.

STOP Kekerasan dalam keluarga CIPTAKAN SUASANA NYAMAN DALAM KELUARGA

Jumat, 03 Juni 2016

5 Langkah Jauhkan Anak dari Pelecehan Seksual

Beberapa waktu terakhir, Bunda tentu sering mendengar berita tentang pelecehan pada anak. Ya, kasus pelecehan pada anak, terutama seksual, memang sudah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan di Indonesia. Dengan adanya kasus-kasus tersebut, sudah saatnya Bunda membekali si kecil dengan pengetahuan sejak dini tentang menjaga diri sendiri.
Pelecehan seksual tidak hanya mengintai anak-anak, tapi juga balita. Pelakunya pun tidak hanya orang asing, tapi juga orang yang dekat dengan korban. Lantas, bagaimanakah peran Ayah dan Bunda dalam mencegah hal ini terjadi pada si kecil? Berikut adalah 5 langkah penting dalam mencegah pelecehan seksual pada anak yang bisa dilakukan:
  1. Kenalkan nama-nama bagian tubuh anak
    Pada usia 3 tahun, si kecil sudah harus memahami nama-nama bagian tubuhnya. Bunda tidak perlu sungkan untuk mengenalkan nama alat genitalnya dengan istilah yang sesungguhnya. Misalnya, “penis” untuk anak laki-laki dan “vagina” untuk anak perempuan. Pembiasaan menggunakan istilah yang sesungguhnya ini dapat membantu si kecil berkomunikasi dengan orang dewasa saat sesuatu terjadi pada alat vitalnya.
  2. Ajarkan mana yang boleh, mana yang tidak
    Si kecil juga harus memahami tentang konsep privasi, yaitu bahwa tidak semua orang boleh melihat dan menyentuh bagian tubuhnya. Bagian yang tidak boleh dilihat dan disentuh sembarang orang adalah mulut, dada, pantat, dan kemaluan serta bagian di sekitar paha. Beritahu pula mengenai siapa saja yang boleh melihat dan menyentuhnya serta dalam situasi apa. Misalnya, Ayah dan Bunda boleh menyentuhnya saat memandikan atau membantu si kecil membersihkan diri usai buang air. Selain itu, dokter juga boleh menyentuh kemaluannya ketika si kecil diperiksa, namun tentu saja dengan didampingi Ayah atau Bunda.
  3. Ajarkan jenis-jenis sentuhan
    Ada 3 jenis sentuhan yang perlu diketahui oleh anak. Pertama, sentuhan baik dan boleh, yaitu sentuhan pada bagian tubuh atas karena kasih sayang seperti membelai kepala dan mencubit pipi secara lembut. Kedua, sentuhan waspada, yaitu sentuhan pada bagian dada hingga lutut si kecil. Ketiga, sentuhan tidak baik dan terlarang, yaitu sentuhan pada bagian alat vital si kecil. Bila ada yang melakukannya, mintalah si kecil untuk berani menolak dengan tegas dan berkata “Jangan sentuh!”
  4. Ajarkan untuk selalu berhati-hati
    Bukan untuk menakut-nakuti, tapi peran Ayah dan Bunda adalah termasuk mengajari si kecil untuk selalu waspada terhadap orang asing dan lingkungannya. Si kecil sebaiknya tidak sembarangan berinteraksi dengan orang yang tidak dikenal, baik di lingkungan rumah, sekolah, dan tempat bermainnya. Jika ada orang asing yang melakukan hal tidak baik, beritahu bahwa si kecil harus segera lari ke tempat yang ramai, teriak minta tolong, dan mengadu pada orang yang dapat dipercaya, seperti orang tua dan guru.
  5. Biasakan berpakaian sopan
    Membiasakan anak berpakaian sopan sejak dini dapat membantu mengajarinya tentang bagian tubuh mana yang tidak boleh dilihat dan disentuh oleh orang lain. Selain itu, pakaian yang sopan juga dapat mengurangi risiko si kecil terhadap perilaku tak senonoh dari pelaku pelecehan.
Di samping kelima langkah di atas, peran Ayah dan Bunda dalam menjauhkan kekerasan seksual pada si kecil juga termasuk dengan sering mengajaknya mengobrol dan memeriksa kondisi tubuhnya. Perhatian serta peran Ayah dan Bunda sungguh berarti bagi keselamatan si kecil.
Sumber:
ayahbunda.co.id
underwearrule.org
fan.or.id

Rabu, 11 Mei 2016

Yang Harus Diperhatikan Orangtua Dalam Memilih Sekolah Anak

Apakah saat ini anda sudah berencana untuk menyiapkan anak anda memasuki dunia sekolah? Atau anda sudah menentukan sekolah sebagai tempat anak anda belajar? Menyiapkan pendidikan anak adalah mutlak tanggungjawab orangtua dan ini sangat penting karena menyangkut masa depan anak anda.

Anda sebagai orangtua tentu tak ingin sembarangan mencari sekolah untuk sang buah hati. Karena, memilih sekolah yang tepat, terutama taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar (SD), merupakan sebuah “investasi jangka panjang” bagi masa depan anak-anak anda.

Banyak sekali pilihan sekolah anak saat ini dengan beragam program dan vasilitas yang ditawarkan. Pada masa sekarang ini, pilihan orang tua tentang sekolah tak cuma soal biaya dan jarak tempuh dari rumah seperti yang dilakukan orangtua kita dulu saat memilihkan sekolah untuk kita. Pemilihan sekolah untuk anak, khususnya di kota-kota besar tak sesederhana itu lagi meski keduanya juga masih tetap menjadi faktor pertimbangan utama.

Jaman dahulu pilihan sekolah cuma ada dua, negeri atau swasta. Tapi saat ini anda akan sering mendengar ragam sekolah, seperti sekolah unggulan, sekolah internasional, sekolah berbasis agama, sekolah dengan asrama, sekolah alam, sekolah bilingual, atau kombinasi antara dua dan tiga kategori ini. Bahkan sekolah asingpun mulai bermunculan bukan hanya di kota-kota besar saja.

Lantas, sekolah mana yang harus anda dipilih? dan hal apa sajakah yang perlu diperatikan orangtua dalam memilih sekolah untuk anak? Berikut penjelasanya.

1. Mengedepankan kemampuan verbal dan kreatifitas anak.
Menurut psikolog dan pengamat pendidikan anak, Seto Mulyadi, mengatakan bahwa ragam sekolah yang muncul saat ini, sebenarnya bermaksud untuk menjawab harapan orangtua yang tidak terpenuhi dari sekolah publik yang sudah ada sebelumnya. Pada umumnya, sekolah-sekolah alternatif baru itu menawarkan konsep yang sama, yaitu mengedepankan kemampuan verbal anak dan mengasah kreatifitas anak.

Namun, Kak Seto mengingatkan kepada para orang tua untuk tidak hanya tertarik dengan iming-imingi promosi program unggulan ini dan itu di suatu sekolah. Menurutnya, ditengah tawaran-tawaran yang menggiurkan, orangtua harus memegang prinsip "memilih sekolah untuk anak, bukan anak untuk sekolah.

2. Kenali kebutuhan anak.
Pada intinya adalah kenali kebutuhan anak Anda dan carilah sekolah yang membuat anak anda bisa belajar dengan menyenangkan dan tidak stres karena terbebani dengan serangkaian program mata pelajaran. Anak pun perlu dilibatkan dalam mencari sekolah.

3. Kenali guru pengajar.
Pilih sekolah yang guru-gurunya memiliki ‘unconditional love’. Artinya, guru-guru di sekolah tersebut bisa menerima setiap anak apa adanya, dan bisa mengembangkan lingkungan yang disiplinnya positif. Sekolah tidak menuntut anak di luar kemampuannya, berusaha mengerti anak, dan mendorong anak untuk bisa dan bangga atas kemampuannya. Bukan dengan marah-marah atau memaksa anak untuk menyelesaikan lembar tugasnya.

4. Jangan paksakan anak.
Selain itu, jangan paksakan anak bersekolah bila belum cukup umur.Orang tua perlu mempertimbangkan usia dalam memutuskan anak sudah perlu pendidikan formal atau belum. Anda mungkin melihat anak sudah lebih cerdas daripada anak seusianya sehingga merasa perlu menyekolahkannya. Namun, bisa jadi itu bukan pertimbangan yang baik untuk masa depannya. 
sumber :  http://panduankeluarga.blogspot.co.id/2015/09/tips-memilih-sekolah-anak.html

Jumat, 15 April 2016

5 Kesalahan Orangtua Saat Memberi Instruksi kepada Anak

Liputan6.com, Jakarta Bagi orangtua, memberi perintah atau instruksi kepada anak bukan hal yang mudah dilakukan. Jawaban yang sering orangtua dapatkan adalah 'Sebentar!" atau malah tidak mendapatkan respon sama sekali, dan hal ini sering membuat frustrasi. Pada akhirnya, orangtua akan melakukan sendiri tugas yang ia perintahkan, atau memilih untuk berteriak atau mengomel untuk membuat anak patuh.

Jika Anda selalu butuh beberapa kali instruksi untuk membuat anak Anda patuh dan melakukan apa yang Anda instruksikan, mungkin Anda perlu melihat kembali cara Anda berkomunikasi dengan anak. Ada beberapa kesalahan umum yang orangtua lakukan yang membuat anak tidak mendengarkan Anda. Dikutip dari situs Discipline.about.com pada Rabu (12/4/2016), berikut 5 hal yang harus Anda perhatikan.
1. Jangan memberikan terlalu banyak instruksi
Orangtua cenderung memberikan terlalu banyak perintah pada anak dalam satu hari mulai dari 'ambil kaus kakimu," atau 'makan yang benar' dan banyak perintah lainnya. Semakin sering anak bertingkah laku yang tidak seharusnya, semakin banyak ia menerima instruksi dari orangtuanya. Jika Anda terlalu sering mengomel, kata-kata yang Anda ucapkan hanya akan terdengar seperti suara bising di telinga sang anak. Jangan mengomel pada anak karena hal-hal sepele, pilih hal-hal penting saja saat ingin memberikan instruksi pada anak.
2. Anda tidak memberikan instruksi yang jelas
Kata-kata yang Anda ucapkan sangat penting. "Bisakah kamu menggosok gigimu sekarang?" menyiratkan bahwa sang anak punya pilihan untuk menggosok giginya pada saat itu juga atau pada waktu lain. "Gosok gigimu sekarang, oke?" memberikan instruksi yang lebih tepat dan jelas. Berikan instruksi yang menunjukkan bahwa Anda adalah orangtua yang harus didengarkan, namun dengan cara yang tenang dan tegas.
3. Anda terlalu banyak mengulang instruksi
Terus menerus mengulang perintah dan mengomel justru membiasakan anak bahwa ia tak harus melakukan apa yang Anda katakan langsung setelah ia mendengar perintah tersebut pertama kalinya. Anak akan terbiasa dengan perintah yang berulang-ulang dan merasa bahwa ia tak harus mendengarkan Anda jika Anda baru sekali bicara. Jika anak tidak langsung mengerjakan apa yang Anda perintahkan, berikan ia peringatan. Jangan biarkan anak mengabaikan kata-kata Anda meskipun Anda baru mengucapkannya satu kali.
4. Anda tidak memberikan konsekuensi
Jika Anda memerintahkan anak Anda untuk menggosok gigi dan ia tidak mendengarkan Anda, Anda harus memberikan konsekuensi. Jika tidak, ia akan menganggap bahwa ia tak harus melakukan apa yang Anda perintahkan kepadanya. Peringatan tanpa adanya hukuman juga tak akan bekerja efektif. Jika anak tidak kooperatif, berikan hukuman kecil yang akan membuatnya mengerti bahwa akan konsekuensinya jika ia tidak melakukan perintah orangtuanya.
5. Anda tidak memberikan penghargaan kepada anak
Perhatian dan penghargaan sangat penting untuk membuat anak merasa termotivasi untuk melakukan instruksi atau perintah dari orangtuanya. Anda tak harus selalu memberinya hadiah setiap dia melakukan perintah dari Anda, namun penghargaan dan apresiasi sangat diperlukan. Afirmasi dari orangtua akan membuat anak termotivasi untuk berperilaku baik dan mengikuti instruksi.
Sumber :  http://lifestyle.liputan6.com/read/2482715/5-kesalahan-orangtua-saat-memberi-instruksi-kepada-anak?ref=yfp

Jumat, 26 Februari 2016

Anak Suka Melawan Orang Tua? Begini Cara Mengatasinya!

Saat anak berusia antara 2 sampai 5 tahun, kemampuannya untuk melawan dan kegigihannya untuk keras kepala merupakan hal yang lumrah terjadi. Hal ini merupakan fase yang sangat alami, terutama pada masa pertumbuhan kejiwaan anak. Hal tersebut terjadi karena anak mulai menyadari bahwa dirinya adalah pribadi yang independen dan tidak bergantung dari orang tua atau manusia lain di sekitarnya.

Kebiasaan anak yang suka melawan juga tidak hanya terjadi akibat fase tersebut. Anak bisa saja meniru kebiasaan buruk orang tuanya yang juga keras kepala, atau anak terbiasa dimanja secara berlebihan oleh orang tuanya. Tidak ada kasih sayang yang menyeluruh dari orang tua juga bisa berakibat pada perkembangan psikologis yang sama. Jika kamu menghadapi masalah yang serupa, maka lakukan hal-hal berikut sebelum memarahi anak.

Melihat Kembali Diri Pribadi

Lihatlah diri kita sendiri, apakah sudah bisa menjadi contoh yang baik atau justru sama keras kepalanya dengan anak. Jika masih merasa diri ini paling benar, itu artinya kita masih menjadi orang tua yang keras kepala. Jadi, ubahlah perilaku kita sebelum mengubah perilaku anak.

Lebih Fleksibel

Saat menghadapi suatu kebutuhan anak, bersikaplah fleksibel sehingga tidak hanya memenuhi kebutuhan materinya saja tapi juga kebutuhan emosional yang berupa perhatian serta kasih sayang. Bagi anak, kebutuhan inilah yang paling penting.

Menyalurkan Hobi

Setiap anak pasti memiliki hobi yang berbeda-beda. Untuk itu, berikan kesempatan kepada anak untuk menyalurkan hobinya dan memperlihatkan pada semua orang bahwa dirinya memang layak untuk dihargai sebagai pribadi yang independen.

Bersikaplah Bijak

Memiliki anak yang pintar tentu menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi orang tua. Namun, jangan terlalu banyak memujinya atau meninggikannya sehingga ia akan berpikir bahwa dirinyalah yang paling hebat. Perlakukan anak dengan bijak. Berikan pengarahan kepada anak mengenai betapa bagus bakat yang dimilikinya, namun lebih baik lagi jika dia juga memiliki sifat rendah hati pada orang di sekitarnya.

Hindari Mempermalukan Anak

Meskipun masih kecil, namun ada saatnya anak merasa dipermalukan oleh orang tuanya. Misalnya saja, memarahinya di hadapan umum atau membuat dirinya menjadi bahan tertawaan di hadapan orang lain. Hal ini perlu dihindari agar anak tidak merasa dirinya diremehkan.

Jangan Paksa Anak

Memaksa anak merupakan hal yang paling tidak disarankan. Jika ingin membuat anak menurut, berikan pengertian yang logis menurutnya sehingga ia bisa berpendapat bahwa perintah orang tuanya adalah hal yang baik.
Sumber :https://beritagar.id/artikel/parenting-and-education/anak-suka-melawan-orang-tua-begini-cara-mengatasinya

Rabu, 24 Februari 2016

Cara Mengenalkan Seks pada Balita

Siapa bilang pendidikan tentang seks baru anak perlukan setelah memasuki masa praremaja? Clara Kriswanto, psikolog Jagadnita Consulting, dalam bukunya Seks, Es Krim dan Kopi Susu, mengingatkan, pendidikan seks untuk anak harus dimulai sejak dini, bahkan sejak usia 0 - 5 tahun (masa balita). Dan proses ini akan berlangsung hingga anak mencapai tahap remaja akhir.

Mengapa hal ini penting? Pendidikan seks yang ditanamkan sejak dini akan mempermudah anak dalam mengembangkan harga diri, kepercayaan diri, kepribadian yang sehat, dan penerimaan diri yang positif. Di sini peran orang tua benar-benar penting. Merekalah yang paling mengenal kebutuhan anak, paling tahu perubahan dan perkembangan diri anak, serta bisa memberi pendidikan seks secara alamiah sesuai tahap-tahap perkembangan yang terjadi. 

Bagaimana caranya mengajarkan hal ini setelah anak berusia di atas satu tahun? Inilah triknya:
- Ajak anak mengenali bagian tubuhnya, dan jelaskan fungsi setiap bagian dengan bahasa sederhana. Katakan bahwa tubuhnya adalah karunia yang sangat berharga dan harus dijaga dengan baik. 
- Bangun kebiasaan positif. Misalnya, tidak berganti baju di tempat terbuka, tidak pipis di sembarang tempat, dll. 
- Tanamkan pentingnya menjaga organ tubuh tertentu, seperti alat vital, dari sentuhan orang lain. Tentu saja, 
disertai penjelasan sederhana yang bisa  ia terima dan mengerti dengan baik.
- Biasakan anak berpakaian sesuai identitas kelaminnya sejak dini. Banyak kelalaian orang tua untuk hal ini. Mereka membuat anak perempuan menjadi tomboy dan anak laki-laki menjadi feminin. Dalam kondisi ekstrem, anak bahkan bisa mengalami kebingungan identitas seksual.

Hal-hal seperti itulah yang menurut Clara bisa dikembangkan menuju perilaku yang menjunjung sopan santun, serta peduli terhadap moral dan etika. Yang pasti pula adalah akan sangat berguna dalam pengembangan konsep dan citra diri positif anak dalam kehidupan sosialnya kelak.
Sumber :  http://www.parenting.co.id/balita/cara+mengenalkan+seks+pada+balita

Senin, 22 Februari 2016

Jangan Biarkan Gadget Rebut Quality Time Bersama Sikecil

Terkadang dengan segala kemudahan yang ditawarkan teknologi membuat sebagian orang lupa akan kehidupan nyata dan mengabaikan waktu berkualitas bersama orang terdekat. Khususnya bagi Anda orang tua yang memiliki anak.

Meski mobilitas smartphone mempermudah Anda untuk melakukan aktivitas, kadang kala semua itu menganggu quality time Anda dengan anak bahkan keluarga. Ada beberapa hal yang bisa Anda perhatikan agar waktu berkualitas Anda tidak terganggu.



Recconect

Aktivitas ini dirasa perlu dan harus Anda perhatikan. Luangkan waktu 10 menit saja bersamanya di rumah. Jika Anda seorang yang sibuk dengan aktivitas kantor maupun kegiatan luar, sesempat mungkin setelah sepulang ke rumah, ajak si anak bermain dengan Anda. Ketika ikatan antar orangtua dan anak semakin kuat, Anda pun bisa mendapatkan waktu berkualitas Anda kembali bersama si kecil.

Lebih Peka

Perhatikan waktu-waktu di mana ia memang butuh perhatian. Jadi ketika ia berulah dan mengajak Anda untuk bermain, Anda sudah tahu hal apa yang harus dilakukan. Jangan sekali-kali menganggap anak Anda untuk tenang dan diam duduk manis selagi Anda merasa letih. Toleransi terhadap anak akan membangun relasi yang kuat dengan ia. - See more at: http://www.kesekolah.com/artikel-dan-berita/pendidikan/jangan-biarkan-gadget-rebut-quality-time-bersama-si-kecil.html#sthash.w6UKkgno.dpuf
Sumber :  http://www.kesekolah.com/artikel-dan-berita/pendidikan/jangan-biarkan-gadget-rebut-quality-time-bersama-si-kecil.html#sthash.w6UKkgno.dpbs

Jumat, 19 Februari 2016

Cara Hindari Membentak Anak

Saat anak berulah, dan Anda tidak cukup sabar menghadapinya, sering sekali Anda berteriak sambil marah. Bagaimana menahan amarah?

Sering membentak anak juga menimbulkan efek yang tidak baik pada perkembangan sikapnya. Ia bisa meniru Anda dan akan berteriak sesuka hati baik kepada Anda maupun orang-orang di sekitarnya. Tentunya Anda tidak ingin anak bersikap demikian. Untuk itu sebaiknya hindari berteriak meskipun Anda sedang marah padanya.

Ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk memperingatkan anak tanpa harus membentak dan berteriak:

Ajarkan anak bersikap
Jika anak mulai berulah, posisikan diri Anda setinggi anak Anda kemudian lihat matanya. Bicarakan baik-baik pada anak kalau sikapnya tidak baik dan harus diperbaiki. Ajarkan bagaimana seharusnya ia bersikap. Cara ini lebih mengena pada anak dibandingkan Anda berteriak untuk memperingatkannya.

Beri hukuman efektif
Jika cara di atas tidak berhasil dan malah membuat ulah anak semakin menjadi-jadi, mau tidak mau Anda harus memberikannya hukuman. Minta ia duduk di pojok hukuman selama beberapa menit, hingga emosinya dan Anda turun. Kemudian baru bicara baik-baik padanya, jangan lupa untuk mengungkapkan rasa sayang Anda padanya.

Berikan peringatan
Tekankan sampai tiga kali bagaimana seharusnya ia bersikap. Penelitian menunjukkan seseorang akan menanggapi serius sebuah peringatan jika disampaikan minimal tiga kali. Tanyakan juga alasan mengapa ia berulah, dengan begitu Anda bisa mengetahui penyebabnya. Anak pun merasa dihargai dan didengarkan pendapatnya.
Sumber : http://www.parenting.co.id/usia-sekolah/cara+hindari+membentak+anak

Kamis, 18 Februari 2016

Penggunaan Gadget Pada Anak Ada Aturannya, Ini Dia

Bayi & Balita » Tumbuh Kembang  •   Vera Erwaty Ismainy
Perkembangan teknologi yang pesat saat ini, sedikit banyak memberi pengaruh pada berbagai aspek kehidupan kita, Moms. Salah satunya pada pola dan cara pengasuhan anak (parenting) yang dilakukan orang.


Dengan alasan anak takut ketinggalan perkembangan teknologi, orang tua saat ini cenderung mendekatkan anak dengan gadget. Alasan lainnya adalah agar anak belajar selama masa tumbuh kembangnya. Tapi apakah hal ini sudah tepat?

Psikolog Roslina Verauli mengatakan, mengenalkan gadget pada anak memang boleh-boleh saja. Tapi tentunya hal ini ada peraturan dan tata caranya. Hal ini dikarenakan, pengarug gadget dalam masa tumbuh kembang anak tidak terlalu signifikan.
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara ini menjelaskan, belajar dari televisi, gadget dan video games kurang optimal, karena hanya bersifat satu arah. Sedangkan tumbuh kembang anak yang optimal membutuhkan interaksi dua arah antara si kecil dan ibunya.
"Sebuah rekomendasi dari Amerika Serikat mengatakan, waktu 1-2 jam sudah maksimal digunakan sebagai batas waktu penggunaan gadget pada anak," terangnya dalam sebuah diskusi pada Rabu (2/9).
Penting nih Moms untuk diingat. Soalnya terkadang kita suka lupa karena anak kita menjadi anteng saat kita berikan gadget. Padahal anak tetap butuh panduan dan dukungan dari ayah maupun ibunya untuk dapat bertumbuh dan berkembang dengan optimal dan maksimal.
"Bukan berarti menggunakan gadget itu buruk. Asal ada aturannya, gadget dapat menjadi positif," kata Psikolog yang akrab disapa Vera ini.
Interaksi antara orang tua dan anak sangat penting dilakukan selama masa tumbuh kembang anak. Pada usia 0-6 tahun, anak mengalami perkembangan pesat pada otaknya dan siap mengeksplorasi banyak hal agar sel otaknya berkembang.
Sumber : http://family.fimela.com/bayi-balita/tumbuh-kembang/penggunaan-gadget-pada-anak-ada-aturannya-ini-dia-150903m.html

Senin, 10 Agustus 2015

Ini Pesan Dokter Anak untuk Orang Tua

REPUBLIKA.CO.ID, Anak-anak, dalam usianya yang masih sangat muda dianjurkan untuk tidak melakukan hal berat. Meskipun itu untuk kebaikan dirinya di kemudian hari.
Para orang tua, atau Anda adalah orang tua muda, penting untuk memerhatikan apa yang anak butuhkan saat ini.

Dokter spesialis anak dan magister sains psikologi perkembangan, Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI RSCM, Soedjatmiko, memberikan pesan untuk orang tua. Orang tua dianjurkan untuk tidak melakukan perbuatan kasar, tidak memaksakan kehendak dan berikan contoh perilaku yang baik.

"Hai para orangtua. Anak adalah makhluk titipan Allah. Mereka masih lemah butuh lindungan dan bimbingan. Berilah mereka kasih sayang, pujian, penghargaan, ASI, makanan, pakaian, mainan, imunisasi dan stimulasi," ujarnya dalam broadcast via bbm yang diterima ROL, belum lama ini.

Ia mengingatkan orang tua untuk tidak mencela, memaki, mencubit, memukul dan menyakiti hati nurani dan tubuh mereka.

"Berilah mereka kekebasan, kegembiraan berekspresi, imaginasi, berkreasi. Insya Allah kelak mereka menjadi anak yang sehat, ceria, cerdas, kreatif, inovatif, produktif," ujarnya.

Soedjatmiko menambahkan mereka akan menirukan atas semua yang telah orang tua lakukan pada mereka. Mereka akan membalas apa yang orang tua berikan pada mereka.

"Berikanlah yang terbaik dengan hati ikhlas dan gembira, mereka akan menyebarkan keihlasan dan kegembiraan pula kemana-mana," tambahnya.

Anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia berharap semoga anak-anak kita menjadi anak yang sehat, ceria, cerdas, kreatif dan berperilaku baik.
sumber :  http://gayahidup.republika.co.id/berita/gaya-hidup/parenting/15/08/09/nsrwvj359-ini-pesan-dokter-anak-untuk-orang-tua?ref=yfp

Kamis, 30 Juli 2015

Berhasil Pegang Pensil Pertanda Anak Siap Sekolah

APAKAH anak Anda siap masuk taman kanak-kanak? Pada kenyataannya, tidak ada ciri-ciri spesifik yang dapat menentukan seorang anak siap memasuki dunia sekolah.
 
Namun, ada beberapa cara untuk melihat kalau anak sudah matang dan siap memasuki lingkungan baru secara fisik, sosial, dan kognitif.
 
Umumnya, usia menjadi patokan anak untuk masuk TK, yakni usia lima tahun pada pertengahan Juli saat dimulainya tahun ajaran baru. Tetapi penelitian menunjukkan bahwa usia bukan cara terbaik untuk memutuskan apakah anak siap masuk sekolah dan sukses sebagai siswa.
Beberapa tahun terakhir, sekolah lebih fokus membangun kesiapan fisik, sosial, dan kognitif seorang anak masuk TK. Berikut beberapa cara untuk melihat kesiapan anak masuk TK bukan dari sisi usia.
1) Dapatkah anak mendengarkan instruksi dan kemudian mengikutinya? Anak-anak perlu keterampilan ini di dalam kelas, untuk mendengar instruksi guru dan bersaing dengan teman-temannya.
2) Apakah dia bisa memakai jaket sendiri atau pergi ke kamar mandi sendiri? Anak-anak perlu agak mandiri ketika masuk usia sekolah.
3) Bisakah dia membaca alfabet dan menghitung? Kebanyakan guru TK menganggap bahwa anak-anak memiliki setidaknya keakraban dasar dengan huruf ‘ABC’ dan angka meskipun mata pelajaran ini akan dibahas sebagai bagian dari kurikulum TK.
4) Bisakah dia memegang pensil? Memotong dengan gunting? Anak butuh keterampilan motorik halus untuk mulai bekerja menulis alfabet, guna bersaing di dalam kelas.
5) Apakah ia menunjukkan minat pada buku? Apakah ia mencoba untuk "membaca" buku dengan menceritakan sebuah cerita berdasarkan gambar? Ini adalah tanda bahwa perkembangan bahasanya sudah setara dengan anak TK lain dan ini menunjukkan bahwa dia siap untuk mulai belajar seperti bagaimana ia membaca.
6) Apakah dia penasaran dan suka belajar hal-hal baru? Jika rasa ingin tahu anak lebih kuat dari rasa takutnya dengan sesuatu yang asing, dia akan melakukannya dengan baik di sekolah.
7) Apakah dia bergaul baik dengan anak-anak lain? Apakah dia mau berbagi dan tahu bagaimana bergiliran? Dia akan berinteraksi dengan anak-anak lain sepanjang hari, sehingga keterampilan sosial anak sangat penting untuk keberhasilannya di sekolah.
8) Bisakah dia bekerja sama dengan orang lain sebagai bagian dari kelompok? Menomorduakan kepentingannya sendiri, kompromi dan bergabung dalam konsensus dengan anak-anak lainnya, juga merupakan bagian dari kompetensi emosional.
Jika sebagian besar pertanyaan-pertanyaan di atas dapat dilakukan anak Anda dan "kadang-kadang" untuk sebagian, maka anak Anda siap masuk TK. Jika tidak, orangtua perlu memasuki anak ke prasekolah atau PAUD lebih dulu. Demikian dilansir Babycenter, Selasa (28/7/2015).
Sumber  : http://lifestyle.okezone.com/read/2015/07/27/196/1186189/berhasil-pegang-pensil-pertanda-anak-siap-sekolah

Rabu, 29 Juli 2015

Cara Cerdas Atasi Anak Berwatak Keras

KARAKTER anak sudah mulai terbaca sejak kecil. Orangtua yang memberi perhatian penuh kepada anak pasti mengetahui anak akan tumbuh dengan karakter seperti apa. Lantas, bagaimana bila anak memliki watak keras?
 
Sejak anak baru belajar berjalan akan terlihat apakah ia akan tumbuh menjadi pribadi yang keras atau lunak. Misalnya, dari bagaimana si anak ingin berlari, menjangkau atau meraih sesuatu. Anak berwatak keras sulit dilarang dengan kata-kata untuk tidak mendekati kabel listrik di belakang televisi. Meski orangtua sudah menutupi, menarik tangannya, dan menghalangi.
Anak berwatak keras belum tentu buruk. Orangtua bisa mengambil keuntungan ini bila dapat mendidik dengan cara yang benar. Anak berwatak keras berarti memiliki kemauan kuat untuk sukses di masa depan. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan orangtua untuk mendidik anak berwatak keras agar tumbuh di jalur terarah.
Membatasi keinginan anak
Anak berwatak keras sulit dilarang bila menginginkan sesuatu dan punya banyak kemauan. Ketika dihadapkan pada berbagai pilihan dia pasti ingin mendapat semuanya. Termasuk pakaian, makanan, dan mainan. Bila orangtua dihadapkan pada situasi ini, solusinya adalah beri dia pilihan satu di antara dua. Hal ini dimaksud agar anak dapat menentukan pilihan dan lebih fokus bila mengerjakan sesuatu. Jangan menyerah bila anak merengek.
Tegas dengan aturan dan kata-kata
Apabila anak menentang atau tidak setuju dengan kata-kata Anda, jangan pernah menyerah untuk menunjukkan bahwa sikap buruk dan keras tidak akan memenangkan keinginannya. Hal itu mengajarkan anak menghargai aturan orang lain. Setelah itu dia akan berupaya belajar untuk tidak mempertahankan watak kerasnya.
Fokus mengarahkan ke kegiatan positif
Bidang akademis, seni, dan persahabatan memfasilitasi anak berkemauan keras ini untuk menjadi unggul dalam suatu bidang. Ketika mereka menemukan masalah sulit, dia akan semakin gigih. Demikian dilansir Familyshare, Rabu (29/7/2015).(vin)
sumber : http://lifestyle.okezone.com/read/2015/07/28/196/1186772/cara-cerdas-atasi-anak-berwatak-keras?ref=yfp

Senin, 27 Juli 2015

Dua Cara Agar Anak Mau Dengarkan Orang Tua

REPUBLIKA.CO.ID, Emosi orang tu tersulut biasanya karena anak tidak mau makan, tidak mau mandi, mengotorkan rumah dan lainnya. Anda sudah mengingatkan anak, tapi mereka tak mau mendengar. Bagaimana caranya agar anak mau mendengarkan Anda?

Bicara perlahan, dengan jeda
Dikutip dari Popsugar, Senin (27/7), ketika kata-kata atau permintaan orang tua yang disampaikan dengan intensitas paling cepat anak akan mundur secara tidak sadar di belakang. Mereka tidak akan mendengarkan Anda. Berusahalah untuk sadar dan tidak membebani orang lain atau anak secara emosional. Pastikan bahwa Anda memberi mereka suatu atau dua momen untuk mencerna apa yang Anda katakan sebelum melangkah ke tahapan berikutnya.

Lihat dan sesuaikan bahasa tubuh
Perhatikan bahasa tubuh anak Anda adalah satu cara yang baik untuk melihat apakah yang sudah Anda katakan pada mereka. Jika Anda tidak akan dapat melewatinya, jangan salahkan mereka atau buat mereka sadar diri dengan menyebutkan perhatian mereka pada apa yang tubuh mereka lakukan. Bukan menyesuaikan apa yang Anda lakukan.

Buatlah kontak mata, jangkau mereka dan berikan sentuhan lembut di atas bahu untuk mengubah sebuah koneksi, sejajarkan mata Anda dengan mata anak, bukan pada wajahnya. Modulasi suara Anda karena kata-kata hangat akan lebih diterima dari pada kata-kata dingin yang menuduh.

Ingat bagaimana perkataan Anda mengubah satu tempat Anda dalam hubungan dengan mereka dan menambah kemungkinan mendengarkan, apakah Anda berbicara kepada orang dewasa dan anak anak.

sumber : http://gayahidup.republika.co.id/berita/gaya-hidup/parenting/15/07/27/ns4bl5328-dua-cara-agar-anak-mau-dengarkan-orang-tua?ref=yfp

Rabu, 03 Juni 2015

Kesalahan Memberi Imbalan pada Anak

PERDEBATAN besar terjadi antara para pemerhati anak dan pakar keuangan tentang kepantasan memberi imbalan untuk anak. Ada yang membenarkan ada juga yang mengatakan itu salah.
 
Sering ditemukan orangtua yang memberi anak imbalan berupa uang atau barang setelah anak menyelesaikan tugas-tugasnya. Alasan mereka beragam. Ada orangtua yang ingin anak termotivasi untuk belajar lebih baik lagi setelah mendapat imbalan, ada pula yang ingin mengajarkan anak tentang arti dari usaha.
 
Misalnya, anak membantu orangtua mengerjakan pekerjaan rumah, seperti membereskan kamar akan mendapat uang saku tambahan. Cara ini diberlakukan orangtua pada anak agar anak-anak paham tentang arti bekerja. Agar anak juga mengerti tujuan orangtuanya bekerja dan turut merasakan. Sedini mungkin anak sudah dilatih bekerja. Jadi, semua yang dilakukan anak ada reward sebagai bentuk apresiasi.
 
Akan tetapi, cara ini dipersalahkan dan menjadi perdebatan. Orangtua dianggap tidak mengajarkan tentang ketulusan dan telah mempekerjakan anak kecil. Bekerja adalah tugas orang dewasa dan tidak seharusnya diberlakukan pada anak-anak.
 
Sebab, jika anak sudah mengerti bekerja dan uang sejak kecil, mereka akan terus meminta imbalan dan pikiran mereka hanya diisi dengan uang. Seharusnya orangtua yang meminta anak bekerja di rumah untuk membantu tugas-tugas mereka dengan menanamkan nilai tanggung jawab dan kasih sayang. Anak harus terlibat urusan rumah karena mereka adalah bagian dari keluarga. Demikian dilansir dari Familyshare, Rabu, (3/6/2015).(vin)
(pad)
Sumber  http://lifestyle.okezone.com/read/2015/06/02/196/1159091/kesalahan-memberi-imbalan-pada-anak?ref=yfp 

Senin, 30 Maret 2015

3 Tips Penting Pilih Sekolah untuk Anak

3 Tips penting pilih sekolah untuk anak – Pendidikan merupakan wahana untuk mewujudkan masa depan anak yang lebih baik. Melalui pendidikan juga akan ditentukan bagaimana generasi muda untuk sekian tahun yang akan datang. Namun demikian, kualitas pendidikan yang dilalui anak lebih menentukan warna dan corak generasi muda yang akan datang.
Setiap lembaga sekolah pasti akan menawarkan produk layanan yang eksklusif kepada orang tua. Berbagai media digunakan untuk mempromosikan sekolah dengan tujuan untuk memperoleh peserta didik baru sesuai target mereka. Embel-embelnya adalah pendidikan yang berkualitas untuk masa depan anak.
Orang tua maupun anak bisa kebingungan memilih salah satu sekolah tempat belajar anak. Habis, semuanya baik dan berkualitas. Lalu bagaimana cara memilih sekolah yang baik untuk anak? 
Memilih sekolah perlu mempertimbangkan banyak hal. Salah satunya tepat bagi anak maupun orang tua. Ketepatan memilih sekolah untuk anak akan mendorong tercapainya prestasi belajar yang memuaskan. Anak merasa suka dan nyaman untuk belajar sehingga berpeluang memperoleh hasil belajar yang diinginkan.
1.Kemauan dan kemampuan anak.
Mempertimbangkan kemauan dan kemampuan anak sangatlah penting dilakukan oleh orang tua. Orang tua perlu mengetahui kemauan anak yang sesungguhnya sehingga tidak terkesan memaksakan kemauan orang tua untuk memilih sekolah. Begitu pula apakah anak mampu untuk bersekolah di tempat yang dipilihkan atau tidak. Memilihkan sekolah anak berdasar kehendak orang tua beresiko tidak baik kepada anak.
2.Kondisi ekonomi.
Seorang anak mungkin saja mempunyai kemauan dan kemampuan untuk memilih sekolah tertentu namun perlu disesuaikan dengan keadaan ekonomi. Sekolah kategori mahal justru akan membuat orang tua kewalahan untuk membiayai anak. Yang perlu dipertimbangkan orang tua adalah biaya pendidikan yang menyangkut seragam sekolah, buku pelajaran, akomodasi, transportasi atau biaya tempat kost anak jika jauh dari rumah.
3.Pelayanan pendidikan di sekolah.
Poin ketiga ini sesungguhnya amat penting untuk dipertimbangkan oleh orang tua. Bimbing anak untuk memilih sekolah yang mengutamakan pengembangan sikap dan karakter baik untuk kepentingan masa depan anak. Sekolah yang mengedepankan aspek pendidikan moral, budi perti luhur, di samping aspek intelektual dan psikomotorik anak.
Indikasi sekolah dengan layanan pendidikan karakter, sikap dan budi perkerti luhur akan terlihat dari bagaimana proses belajar anak, penerapan disiplin sekolah dan disiplin belajar, tradisi dan kebiasaan baik yang dilakukan setiap hari di sekolah. 
sumber: http://log.viva.co.id/frame/read/aHR0cDovL3d3dy5tYXRyYXBlbmRpZGlrYW4uY29tLzIwMTUvMDMvMy10aXBzLXBlbnRpbmctcGlsaWgtc2Vrb2xhaC11bnR1ay1hbmFrLmh0bWw=

Jumat, 27 Maret 2015

Usia Berapa Anak Siap untuk Sekolah?

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Para orang tua biasanya berharap bisa menyekolahkan anaknya sedini mungkin untuk mempercepat proses perkembangan kognitifnya. Karena itu, tak jarang kita menemukan anak-anak usia dini (3-5 tahun) yang sudah cukup mahir membaca dan berhitung. Namun, usia berapa sebaiknya anak-anak kita siap untuk disekolahkan?

Menurut psikolog Universitas Pancasila, Aully Grashinta, usia bukanlah faktor utama dalam memutuskan untuk menyekolahkan anak di usia dini. Sebab, usia 3-5 tahun merupakan masa bermain anak, di mana mereka sebenarnya berada dalam tahap perkembangan psikomotorik kasar yang melatih keseimbangan, konsentrasi, serta koordinasi tubuhnya.

Selain itu, pola pikir anak usia dini belum dalam tahapan menginginkan sekolah. “Mungkin anak-anak usia dini akan berkata, ‘Ma, aku ingin sekolah’, tapi sebenarnya mereka hanya sekadar mengatakan dan belum memahami apa itu sekolah,” ujar Shinta, Kamis (26/3).

Karena itu, Shinta mengatakan bahwa tidak ada ciri-ciri yang pasti untuk melihat bahwa anak kita sudah perlu untuk disekolahkan. “Bukan tergantung usia anak, tapi tergantung kita sebagai orang tua ingin mempersiapkan anak kita seperti apa,” lanjutnya.

Menurut Shinta, bisa jadi ayah dan ibu menyekolahkan anak di usia dini karena ingin melatih kedisiplinannya untuk bangun pagi atau melatihnya bersosialisasi dengan teman sebaya, sebelum ia cukup usia untuk masuk TK. “Kembali lagi, tergantung tujuan orang tua,” jelasnya.
Sumber  http://gayahidup.republika.co.id/berita/gaya-hidup/parenting/15/03/26/nlsvyi-usia-berapa-anak-siap-untuk-sekolah

Rabu, 11 Maret 2015

Empat Langkah Mendidik Anak Berjiwa Sportif

TRIBUNNEWS.COM -Si kecil begitu aktif mengikuti banyak pertandingan olahraga di sekolah termasuk kompetisi kecerdasan.
Dalam suatu kompetisi, pasti ada kemenangan dan kekalahan. Untuk sebagian anak-anak, banyak belum bisa menerima kekalahan dengan cara yang bijak dan lapang dada. Tak sedikit yang merespon kekalahan dengan tangisan, mengamuk, dan sebagainya.
Di sinilah tugas orangtua untuk mengajarkan dan memberikan pengertian soal jiwa sportifitas pada sang buah hati. Seperti uraian berikut ini:
Berikan contoh yang baik
Ketika menonton sebuah pertandingan, jangan pernah menghina tim lawan. Cara ini mengajarkan anak bahwa menghina dan menyudutkan orang lain adalah hal yang lumrah. Sebaliknya, berikan tanggapan positif tentang tim lawan di depan anak Anda.
Berikan aturan dasar sportivitas
Orang yang paling bertanggung jawab untuk mengajarkan anak tentang sportivitas dan berjiwa lapang dada adalah orangtua.
Biarkan anak Anda tahu ekspektasi Anda mengenai cara memperlakukan lawan. Yakinkan anak Anda untuk tidak mengikuti teman-temannya yang mengejek tim lawan yang kalah.
Fokus pada pertandingan, bukan pada hasil
Ajarkan anak untuk fokus kepada pertandingan yang adil dan kerjasama tim. Jangan ajarkan anak untuk terobsesi dengan kemenangan semata.
Sebab, jika Anda mengajarkan anak untuk fokus pada hasil, maka saat dewasa dia akan memakai segala cara untuk memperoleh apapun yang mereka mau, tanpa mempertimbangkan dampak buruk dan baik.
Berikan anak pengertian kalah
Ketika anak kalah, jangan kelihatan bersedih, kecewa atau marah. Berikan dia dukungan dan semangat serta pengertian tentang kalah yang terhormat.
Ajarkan anak untuk memberikan selamat dan menghargai perjuangan tim lawan. Kemudian, bantu anak mengevaluasi pertandingan dengan mempelajari kesalahannya dan kekurangan si kecil.
Tularkan pengertian pada anak bahwa kalah adalah sebuah kondisi wajar dalam kehidupan. Sebab, berangkat dari kesalahan seseorang akan termotivasi dan menghargai sebuah kemenangan.
sumber  http://www.tribunnews.com/lifestyle/2015/03/11/empat-langkah-mendidik-anak-berjiwa-sportif?page=2

Jumat, 30 Januari 2015

Cegah Anak Menggunakan Kata Kasar dengan Cara Ini

Thursday, 29 January 2015, 17:30 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Balita cepat sekali belajar. Semua tindakan dan kebiasaan yang mereka lakukan bisa jadi karena terpengaruh dari lingkungan sekitarnya.
Jika anak bicara menggunakan kata yang kasar atau jorok, jangan dulu dimarahi. Tugas Anda sebagai orang tua adalah mengarahkannya kepada hal yang benar. Seperti dikutip dari www.parentsindonesia.com, nilah cara mencegah anak menggunakan kata kasar.

Berhenti menggunakan kata-kata kasar
Jangan gunakan kata-kata kasar atau jorok di depan balita. Ingat balita menganggap Anda sebagai panutan mereka. Mereka akan mengamati, mendengarkan, dan melakukan semua tingkah laku Anda.

Jika ingin balita Anda berhenti menggunakan kata-kata kasar, Anda harus menjadi contoh yang sempurna bagi mereka.

Perhatikan apa yang mereka tonton
Batasi anak Anda saat acara TV atau program lain yang menggunakan bahasa kasar. Balita percaya semua yang mereka lihat dan dengar.

Media visual memunyai dampak yang parah. Anak Anda mungkin belajar menggunakan kata-kata kasar dari televisi.

Kenali teman-teman mereka. Anda harus mengenal teman-teman anak Anda dan cara mereka berbicara. Jika teman anak Anda  menggunakan kata-kata kasar, dia akan berpikir bahwa kata-kata kasar teman mereka bisa diterima siapa saja. Ajarkan anak Anda untuk mengikuti apa yang benar.

Biarkan anak tahu mengapa kata itu 'buruk'
Cobalah untuk menjelaskan pada anak Anda bahwa kata yang biasa dia gunakan tidak baik, dan tidak boleh digunakan. Jelaskan kepada anak Anda mengapa menggunakan kata yang kasar tidak dapat diterima di rumah dan di masyarakat.

Biarkan mereka memahami dengan jelas bahwa berbicara dengan benar akan membuat mereka diterima di mana saja.

Gunakan kata-kata yang tepat
Karena bahasa adalah hal baru untuk anak, mereka mungkin bingung antara kata yang baik dan yang buruk. Saat di rumah sebaiknya hanya menggunakan kata-kata yang tepat, sehingga anak Anda akan mengerti mana yang harus diikuti.
sumber : http://gayahidup.republika.co.id/berita/gaya-hidup/parenting/15/01/29/nixp6m-cegah-anak-menggunakan-kata-kasar-dengan-cara-ini

Rabu, 14 Januari 2015

10 Pola Asuh Untuk Anak Cerdas

Kecerdasan anak hingga besar nanti dipengaruhi faktor lingkungan dan pola asuh yang diterimanya. Harus bagaimana agar ia tumbuh cerdas? Perhatikan 10 hal ini.
  1. Bebaskan anak mengeksplorasi lingkungan. Lingkungan menjadi sarana luas bagi anak untuk belajar tentang berbagai macam hal. Eksplorasi di alam memicu anak aktif bergerak juga meningkatkan rasa ingin tahu anak terhadap berbagai aspek kehidupan. Dorong anak mengeksplorasi lingkungan yang baru dikenalnya –misalnya sambil menyusuri sungai, ia belajar tentang sifat air yang mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah.  
  2. Ikuti minat anak. Untuk menggali potensi luar biasa di dalam diri anak, beri dukungan penuh pada bidang-bidang yang disukai anak, kalau perlu ikut berlatih dan menjadi teman berlatih yang menyenangkan untuknya.
  3. Tuturkan pengetahuan tentang dunia dan isinya. Berikan anak fasilitas dan kesempatan untuk mengenal dunia beserta seluruh aspek kehidupan. Ini membuat anak berpandangan terbuka terhadap berbagai berbagai hal ‘baru’ sesuai perkembangan ilmu pengetahuan.
  4. Bacakan aneka buku pengetahuan secara rutin dengan suara yang keras dan intonasi yang benar. Selain menumbuhkan minat membaca anak, anak juga akan menyerap pengetahuan dari buku untuk menunjang minatnya. Kebiasaan membaca buku juga menanamkan ikatan batin antara Anda dan si kecil.
  5. Jadilah model yang baik. Anak akan meniru orang tuanya. Maka, orangtua wajib menjadi role model atau panutan terbaik bagi anak –dalam seluruh aspek kehidupan sehari-hari. Tunjukkan minat Anda untuk selalu belajar dan menemukan hal-hal baru yang menarik dan kreatif bersama anak. Tunjukkan dan terapkan pola hidup sehat. Tunjukkan pula sikap menghargai serta empati kepada setiap anggota keluarga, orang lain, serta mahkluk hidup lain.
  6. Seringlah bertanya kepada anak. Ajukan beberapa pertanyaan kepada anak yang akan memancingnya untuk memberi jawaban berupa penjelasan yang juga merangsangnya untuk adu argumentasi. Atau ajak dia berdiskusi. Anda dapat memulainya dengan menanyakan secara rinci seputar hal-hal yang ia minati atau yang sedang dilakukannya. Selanjutnya, kembangkan untuk menggali jawaban dan pendapat anak terhadap berbagai hal.   
  7. Beri kesempatan mengambil keputusan. Membiasakan anak untuk mengambil keputusan akan melatih anak untuk belajar sebab-akibat serta tanggung jawab. Melatih anak untuk mengambil keputusan juga akan memicu anak untuk belajar berpikir analitis dengan merangkaikan hal-hal yang sudah dipelajari dan dipahaminya.
  8. Tingkatkan kesempatan bersosialisasi. Semua pengalaman emosional yang diperoleh anak akan mempengaruhi pembentukan jalinan antar sel-sel saraf pada otaknya. Anak butuh kesempatan bersosialisasi seluas-luasnya karena akan memperkaya pengalaman emosional anak, serta sarana untuk belajar mengekspresikan perasaannya. Semakin baik kecerdasan emosional anak, semakin baik pula penyampaian rangsang antar sel-sel saraf pada otaknya.
  9. Cukupi kebutuhan gizinya. Nutrisi untuk otak, terutama DHA, terbukti berperan dalam perkembangan otak anak pada “periode emas”. Berikan konsumsi jenis makanan kelompok brain food, misalnya makanan sumber protein, untuk meningkatkan kemampuan berkonsentrasi, berpikir dan kewaspadaan.
  10. Jaga kesehatan anak. Olahraga atau latihan fisik tidak hanya membuat tubuh anak sehat, tapi juga membuat dia cerdas! Sebab, selain sirkulasi oksigen, gula dan zat gizi menjadi lancar ke seluruh tubuh dan otak, juga akan memicu produksi hormon untuk sel saraf (nerve growth factor). Dengan tubuh sehat, anak memiliki kesempatan luas untuk belajar berbagai hal, serta mengeksplorasi potensi kecerdasan dalam dirinya dengan optimal. Sumber dari : http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/balita/psikologi/10.pola.asuh.untuk.anak.cerdas/001/007/1080/1/1 

Rabu, 13 Agustus 2014

Kesadaran Masyarakat Laporkan Kasus Kekerasan Anak Masih Rendah

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sampai saat ini kesadaran masyarakat maupun petugas kesehatan melaporkan kejadian kekerasan terhadap anak masih rendah. Padahal Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan Permenkes nomor 68/2013 tentang kewajiban pemberi layanan kesehatan untuk memberikan informasi apabila ada dugaan kekerasan terhadap anak.
"Semua pihak berperan dalam mencegah, melaporkan kejadian untuk cegah terjadinya kekerasan yang berkelanjutan," kata Dirjen Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kementerian Kesehatan RI, Anung Sugihantono saat seminar Dampak Kekerasan terhadap Tumbuh Kembang Anak di Jakarta, Selasa (12/8/2014).
Kekerasan terhadap anak akan berdampak pada fisik, psikologis, sosial dan fungsi kognitif yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangannya.
"Gangguan pada salah satu proses tahapan tumbuh kembang anak akan mempengaruhi proses tumbuh kembang anak selanjutnya, bahkan menurunkan kualitas hidup anak," katanya.
Laporan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) triwulan keempat yang dilaporkan ke Presiden menyebutkan tahun 2013 terdapat  1050 anak yang jadi korban kekerasan dan 436 mengalami kekerasan seksual.
Tahun 2013, terdapat 15 anak per bulan sebagai pelaku kekerasan sensual yang harus berhadapan dengan hukum.
Sumber : https://id.she.yahoo.com/kesadaran-masyarakat-laporkan-kasus-kekerasan-anak-masih-rendah-062421086.html

Selasa, 12 Agustus 2014

Peran Bunda Pada Tumbuh Kembang Anak


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Bunda tidak hanya berperan dalam menjaga, memperhatikan tumbuh kembang anak, tapi juga mampu mempengaruhi perilaku suami.
"Salah satunya, Ibu mampu mempengaruhi perilaku suami. Seperti meminta suami berhenti  merokok, uangnya  untuk tumbuh kembang anak," kata Dirjen Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak dr Anung Sugihantono saat pembukaan seminar Peran Keluarga dalam Optimalisasi Tumbuh Kembang Anak di Jakarta, Selasa (12/8/2014).
Untuk optimalisasi tumbuh kembang, Kementerian Kesehatan akan terus mengupayakan pencapaiannya. Salah satunya UU Kesehatan pasal 128 menyatakan, tiap bayi berhak mendapatkan air susu ibu eksklusif.
Pihak keluarga, pemerintah pusat, pemerintah daerah dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilutas khusus.
Meningkatkan tumbuh kembang anak tidak hanya menjadi tanggungjawab lembaga pemerintah, namun juga lembaga non pemerintah seperti lembaga pendidikan atau  akademisi.
"Ini bertujuan meningkatkan pemahaman tumbuh kembang anak di lingkungan  rumah tangga," katanya.
Anung mengingatkan orangtua jangan beranggapan anak adalah  akibat dari perkawinan, tapi tujuan dari perkawinan.
"Dengan demikian, tumbuh kembangnya sejak semasa kehamilan sampai kelahiran harus mendapatkan perhatian," katanya.
Sumber : https://id.she.yahoo.com/peran-bunda-pada-tumbuh-kembang-anak-050700873.html