuk mengikuti apa yang benar.
Biarkan anak tahu mengapa kata itu 'buruk'
Cobalah untuk menjelaskan pada anak Anda bahwa kata yang biasa dia gunakan tidak baik, dan tidak boleh digunakan. Jelaskan kepada anak Anda mengapa menggunakan kata yang kasar tidak dapat diterima di rumah dan di masyarakat.
Biarkan mereka memahami dengan jelas bahwa berbicara dengan benar akan membuat mereka diterima di mana saja.
Gunakan kata-kata yang tepat
Karena bahasa adalah hal baru untuk anak, mereka mungkin bingung antara kata yang baik dan yang buruk. Saat di rumah sebaiknya hanya menggunakan kata-kata yang tepat, sehingga anak Anda akan mengerti mana yang harus diikuti.
sumber : http://gayahidup.republika.co.id/berita/gaya-hidup/parenting/15/01/29/nixp6m-cegah-anak-menggunakan-kata-kasar-dengan-cara-ini
Rabu, 14 Januari 2015
10 Pola Asuh Untuk Anak Cerdas
Kecerdasan
anak hingga besar nanti dipengaruhi faktor lingkungan dan pola asuh
yang diterimanya. Harus bagaimana agar ia tumbuh cerdas? Perhatikan 10
hal ini.
- Bebaskan anak mengeksplorasi lingkungan. Lingkungan menjadi sarana luas bagi anak untuk belajar tentang berbagai macam hal. Eksplorasi di alam memicu anak aktif bergerak juga meningkatkan rasa ingin tahu anak terhadap berbagai aspek kehidupan. Dorong anak mengeksplorasi lingkungan yang baru dikenalnya –misalnya sambil menyusuri sungai, ia belajar tentang sifat air yang mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah.
- Ikuti minat anak. Untuk menggali potensi luar biasa di dalam diri anak, beri dukungan penuh pada bidang-bidang yang disukai anak, kalau perlu ikut berlatih dan menjadi teman berlatih yang menyenangkan untuknya.
- Tuturkan pengetahuan tentang dunia dan isinya. Berikan anak fasilitas dan kesempatan untuk mengenal dunia beserta seluruh aspek kehidupan. Ini membuat anak berpandangan terbuka terhadap berbagai berbagai hal ‘baru’ sesuai perkembangan ilmu pengetahuan.
- Bacakan aneka buku pengetahuan secara rutin dengan suara yang keras dan intonasi yang benar. Selain menumbuhkan minat membaca anak, anak juga akan menyerap pengetahuan dari buku untuk menunjang minatnya. Kebiasaan membaca buku juga menanamkan ikatan batin antara Anda dan si kecil.
- Jadilah model yang baik. Anak akan meniru orang tuanya. Maka, orangtua wajib menjadi role model atau panutan terbaik bagi anak –dalam seluruh aspek kehidupan sehari-hari. Tunjukkan minat Anda untuk selalu belajar dan menemukan hal-hal baru yang menarik dan kreatif bersama anak. Tunjukkan dan terapkan pola hidup sehat. Tunjukkan pula sikap menghargai serta empati kepada setiap anggota keluarga, orang lain, serta mahkluk hidup lain.
- Seringlah bertanya kepada anak. Ajukan beberapa pertanyaan kepada anak yang akan memancingnya untuk memberi jawaban berupa penjelasan yang juga merangsangnya untuk adu argumentasi. Atau ajak dia berdiskusi. Anda dapat memulainya dengan menanyakan secara rinci seputar hal-hal yang ia minati atau yang sedang dilakukannya. Selanjutnya, kembangkan untuk menggali jawaban dan pendapat anak terhadap berbagai hal.
- Beri kesempatan mengambil keputusan. Membiasakan anak untuk mengambil keputusan akan melatih anak untuk belajar sebab-akibat serta tanggung jawab. Melatih anak untuk mengambil keputusan juga akan memicu anak untuk belajar berpikir analitis dengan merangkaikan hal-hal yang sudah dipelajari dan dipahaminya.
- Tingkatkan kesempatan bersosialisasi. Semua pengalaman emosional yang diperoleh anak akan mempengaruhi pembentukan jalinan antar sel-sel saraf pada otaknya. Anak butuh kesempatan bersosialisasi seluas-luasnya karena akan memperkaya pengalaman emosional anak, serta sarana untuk belajar mengekspresikan perasaannya. Semakin baik kecerdasan emosional anak, semakin baik pula penyampaian rangsang antar sel-sel saraf pada otaknya.
- Cukupi kebutuhan gizinya. Nutrisi untuk otak, terutama DHA, terbukti berperan dalam perkembangan otak anak pada “periode emas”. Berikan konsumsi jenis makanan kelompok brain food, misalnya makanan sumber protein, untuk meningkatkan kemampuan berkonsentrasi, berpikir dan kewaspadaan.
- Jaga kesehatan anak. Olahraga atau latihan fisik tidak hanya membuat tubuh anak sehat, tapi juga membuat dia cerdas! Sebab, selain sirkulasi oksigen, gula dan zat gizi menjadi lancar ke seluruh tubuh dan otak, juga akan memicu produksi hormon untuk sel saraf (nerve growth factor). Dengan tubuh sehat, anak memiliki kesempatan luas untuk belajar berbagai hal, serta mengeksplorasi potensi kecerdasan dalam dirinya dengan optimal. Sumber dari : http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/balita/psikologi/10.pola.asuh.untuk.anak.cerdas/001/007/1080/1/1
Langganan:
Postingan (Atom)